3.13.2010

KBUMN

Menyambung cerita teman baik saya yang suka sekali buah strawberry, di KBUMN saya banyak belajar. Mulai dari ilmu, kesederhanaan, dan kelucuan. Pertama kali menginjakkan kaki di KBUMN, sembilan bulan lalu menurut saya pos ini sungguh tidak asyik. Karena ketika itu saya hanya menyetor satu berita. Itupun bukan untuk desk saya melainkan desk investasi.

Banyak hal sebenarnya tentang BUMN yang bisa dipelajari. BUMN itu bisa maju seandainya BUMN itu benar-benar menerapkan GCG. Sumber Daya Manusia diperbaiki dan tak ada lagi KKN. Karenha saya menyadari bahwa KBUMN itu masih banyak raja-raja kecil yang ingin menyalahgunakan uang rakyat dari hasil pajak.

Ketika saya bertugas untuk pertama kalinya, menterinya masih dipegang oleh Sofyan Djalil. Kami biasa memanggilnya dengan sebutan nama babe. Sebutan akrab kami yang biasa kami gunakan khusus untuk dia. Memang, babe itu orangnya sederhana dan oke dalam menjawab sehingga tiap kali omongannya bisa menjadi lit berita. Tapi diantara sikapnya, yang saya kagumi adalah senyuman dan keramahannya. Ia selalu bersikap senyum kepada siapa saja tak terkecuali wartawan.

Semua orang yang ngepos di BUMN, mungkin merasa kehilangan ketika SBY tidak lagi mempercayakan kedudukan menteri BUMN padanya. Sayang, padahal dengan BUMN dipegangnya, BUMN makin lama menuju ke arah yang baik. Yah, siapapun penggantinya, kami berharap kinerjanya lebih bagus daripada babe supaya BUMN itu maju, tak lagi ada BUMN rugi.

Saya ingat terakhir kali ketika babe untuk terakhir kalinya ngantor di KBUMN, dia sempat mampir menengok presrum dan menangkap basah teman-teman yang sedang asyik merokok. Kemudian, kami mengantarkan babe ke mobilnya dan tiba-tiba muncul rasa sedih. Saya ingat dengan baik, ketika itu dia sudah berjalan menuju mobil, kemudian dia berhenti karena kami memanggil dan dia berjalan ke arah kami sambil bertanya, "ada apa, apa yang mau ditanyakan?" kata dia. Saya juga ingat ketika dia membuka kaca mobilnya dan memberikan waktu kepada kami untuk wawancara dan menyuruh sopirnya supaya jangan jalan lebih dulu. Saya juga ingat ketika mengikuti RDP bersama dengan DPR hingga jam 1 malam, meski lelah, babe masih menyempatkan waktu untuk wawancara. Saya percaya, bukan karena dia narsis, tapi karena dia menghargai kami yang menunggui RDP itu hingga pagi buta.

Empat bulan kemudian, saya dirolling ke desk bisnis. Sedih rasanya karena harus meninggalkan teman-teman di BUMN. Kemudian saya ditempatkan di ESDM. Kebetulan kantor ESDM dekat dengan BUMN sehingga saya seringkali main ke BUMN. Namun, kemudian karena desk nasional tidak lagi menempatkan orang di BUMN, saya dengan inisiatif mencoba mencari berita juga. Karena di desk bisnis, saya mencari dari sudut pandang bisnis. Selama banyak BUMN belum tbk, maka banyak peluang BUMN untuk digarap.

Hal yang tak dapat dilupakan adalah bagaimana ketika kami bercanda. Salah satu cara menghilangkan stres di tengah deadline. Meski, kami berteman tapi profesional dalam berita.

Mulai dari peristiwa hilangnya sepatu hingga foto-foto jahil. Bahkan menyembunyikan sepatu dari yang muda hingga tua (mba nani) juga ikut kena getahnya. Sebenarnya, bukan saya yang mengawali foto-foto jahil. Namun, ketika untuk pertama kalinya saya mengambil foto lucu kang Syahid, saya ketagihan mengambil foto yang lainnya. Mulai dari Angga, Vega, mas Eko hingga Erna. Bahkan foto abah dan angga seolah-olah sepasang kekasih juga bisa diambil. tapi untuk foto sepasang kekasih, vega dan mas eko-lah yang menjadi pemenangnya.

