3.18.2009

Liliane Bettencourt, Wanita Terkaya di Prancis dan Pewaris L'Oreal (2)

KONTAN, INTERNASIONAL, FENOMENA

Fitri Nur Arifenie

Liliane Bettencourt mewarisi kepandaian dan kemampuan berbisnis ayahnya. Di tangan Liliane, L'Oreal berkembang dengan pesat. Pundi-pundi pendapatan perusahaan yang didirikan oleh ayahnya ini terus berkembang dan mendunia. Selain itu, di bawah kepemimpinan Liliane, L'Oreal juga memperluas pangsa pasarnya. Caranya, L'Oreal melakukan beberapa aksi akuisisi strategis, termasuk dengan mengakuisisi waralaba toko kosmetik terkenal, Body Shop.

LILIANE Bettencourt membuktikan bahwa dia memegang posisi puncak di L'Oreal bukan cuma karena dia anak pendiri perusahaan kosmetik tersebut. Liliane membuktikan bahwa dirinya memang mampu dan pantas menjadi petinggi di L'Oreal.

Terbukti, di bawah kepemimpinannya, pemasaran L'Oreal berkembang ke seluruh dunia. Kini, L'Oreal menguasai 49% pangsa pasar kosmetik Eropa, serta menguasai 23% pangsa pasar kosmetik di Amerika Serikat (AS) dan Kanada.

Selain melebarkan penjualan, Liliane juga terus mengembangkan produk L'Oreal. L'Oreal memiliki beberapa jenis produk, seperti produk perawatan kulit, perawatan rambut, pewarna rambut, make-up dan produk styling. Bahkan L'Oreal juga merambah produk parfum dan produk perawatan kulit (dermatologi).

Era 1980-an, L'Oreal merupakan industri manufaktur paling besar di Prancis. Di masa inilah, Liliane mengambil langkah penting bagi pengembangan perusahaannya. Di 1984, L'Oreal membeli divisi kosmetik Warner Communications, yaitu Warner Cosmetics. Perusahaan kosmetik ini antara lain memegang merek Gloria Vanderbilt dan Ralph Lauren.

Ekspansi Grup L'Oreal terus berlanjut. Pada Maret 2006, L'Oreal membeli toko waralaba kosmetik terbesar kedua di dunia, yakni Body Shop. Nilai akuisisi tersebut sebesar € 652 juta. Pembelian Body Shop ini semakin melebarkan sayap L'Oreal untuk menjadikannya industri kosmetik yang nomor satu di dunia.

Liliane juga mulai menyasar pasar kosmetik di India. Di negeri Sungai Gangga ini, Liliane memasarkan produk kosmetik yang ramah lingkungan. Hal ini sesuai dengan kecenderungan pasar kosmetik dunia yang kini mulai memasyarakatkan konsep kembali ke alam (back to nature).

Dari India, L'Oreal lantas mengembangkan produk kosmetik alami itu ke seluruh dunia, terutama ke Eropa dan Amerika. Mujur, konsumen di kedua kawasan tersebut mulai beralih dari produk kosmetik dengan bahan kimia ke kosmetik dengan bahan alami.

Kepemimpinan Liliane berhasil membuat pundi-pundi penghasilan L'Oreal makin gendut. Pada 2001, L'oreal mampu mencetak pendapatan sebesar € 1,2 miliar. Empat tahun kemudian, laba bersihnya sudah naik menjadi € 1,9 miliar, melebihi total pendapatan pada tahun 2001. Pertumbuhan tersebut terus berlanjut. Tahun lalu, pendapatan L'Oreal berhasil menembus angka € 15,8 miliar euro, atau naik sekitar 9,5% dari
tahun sebelumnya.

Liliane memang sukses membawa L'Oreal ke puncak keberhasilan. Liliane berbagi rahasia bahwa strategi kesuksesan L'Oreal simpel saja. Pertama, dia menegaskan L'Oreal selalu berkomitmen penuh pada penelitian dan pengembangan produk baru.