Awalnya, artis solo KBUMN adalah kang Syahid tapi kemudian artis itu berpindah kepada Erna. Maaf Erna, toh foto pertama itu yang menjadikanmu artis bukan diriku yang mengambil. Hehehe.

Untuk makanan, karena kantin BUMN tutup pada sore, selepas magrib kami semua memesan makanan hoka-hoka bento. Satu paket 13ribu, cukup murah untuk sebuah menu. Tapi lama-lama bosan, menu beralih mulai dari mencoba bakmi GM yang mahalnya minta ampun (ckp sekali pesan), tony jack sarinah (yg jelas tdk akan dipesan lagi karena rasanya), Mcdonald (alternatif pengganti kfc yg lama) dan KFC. Pilihan-pun jatuh kepada KFC. Untuk menghemat, kami selalu pesan paket dengan dua ayam dan dua nasi. Erna dan saya dengan menu favorit hot black paper, Vega dengan menu apa aja kecuali original, atau Angga yang menyukai ayam original dan Abah yang menu apa aja asalkan sama dengan Angga (dari beberapa kali pesan, selalu saja abah berpasangan dengan angga).

Sejak mas mbeng-beng kehilangan sepatu kulitnya, kami-pun lebih berhati-hati dalam menjaga barang di persrum. Kemudian, ada beberapa peristiwa kejadian demo. Lebih dari sekali, persrum dijadikan tempat untuk menampung sumbang saran bahkan bang roike pernah diculik oleh pendemo tersebut (hehehe...lebay). Bahkan, karena demopun, RUPS PLN akhirnya tertunda beberapa waktu dan saya harus masuk lewat pintu masuk lain (lewat Danareksa).

Yang paling dibutuhkan saat ini adalah mba rieka. Karena dia berhasil mengusir asap-asap itu pergi dan memaksa para pria itu untuk merokok di ruangan merokok. Hanya perintah mba rieka yang dipatuhi oleh mereka. Saya teriak hingga tenggorokan putus-pun tak akan digubris oleh mereka.

Tapi, personil satu persatupun ikut berganti. Janesti yang doyan berbahasa Jawa dirolling kemudian Erna yang diganti dengan Johanna. Kemudian Direktur Kesehatan, Yohanna memutuskan keluar dari kantornya dan pindah ke perusahaan PR. Namun, bukan berarti KBUMN tidak rame, KBUMN masih rame seperti biasanya. Masih ada trio kwek-kwek yang siap meramaikan suasana. ada bang roike, kang syahid, dan angga. Kemudian masih ada abah yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba hilang dari presrum (udah kaya makhluk yang dilihat abah...hehehe). Ada juga Janeman yang datang tak diundang dan pulang tak dijemput. Semua kekonyolan itu menjadikan KBUMN bikin hidup lebih hidup.

2.12.2010

Lega

Senin (08/02), untuk pertama kalinya saya piket reksadana setelah berubah status menjadi pegawai tetap. Piket reksdana tidaklah sulit, hanya dibutuhkan kesabaran dan ketelitian. Akibatnya, saya pulang malam dan terpaksa menggunakan taxi untuk mengantar saya hingga sampai di kos karena bussway sudah tidak ada lagi.

"Selamat malam ibu, mau kemana arah tujuan kita?" tanya sopir taxi.

"Fatmawati lewat terogong, arteri jalan lurus," jawabku.

Belum lama saya menutup pintu taxi, tak lama hp saya berbunyi. Ah, ternyata ini nomor ibu saya yang menelpon. Mungkin, ibu saya ingin sekedar mengobrol ataukah ingin menanyakan kenapa smsnya tidak dibalas. Sejenak saya ragu untuk mengangkat telpon tersebut karena saya tahu kenapa topik itu akan berujung.

Namun, pada akhirnya saya menerima panggilan tersebut. Ternyata suara di seberang adalah adik bungsu saya yang masih kelas 1 SMU. Dia meminjam hp ibu saya karena pulsanya habis. Kemudian kami mengobrol. Adik saya menceritakan tentang kehidupan sekolahnya dan kesibukannya di mading sekolah. Ia juga bercerita berniat untuk mengikuti lomba mading yang diadakan deteksi, salah satu rubrik dalam koran Jawa Pos. Sebelumnya, ia memang pernah terlibat aktif dalam rubrik deteksi lewat sekolahnya.

Selama beberapa waktu, saya lega karena bukan ibu saya dan tidak ada topik tentang pernikahan. Sayang, tak lama kemudian, dia memberikan telepon itu kepada ibu saya dengan alasan ia ingin sholat isya. Ingin rasanya saya menutup sambungan telepon itu, tapi saya batalkan karena mendengarkan kegembiraan dalam nada bicara ibu saya.

Tidak banyak yang kami bicarakan, hanya pertanyaan tentang aktivitas hari ini dan alasan pulang larut malam. Yah, saya hanya katakan apa yang terjadi hari ini, bahwa saya sibuk di dpr komisi 6 sehingga tak membalas smsnya. Saya juga mengaku bahwa saya lupa dengan wajah paman saya yang katanya anggota DPR Komisi 6, dan saya tidak menemukannya. Namanya, memang ada dalam daftar nama anggota DPR Komisi 6 tapi jujur saya lupa yang mana paman saya.

Saya lega, karena obrolan sepanjang simprug hingga fatmawati tidak ada pertanyaan kapan menikah. Mungkin ibu saya sudah menyerah dengan argumen yang saya lontarkan. Saya juga lega, karena ibu saya tidak menegur karena lupa wajah paman saya. Saya sungguh lega ketika ibu saya tidak mulai mengomel ketika saya katakan saya baru saja pulang.

Tampaknya ibu saya sudah mengerti dan menerima profesi yang saya pilih. Bahkan ibu saya juga tidak memaksa saya untuk mengikuti tes CPNS. Kali ini, bukan saya yang mengibarkan bendera putih, melainkan ibu saya.

"Memaksamu juga tidak ada gunanya. Kamu keras kepala dan dari dulu kalau sudah memiliki kemauan, sulit untuk dilawan. Yang penting, ibu sudah melihat bahwa kamu bisa mempertanggungjawabkan pilihan itu. Ibu cuma bisa mendoakan semoga anak-anaknya sukses. Hati-hati dalam menjalankan semuanya, jangan lupa berdoa dan sholat lima waktu," itulah perkataan ibu saya yang sekali lagi merupakan bukti bahwa kasih sayang orang tua tak terhingga.

Mendengar itu, hati saya Lega. Lega bukan karena saya bisa memenangkan pertarungan itu tapi lebih karena apa yang saya jalani saat ini sudah mendapat restu dari orang tua. Restu yang sebelumnya sulit untuk diperoleh.

Setelah berbicara dengan ibu saya, ganti ayah saya yang ingin mengobrol. Tanpa tedeng aling-aling, ia langsung menyuruh saya untuk membawa motor karena khawatir dengan saya dalam taxi takut terkena tindak kejahatan.

"Motor dari mana? Belum mampu untuk mencicil atau membeli motor,".

Sekali lagi, ayah saya menawarkan masih ada satu motor di rumah yang tidak terlalu terpakai. Motor itu adalah motor yang saya pakai ketika kuliah. Dan sekali lagi saya menolak bantuan dari ayah saya. Karena saya sudah bisa hidup mandiri dan berusaha sebisa mungkin tidak menerima subsidi oleh orang tua dalam bentuk apapun. Malu dong, sudah memiliki penghasilan tetapi masih bergantung dan memanfaatkan fasilitas yang diberikan orang tua.

Lama kami berdebat tentang motor. Ayah saya memberikan kelebihan menggunakan motor ketimbang angkutan umum. Memang saya akui, lebih enak menggunakan motor tapi ini persoalan prinsip. Saya katakan kepada ayah saya bahwa, prinsip saya untuk hidup mandiri. Lagipula motor belum naik statusnya menjadi kebutuhan primer saya. Bukannya saya sombong dan tidak mau menerima pemberian orang tua, tetapi saya sudah pernah merasakan nikmatnya fasilitas-fasilitas yang diberikan orang tua saya semasa saya kuliah. Kini, saatnya saya untuk hidup mandiri.

Kemudian saya mengganti pembicaraan dengan topik PLN. Dan pengalihan itu berhasil. Saya lega karena tidak ada perdebatan dan ribut soal motor. Saya lega ketika ayah saya tidak mengungkit-ungkit tentang motor itu dan mengkaitkannya dengan pulang larut malam.

Hari itu, benar-benar hari yang melegakan untuk saya. Lega, karena pada akhirnya, keluarga saya mendukung dengan apa yang saya jalani. Lega, karena pada akhirnya saya membuktikan kepada orang tua saya bahwa saya juga bisa mengambil jalan saya sendiri walaupun bertentangan dengan kedua orang tua. Dan lega, karena orang tua saya sudah memaafkan jiwa pemberontak saya.