Kedua, L'Oreal selalu mengedepankan inovasi dan kualitas. Ketiga, L'Oreal hanya menciptakan produk-produk yang orisinal. Keempat, Liliane menekankan perusahaan menghargai karyawan dan memberikan penghargaan bagi karyawan terbaik.

Di antara itu semua, yang paling penting dalam pengembangan L'Oreal adalah peningkatan teknologi dan inovasi. Melalui riset, L'Oreal telah berhasil mematenkan sekitar 500 unit produknya. L'Oreal juga mengembangkan 110 formula dasar kosmetik lebih dari 35 tahun.

Liliane tidak hanya berinovasi di produk. Dia juga berinovasi di bidangpemasaran dan distribusi. Untuk mereka yang gemar berbelanja di pasar swalayan, L'Oreal menyediakan produk bermerek Garnier dan Gemey. Sedangkan mereka yang lebih senang membeli kosmetik di apotek, bisa membeli Vichy.

3.17.2009

Liliane Bettencourt, Wanita Terkaya di Prancis dan Pewaris L'Oreal (1)

KONTAN, Internasional, Fenomena

Fitri Nur Arifenie

Siapa pun tak menyangkal Liliane Bettencourt adalah orang beruntung. Liliane lahir sebagai anak tunggal pemilik kerajaan bisnis L'Oreal, Eugene Schueller. Otomatis, ketika orang tuanya meninggal dunia, Liliane menjadi penguasa L'Oreal dan mendapatkan seluruh warisan keluarganya. Tapi Liliane bisa membuktikan dia bukan hanya kaya berkat warisan. Liliane bahkan sukses mengembangkan perusahaan kosmetik tersebut menjadi perusahaan kelas dunia.

PERNAH mendengar nama Liliane Bettencourt? Kalau belum, Liliane adalah wanita terkaya di Prancis. Dia juga adalah orang terkaya kedua di Prancis, setelah Bernard Arnault. Liliane juga pemegang saham utama di perusahaan kosmetik L'Oreal. Maklum, Liliane adalah anak dari Eugene Schueller, pendiri L'Oreal.

Berdasarkan data terbaru Forbes, saat ini Liliane menempati posisi ke-21 dalam daftar orang terkaya di dunia. Jumlah kekayaan Liliane mencapai US$ 13,4 miliar. Sebagian besar kekayaannya berasal dari perusahaan warisanayahnya, yaitu L'Oreal.

Liliane Bettencourt terlahir dengan nama Liliane Henriette Charlotte Schueller. Anak tunggal Eugene Schueller ini lahir di Paris, Prancis, pada 21 Oktober 1922. Sewaktu berumur lima tahun, ibunya yang bernama Louis Madeline Berthe Doncieux meninggal dunia, tepatnya pada 27 Oktober 1927.

Sejak saat itu, Liliane hanya hidup berdua dengan ayahnya. Kematian ibunya membekas begitu dalam bagi Liliane. Dia pun menjadi pribadi yang tertutup. Apalagi, sang ayah terlalu ketat mengawasi Liliane.

Tidak banyak informasi mengenai kehidupan masa kecil Liliane. Yang jelas, ayahnya seolah-olah sudah mendesain Liliane agar menjadi penerus kerajaan bisnis kosmetik L'Oreal.

Sedikit soal L'Oreal, sejarah perusahaan kosmetik ini dimulai ketika seorang ahli kimia muda bernama Eugene Schueller berhasil membuat formula pewarna rambut yang inovatif, yang ia namakan Aureole. Schueller lantas mendirikan perusahaan Societe Franncaise de Teentures Inoffensives pour Cheveux pada 1909. Perusahaan itu kemudian berganti nama menjadi L’Oreal.

Liliane bergabung di L'Oreal pada 1937 sebagai karyawan magang. Liliane harus merasakan berbagai jabatan, sebelum akhirnya menjadi pemimpin L'Oreal.
Pada 1993, ayah Liliane meninggal. Sebagai anak tunggal, otomatis Liliane langsung mewarisi seluruh harta dan perusahaan ayahnya.

Saat itu, L'Oreal sudah menjadi salah satu perusahaan kosmetik ternama di dunia. Sejak saat itu, Liliane menjadi pemegang saham utama di L'Oreal. Liliane menguasai 27,5% saham perusahaan ini. Sementara 26,4% aham lainnya dikuasai oleh Nestle dan sebanyak 46,1% dikuasai oleh publik. Liliane berusaha menambah kepemilikan saham.

Hingga akhirnya, dia menguasai 32% saham, Nestle 30%, dan sisanya adalah publik.
Meskipun, Liliane mendapatkan kekayaan dari warisan, dia memiliki kemampuan untuk mempertahankan bahkan mengembangkan perusahaannya. Maklum, keluarga Schueller masih menganut pola pikir keluarga bangsawan Eropa kuno.

Liliane dibesarkan bagai perempuan dalam keluarga kerajaan. Dia harus mempelajari keterampilan negoisasi, kecerdasan politik, dan kecerdasan tata krama. Hal tersebut membantu Liliane mengembangkan bisnis yang didirikan oleh ayahnya.

Terbukti, selama lebih dari lima dekade di bawah kepemimpinan Liliane, L'Oreal terus memperbesar pangsa pasarnya. L'Oreal juga berkembang dan menembus pasar global. Saat ini, produk L'Oreal tersebar di 130 negara, dengan total karyawan 63.000 orang. Padahal, awalnya L'Oreal hanya tersebar di 17 negara.

Saat ini, L'Oreal memiliki lima pusat penelitian dan pengembangan produk, dua di Prancis, serta satu di AS, Jepang, dan Cina. Kelima pusat penelitian itu didirikan untuk menciptakan inovasi terbaru dan produk yang berkualitas unggul. (Bersambung)

3.11.2009

MPPA dan MNCN Bebas dari Chain Listing

Kontan, Investasi, 11 Maret 2009

JAKARTA. Para emiten yang masuk dalam radar chain listing Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa menarik napas lega. Mereka bisa jadi lepas dari jerat chain listing.
Sekadar mengingatkan, BEI tengah memeriksa beberapa pasang emiten terkait kasus ini. Antara lain PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dan PT Multipolar Tbk (MLPL) serta PT Global Mediacom Tbk (BMTR) dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN). "Kami tidak melihat adanya chain listing di sini," ujar Direktur Pencatatan BEI Eddy Sugito, kemarin (10/3).

Dus, MPPA dan MNCN, yang masing-masing adalah anak perusahaan MLPL dan BMTR tidak harus meninggalkan bursa.

Menurut Eddy, penilaian terhadap perusahaan yang diduga melanggar aturan chain listing tak hanya berdasarkan kontribusi pendapatannya. BEI juga harus melihat kepemilikan saham emiten itu.

Eddy mencontohkan kasus chain listing PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX). APEX harus delisting dari bursa karena pendapatannya memberi kontribusi besar dalam kinerja induk perusahaannya, PT Mitra International Resources Tbk (MIRA). Selain itu, "Kalau kasus APEX, MIRA memiliki saham hampir di atas 90%," terang Eddy.

Selain itu, menurut Eddy, BEI tidak hanya melihat kontribusi pendapatan anak perusahaan terhadap induk usahanya pada satu waktu saja, tapi juga dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab, bisa jadi di satu tahun bisnis, anak usaha lebih bagus ketimbang bisnis induknya. Demikian juga bisa sebaliknya.

Direktur Utama BEI Erry Firmansyah menegaskan, aturan chain listing berlaku bagi emiten yang proses akuisisinya terjadi setelah 2004, yaitu setelah bursa menerbitkan aturan soal chain listing tersebut. "Aturan chain listing kan terbit 2004, sementara akuisisi Multipolar dan Matahari terjadi di 1997," tandas Erry yang pernah lama berkarier di Grup Lippo itu.