Sejak SMA saya sudah melawan arus dengan orang tua. Ketika SMA, saya sengaja memilih IPS dan bukan IPA sesuai keinginan orang tua yang ingin saya menjadi dokter. Kemudian, menginjak kuliah, saya memilih jurusan HI, sedangkan orang tua saya ingin saya mengambil ekonomi. Dan ketika kerja, saya memilih profesi wartawan sedangkan orang tua ingin saya menjadi pegawai negeri dan karyawan PLN. Saya sangat lega karena pilihan yang saya ambil sesuai hati saya sejauh ini tidak terlalu membawa dampak buruk. Kalaupun ada sesuatu yang salah, saya anggap itu sebagai pembelajaran dan proses untuk menuju kebenaran.

2.05.2010

Love my camphus so much

Pertemuan singkat dengan teman kuliah beberapa hari lalu membawa saya kepada kenangan 7 tahun lalu saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Universitas Jember. Meski sebentar, tetapi sedikit bisa mengobati rasa kangen saya. Karena bagaimanapun, mereka yang menemani saya selama 4 tahun.

Senang rasanya mendengar cerita teman-teman bahwa semuanya sudah meraih sukses dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menjadi reporter sebuah tv swasta, ada yang bekerja di bank baik bank bumn maupun bank swasta besar lainnya, bahkan ada seorang teman yang mencoba mencari peruntungannya di dunia hiburan dengan cara casting di sana-sini. Bahkan banyak dari mereka yang melanjutkan sekolah S-2. Yah, apapun bentuk kerja keras mereka, saya berdoa semoga kesuksesan selalu menimpa mereka.

Saya sendiri cukup bersyukur dengan apa yang saya jalani saat ini. Meskipun, apa yang saya jalani jauh dari mimpi dan idealisme saya ketika masa kuliah. Menginjakkan kaki di kampus Fisip Unej, tekad saya cukup besar waktu itu untuk menjadi diplomat. Tapi, Tuhan belum memberikan jalan itu kepada saya. Masuk dan mengikuti tes Departemen Luar Negeri cukup sulit, sudah dua kali tes saya jalani, tapi dua kali kegagalan menimpa saya.

Selain kenangan teman-teman satu kelas, satu kampus. Kenangan lain yang saya rindukan adalah kenangan bersama teman-teman satu gank saya. Kami berdelapan, 4 cowok dan 4 cewek dengan jurusan yang berbeda-beda sering menghabiskan waktu bersama. Perkenalan pertama terjadi ketika masa-masa penataran. Dan itu terus berlanjut hingga akhir semester. Namun, masalah itu datang ketika salah seorang diantara kami jatuh cinta pada salah seorang lainnya. Apalagi ketika cinta itu bertepuk sebelah tangan. Belakangan, saya mengetahui alasan bertepuk sebelah tangan tersebut. Karena salah seorang itu jatuh cinta kepada saya. Persahabatan yang tadinya erat mulai retak karena cinta.

Apakah memang benar, laki-laki dan perempuan tidak bisa bersahabat? Saya tidak tahu persis. Karena saya juga memiliki dua sahabat laki-laki sejak SMU tapi tak ada cinta diantara kami. Namun, saya juga mempunyai sahabat laki-laki sejak SMP yang jatuh cinta kepada saya. Saat ini, saya masih berhubungan baik dengan sahabat SMU saya. Tapi tidak dengan sahabat SMP saya. Aggghhhh....karena itulah saya benci ketika ada cinta dalam persahabatan. Karena itu akan merusak segalanya.

Diantara ke-tujuh orang tersebut, saya sangat dekat dengan mama dan wika. Saya memanggilnya dengan sebutan nama mama karena dia cukup bijaksana. Kami bertiga selalu pergi bersama, kecuali ketika berkencan. Saya sangat merindukan mereka berdua. Lucunya, pernah ada yang mengira bahwa kami bertiga adalah lesbian. Bertambah lucu ketika, orang yang mengira kami adalah lesbian, kemudian menjadi pacar saya yang sekarang sudah menjadi mantan.