Erry bilang, aturan chain listing ini tidak berlaku surut. "Kalaupun ada faktor chain listing, emiten itu tidak bisa ditindak," tandasnya.

Fitri Nur Arifenie

3.09.2009

BYAN Bakal Menggenjot Omzet

KONTAN, Investasi, 06 Maret 2009

JAKARTA. Tahun ini, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) bakal makin rakus mengeduk batubara. Perusahaan tambang batubara ini menargetkan penjualan batubara tahun ini naik 49% menjadi 10 juta metrik ton (Mt).

Pada 2008, perkiraan penjualan batubara BYAN sekitar 6,7 juta Mt. Nah, BYAN mengekspor sebagian besar batubara ke kawasan Eropa, India, Jepang, Taiwan serta Korea Selatan.

Perusahaan yang melantai di bursa sejak Agustus 2008 ini menargetkan produksi batubara juga naik menjadi 9,5 juta Mt, naik sekitar 56% ketimbang perkiraan total produksi pada 2008 yang hanya sekitar 6,1 juta Mt. "Kami merencanakan untuk meningkatkan produksi tiap tahunnya," ujar Sekretaris Korporat Jenny Quantero, kemarin (5/3).

BYAN memang harus menggenjot produksi dan penjualannya, guna mengurangi dampak penurunan harga batubara tahun ini. Sekadar perbandingan, tahun lalu harga rata-rata batubara mencapai US$ 75 per metrik ton. "Harga jual rata-rata batubara pada 2009 antara US$ 60 sampai US$ 65 per metrik ton," papar Jenny.

BYAN juga menargetkan pendapatannya selama tahun ini naik sekitar 30% hingga 45% dari 2008. Jenny mengharapkan, perusahaan yang dulunya adalah kontraktor pertambangan ini bisa meraih ?Rp 6 triliun - Rp 6,5 triliun.

Jenny memperkirakan sepanjang 2008, BYAN memperoleh omzet sebesar Rp 4,5 triliun - Rp 5 triliun. Pada 2007, total pendapatan BYAN hanya mencapai Rp 3,4 triliun. Jadi, ada kenaikan pendapatan sekitar 32% - 47% di 2008.

Untuk laba kotor, di 2008 Jenny memperkirakan laba kotor BYAN mencapai Rp 800 miliar. Nah, di 2009, Jenny berharap ada kenaikan dua kali lipat, jadi Rp 2 triliun.

Fitri Nur Arifenie

E-capital Borong APEX Rp 2.875 per Saham

KONTAN, Investasi, 06 Maret 2009

JAKARTA. PT Mitra International Tbk (MIRA) benar-benar akan menarik mengosongkan seluruh saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) yang beredar di bursa. Itu bagian rencana APEX hengkang atau delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). APEX menawarkan harga Rp 2.875 per saham untuk pemegang saham publik.

Per 31 Januari 2009, MIRA menguasai 98,13% atau 2,6 miliar saham APEX. Pemilik saham lain, PT Hertech Kharisma sebesar 1,61% atau 42,8 juta saham. Publik hanya memiliki 0,26% atau 7,1 juta saham APEX. "Jumlah pemegang saham publik tak sampai 80 orang," kata Wakil Direktur Utama APEX Tito Sulistio, kemarin (5/3).

Tito bilang, MIRA tidak akan membeli saham APEX milik publik. Ada calon pembeli yang siap memborong saham APEX itu. "Pembelinya PT E-capital Securities, dan dia nanti jadi pemegang saham APEX." kata Tito. E-capital hanya membeli saham dari publik dan tak akan memborong saham milik Hertech.

E-capital akan membeli sisa saham APEX yang beredar di publik pada pertengahan tahun ini. "Tapi tergantung juga dari persetujuan resmi delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI)," imbuh Tito. Hitung punya hitung, E-capital harus membayar Rp 20,4 miliar untuk memborong APEX, alias Rp 2.875 per saham.

Tawaran itu lebih tinggi dari harga tertinggi saham APEX selama dua tahun terakhir. Sebab, harga tertinggi adalah Rp 2.750 per saham. Harga itu juga lebih tinggi dari harga wajar yang ditentukan PT Zodiac Perintis Penilai Rp 2.200 - Rp 2.600 per saham. "Rencana pembelian saham ini sudah mendapat persetujuan pemegang saham," kata Tito.

APEX harus keluar dari lantai bursa karena tersandung aturan chain listing. Intinya, aturan itu menyebutkan suatu emiten yang dimiliki oleh emiten lain harus delisting bila menyumbang lebih dari 50% pendapatan konsolidasi emiten induknya. "Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi MIRA per kuartal ketiga 2008, APEX menyumbang 52% pendapatan MIRA," kata Ade Satari, Jurubicara Apexindo.

Fitri Nur Arifenie

BEI Menemukan Indikasi Insider Trading pada Akuisisi Indika

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menemukan indikasi insider trading dalam akuisisi PT Indika Energy Tbk (INDY) terhadap PT Petrosea Tbk (PTRO). BEI menduga kabar mengenai akuisisi tersebut telah lebih dulu bocor ke pasar sebelum INDY melaporkan rencananya kepada otoritas bursa.

Akibatnya harga saham PTRO langsung melejit luar biasa. "Kalau melihat dari kenaikan harga yang luar biasa, ada indikasi insider trading, karena ada pihak-pihak yang tahu lebih dulu ketimbang publik," jelas Direktur Pencatatan BEI Eddy Sugito di Jakarta, kemarin (4/3).

Eddy menjelaskan, INDY baru menyampaikan rencana tentang akuisisi itu pada 16 Februari 2009. Namun antara 9 Februari-16 Februari 2009, harga saham PTRO sudah naik secara tidak wajar.Pada 9 Februari, harga PTRO masih di Rp 3.700 per saham. Dalam waktu seminggu, harga PTRO naik 71,62% menjadi Rp 6.350 per saham.

Volume transaksi juga mencapai 1,09 juta saham. Alhasil, BEI sempat menghentikan sementara (suspend) aktivitas perdagangan saham PTRO pada 17 Februari. Tapi suspend itu dicabut kembali sehari setelahnya. Sampai kemarin, harga saham PTRO sudah mencapai Rp 10.150 per saham.

BEI menegaskan akan memeriksa pihak-pihak yang terlibat proses akuisisi tersebut. Tapi, Eddy mengatakan pemeriksaan tersebut masih harus menunggu hasil pemeriksaan awal yang dilakukan tim pengawas.

Eddy masih belum berani memastikan siapa yang paling mungkin melakukan insider trading tersebut. "Pihak yang terlibat bisa macam-macam, bisa emiten itu sendiri, bisa juga konsultan," terang Eddy.

Eddy juga tidak berani menargetkan sampai kapan pemeriksaan transaksi itu akan berlangsung. Yang jelas, menurutnya, BEI akan menuntaskan kasus tersebut secepatnya. Setelah BEI menuntaskan pemeriksaan, BEI akan melimpahkan kasus tersebut kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).

Manajemen PTRO membantah telah membocorkan informasi tentang rencana akuisisi INDY yang berpotensi menimbulkan insider trading. Presiden Direktur PTRO Micky Hehuwat mengatakan, Manajemen PTRO tidak tahu menahu tentang adanya kebocoran transaksi. "Kami sudah memberikan kejelasan informasi tentang transaksi itu hanya kepada BEI," bantah Micky.

Walaupun akuisisi INDY terhadap PTRO ini masih diselidiki, proses akuisisi tersebut tetap berjalan. Menurut Micky, saat ini INDY dan PTRO masih dalam tahap melakukan uji kelayakan alias due dilligence.