Kami bertiga saling mendukung satu sama lain. Bahkan ketika sama-sama skripsi kami saling membantu. Suatu ketika pernah muncul masalah yang cukup besar yang menimpa salah satu diantara kami, tapi kami bertiga masih berdiri berdampingan untuk memberi dukungan. Kami bertiga, saling memberikan bahu ketika ada yang menangis. Dan kami bertiga saling mengingatkan jika ada yang berbuat salah.

Saya merindukan itu semua, saya merindukan bahu mereka, saya merindukan canda tawa mereka. Saya merindukan saat-saat kami hunting makanan baru. Dan saya rindu berjalan-jalan dengan mereka. Sekarang, mereka sudah menikah dan punya kehidupan masing-masing. Tentunya, mereka sudah tidak sebebas dulu untuk saling berbagi dalam senang dan duka.

Satu orang lagi yang saya rindukan adalah sahabat saya satu kelas di kampus. Beberapa teman kami menyebut kami berdua adalah kembar dempet. Karena dimanapun ada saya, selalu ada eka, sahabat saya itu. Dan apakah kebetulan atau memang jodoh, kami berdua satu kelompok KKN. Padahal pemilihan kelompok KKN dipilih secara acak. Entah kenapa, diantara semua teman dan sahabat saya, Eka yang paling saya rindukan. Saat-saat senang dan sedih kami lalui bersama. Saat ketika saya mendampinginya dari ayahnya yang masuk RS hingga meninggal dunia. Sedikit darah saya tidak bisa membantu ayahnya untuk bertahan hidup.

Yang membuat saya sedih, saya lulus dan pergi dari Jember. Kemudian merantau di Jakarta. Tapi dia masih sibuk mengerjakan skripsi. Skripsi yang selama dua tahun belakangan belum kelar dia jalani. Saya sedih karena dia menolak bantuan saya untuk membantunya mengerjakan skripsi. Padahal, ketika saya skripsi, dia juga membantu saya. Kami mengambil kelas kuliah bersama, mengambil seminar pada semester yang sama dan mengerjakan skripsi pada saat yang bersamaan. Alasannya, dia tidak ingin mengganggu saya yang sedang berusaha untuk mencoba menata karir. Dialah eka, sahabat terbaik saya. Saya berharap dia bisa sembuh dari luka hatinya. Saya berharap dia bisa segera bangkit dari keterpurukan akibat ditinggalkan.

Kampus, memang tempat yang menyenangkan. Banyak kenangan-kenangan yang saya jalani semua. Dan saya ingin mengulang kenangan itu lagi. Kampus, tempat untuk menciptakan mimpi dan meraih mimpi.

12.16.2009

Siap-Siap, Listrik Masih Biarpet hingga 2013

JAKARTA. Bersiap memperbanyak cadangan lilin, senter, dan obor untuk menghadapi pasokan setrum yang byar-pet. Pasalnya, program percepatan 10.000 megawatt (MW) tahap I yang diprediksikan rampung pada akhir 2011 atau awal 2012, sepertinya bakal molor hingga tahun 2013. Padahal kebutuhan listrik terus naik.

"Program 10.000 MW tahap I akan selesai pada 2013, tapi beberapa akan ada yang sudah beroperasi pada tahun 2011 dan 2012" ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh, Jumat (11/12).

Darwin beralasan, molornya proyek 10.000 MW tahap I karena berbagai sebab, diantaranya sulitnya pendanaan dan pembebasan lahan.

Darwin menghitung, hingga paruh pertama tahun depan, pemerintah kemungkinan baru bisa merampungkan 27% dari keseluruhan proyek 10.000 MW tahap I. Dus, pada akhir 2010, proyek ini baru akan selesai sekitar 48%.

Mempengaruhi pasokan setrum

Pernyataan Darwin Zahedy ini merupakan revisi dari pernyataannya terdahulu. Sebelumnya, Darwin menargetkan pada semester pertama tahun depan proses penyelesaian proyek listrik 10.000 MW tahap I sudah mencapai 40%.

Sementara itu, pakar setrum Feby Tumewa menyatakan, molornya proyek 10.000 MW tahap I akan berdampak besar kepada pasokan tenaga listrik di seluruh Indonesia. Karena sambungan baru terpaksa dibatasi, maka target rasio elektrifikasi pastinya akan meleset. "Dari awal program ini sudah bermasalah. Perencanaannya tidak benar, proses tender tidak dilakukan secara tepat, dan pemerintah tidak memiliki skenario implementasi," tandas Feby.