Kedua perusahaan tersebut menargetkan proses due dilligence tersebut bisa selesai pada akhir Maret ini. Keduanya juga berharap proses akuisisi ini bisa rampung secara keseluruhan pada bulan Mei, atau paling lambat di pertengahan 2009.

Fitri Nur Arifenie

Pasar Obligasi Korporasi Mulai Membaik

KONTAN, Investasi, 26 Februari 2009

JAKARTA. Pasar obligasi korporasi mulai bergairah. Sampai saat ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menerima permohonan penerbitan obligasi senilai Rp 1,9 triliun.
Semua obligasi tersebut bakal terbit di semester satu 2009. BEI pun optimistis target penerbitan obligasi sepanjang 2009 sebesar Rp 10 triliun hingga Rp 15 triliun bakal tercapai. "Kami berharap penjualan obligasi bisa meningkat pada semester dua 2009," ujar Direktur Fixed Income, Derivatif, Keanggotaan, dan Partisipan BEI Guntur Pasaribu, kemarin (25/02).

Guntur bilang, ada empat perusahaan yang sudah mendaftarkan penerbitan obligasi mereka. Di antaranya adalah PT Danareksa (Persero) yang akan melego obligasi Rp 300 miliar. Perusahaan sekuritas milik negara ini akan menggunakan dana obligasi itu untuk menambah modalnya.

Setelah itu, ada PT Astra Sedaya Finance yang berniat menerbitkan obligasi sebesar Rp 600 miliar. Dananya akan digunakan untuk meningkatkan pembiayaan otomotif.
Berikutnya, ada PT Indomobil Finance Indonesia yang akan menerbitkan obligasi senilai Rp 500 miliar. Indomobil akan memakai dana itu untuk modal kerja, pembiayaan konsumen, dan pembiayaan kembali pinjaman bank.

Selanjutnya, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) akan menjual obligasi Rp 500 miliar. Perusahaan ritel ini berniat menggunakan duit obligasi untuk membayar utangnya atau refinancing.

Berkah bunga turun

Guntur yakin penerbitan obligasi korporasi akan makin marak, terutama pada semester ke dua 2009. Alasannya, BI Rate yang kini telah 8,25 % masih bisa turun lagi.
Head of Debt Capital Market BNI Securities Sukartono mengatakan, tren suku bunga yang menurun ini membuat korporasi punya kesempatan mendapatkan pembiayaan dengan lebih murah. "Apalagi kalau emiten blue chips," timpal Sukartono.

Selain itu, emiten cenderung memilih menerbitkan obligasi untuk mencari pendanaan, ketimbang memakai instrumen lainnya. Apalagi, saat ini masih banyak perusahaan yang kesulitan mencari pinjaman dari perbankan.

Padahal, banyak obligasi perusahaan yang akan jatuh tempo tahun ini. "Nilai obligasi yang jatuh tempo tahun ini sebesar Rp 10 triliun sampai Rp 11 triliun," papar Presiden Direktur Fitch Ratings Indonesia Baradita Katoppo.

Tapi, Baradita enggan berspekulasi apakah pasar bakal menyerap obligasi tersebut. Menurutnya, minat pasar akan tergantung pada imbal hasil alias yield yang ditawarkan penerbit obligasi. Selain itu, investor tentu akan melihat tingkat risiko obligasi tersebut, serta kemampuan emiten memenuhi ongkos pendanaan untuk membayar imbal hasil.

Tapi, Sukartono cukup yakin penyerapan obligasi di pasar akan membaik. Maklum saja, ada indikasi saat ini di pasar terjadi kelebihan likuiditas. Ia mencontohkan hasil penerbitan sukuk ritel yang permintaannya berlebih.

Sukartono pun menilai, target penerbitan obligasi korporasi tahun ini versi BEI yang sebesar Rp 10 triliun hingga Rp 15 triliun masih bisa tercapai. "Siapa tahu nanti pertengahan tahun banyak yang menerbitkan," imbuhnya.

Fitri Nur Arifenie, Wahyu Tri Rahmawati