Feby tidak heran jika muncul masalah pendanaan, karena dia menilai proyek tersebut tidak layak secara teknis dan finansial. Soal permasalahan pembebasan lahan, Feby menilai, itu terjadi karena tidak ada studi kelayakan yang benar.

Untuk itu, ia meminta PLN melakukan proses tender yang benar, dan mengalokasikan dana investasi pembangkit maupun transmisi minimum Rp 20 triliun per tahun.

Andri Doni, Ketua Masyarakat Kelistrikan Indonesia, juga mencermati soal skema investasi yang harus diperbaiki. Menurut Andri, peran swasta harus dilibatkan secara penuh dalam proyek ini.

Dua PLTU beroperasi

Hingga akhir tahun ini, seharusnya ada 3 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang beroperasi. Sayangnya, hingga bulan Desember ini baru 2 PLTU yang masuk dalam program 10.000 MW tahap I yang sudah beroperasi secara normal.

Kedua PLTU tersebut adalah PLTU Labuan dan PLTU Rembang. Sedangkan PLTU Indramayu kemungkinan baru bisa beroperasi Maret 2010.

"Untuk PLTU Labuan, dua unit. Kemudian Rembang satu unit. Sudah selesai, tinggal diresmikan saja," ujar Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi, J. Purwono.

Fitri Nur Arifenie

Kandungan Lokal Proyek-Proyek Listrik Masih Kecil

Tingkat kandungan komponen buatan lokal proyek-proyek listrik masih rendah

JAKARTA. Departemen Perindustrian meminta kepada PT PLN mengoptimalkan penggunaan kandungan lokal dalam proyek-proyek pembangkit listrik listrik karena selama ini tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) di sektor listrik ini masih rendah.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka, Departemen Perindustrian, Ansari Bukhari mengatakan, kini memang belum ada regulasi pemerintah untuk mengoptimalkan penggunaan kandungan lokal dalam proyek pembangkit setrum.

Menurut data dari Departemen Industri, kandungan lokal pada proyek pembangkit batubara masih sedikit. Pembangkit berkapasitas produksi 8 Megawatt (MW) ke bawah memiliki kandungan lokal 70%, kemudian kandungan lokal pembangkit 8 MW - 25 MW 50%, dan pembangkit 25 MW -100 MW baru 45%.

Sementara berdasarkan studi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kandungan lokal pembangkit geothermal berkapasitas kurang dari 10 MW hanya 61,7%, pembangkit 20 MW - 110 MW baru 30%, dan pembangkit dengan kapasitas lebih dari 110 MW hanya 29%. Dengan demikian, komponen proyek geothermal masih bergantung pada kontribusi asing.

Ansari juga merinci beberapa kelemahan industri mesin peralatan listrik. Pertama, struktur industri masih lemah. Kedua, masih terbatasnya kemampuan pendanaan pengembangan produk dan investasi. "Kelemahan lain adalah ketergantungan kepada pihak asing untuk mengembangkan produksi dalam negeri," kata Ansari kemarin (14/12) setelah penandatanganan pembiayaan listrik antara PLN dengan sejumlah bank.

Pendapat senada juga mengemuka dari Kepala BPPT Marzan A. Iskandar. Oleh karena itu ia minta PLN agar meningkatkan kandungan lokal pembangkit listrik dalam Megaproyek 10.000 MW Tahap II, khususnya pada pembangkit geothermal. Salah satu caranya, pembangkit geothermal sekala kecil harus dibuat oleh industri lokal dan dengan melibatkan perusahaan lokal, misalnya PT Rekayasa Industri.

Bebasan bea masuk

Untuk mendorong partisipasi lokal ini, Ansari mengusulkan pembebasan bea masuk bahan baku dan komponen mesin pembangkit yang memang belum diproduksi di dalam negeri.

Direktur Konstruksi PLN, Agung Nugroho juga menambahkan bahwa PLN juga sangat serius dalam soal meningkatkan local content tersebut. "Saat ini tim TKDN sedang menyelesaikan audit pembangkit PLN. Tahap pertama untuk pembangkit di Jawa dulu," kata dia.

"Kami lihat dulu seperti apa hasil auditnya, baru nanti kami bilang bahwa TKDN-nya rendah," kata dia.

Tuntas Sudah Perburuan Dana Megaproyek Listrik 10.000 MW Tahap I

AKHIRNYA, setelah bertahun-tahun pendanaan proyek-proyek pembangunan pembangkit listrik yang tercakup dalam Megaproyek Listrik 10.00 Megawatt (MW) tuntas sudah. kemarin, Senin (14/12), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) meneken fasilitas kredit untuk pendanaan sejumlah pembangkit.

Total pinjaman yang terkucur mencapai US$ 457,6 juta dan Rp 635 miliar. "Dengan ditandatanganinya pendanaan ini, kebutuhan untuk 10 lokasi PLTU di Jawa-Bali dan 23 lokasi PLTU di luar Jawa-Bali sudah terpenuhi," ujar Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar.

Ada beberapa pembangkit yang mendapatkan kredit "kloter" terakhir ini. Pertama, PLTU Tanjung Awarawar dengan kapasitas 2 x 315 MW mendapat pinjaman US$ 371 juta dengan tenor pinjaman 13 tahun. Penekenan dilakukan bersama Bank of China. "Termasuk masa tenggang 3 tahun dengan suku bunga berbasis LIBOR," kata Fahmi kemarin.

Kedua, PLTU Kalimantan Barat (2 x 50 MW) dengan nilai pinjaman ?US$ 62 juta dan Rp 392 miliar. PLN mendapatkan pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Ketiga, PLTU Bengkalis, Riau (2 x 10MW) dengan nilai pinjaman ?US$ 8,4 juta dan Rp 132 miliar. Pinjaman ini juga didapatkan dari BRI.

Keempat, PLTU Selat Panjang, Riau (2 x 7 MW) dengan nilai US$ 9,2 juta dan Rp 111 miliar. PLN memperoleh pinjaman ini dari BRI.

Kelima, PLTU Balai Karimun Riau (2x7 MW) dengan nilai pinjaman mencapai US$ 7 juta bersama BRI dengan tenor selama 10 tahun.

Setelah urusan duit beres, kini PLN bisa konsentrasi memicu pembangunan pembangkit untuk mengatasi krisis listrik. Sedangkan pembangkit yang berlokasi di Maluku dan Papua masih proses tender ulang.

Fahmi juga menambahkan bahwa penandatanganan tersebut menuntaskan pendanaan dalam rangka proyek PLTU 10.000 MW Tahap I dengan nilai US$ 4,931 miliar dan Rp 19,613 triliun. "Tahun 2009 ini proyek PLTU Labuan 2 x 300 MW dan Rembang 1 x 300 MW akan segera masuk sistem kelistrikan. Lainnya akan menyusul pada tahun 2010," imbuh dia.

Selain untuk proyek 10.000 MW, PLN juga berhasil mendapatkan pinjaman untuk transmisi listrik hingga senilai Rp 4,54 triliun.

Fitri Nur Arifenie

Setrum dan Pembiayaan Ganjal Pertumbuhan RSH

Tahun ini, pengembang hanya bisa memenuhi pasokan RSH 85% dari target 158.000 unit.

JAKARTA. Sejumlah kendala menyandung pengembang untuk menyediakan rumah sederhana sehat (RSH) tahun ini. Diantaranya, soal ketersediaan listrik dan pembiayaan perumahan. Ujung-ujungnya, pengembang hanya mampu memenuhi 85% dari target pembangunan RSH tahun ini.

Target pembangunan RSH baru pada tahun ini adalah sebesar 158.000 unit. Namun realisasinya, "Hingga Oktober, jumlah pembangunan RSH mencapai 117.000 unit dan kami memprediksi hingga akhir tahun hanya sebesar 135.000 unit," ujar Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Teguh Satria, Selasa (15/12).

Sulitnya mendapat listrik menjadi kendala utama pembangunan RSH. Maklum, pengembang tidak bisa menjual rumah tanpa ada sambungan listrik. Celakanya lagi, tanpa ada kepastian pasokan setrum, pihak perbankan juga menolak pengajuan kredit oleh para pengembang.

"Kuncinya memang ada di dalam skema pembiayaan. Likuditas perbankan yang ketat mengakibatkan supply tidak banyak," jelas Teguh.

Segendang seperjogetan dengan Teguh, Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria juga mengeluhkan hal yang sama. Menurut data yang dilansir Apersi, kebutuhan listrik untuk proyek perumahan menengah ke bawah bersubsidi tahun ini sebesar 100.000 kilowatt (kW).

Apersi sudah meminta PLN secara transparan memetakan wilayah-wilayah yang tidak memiliki sambungan setrum. Dengan begitu, pengembang tidak akan membangun RSH di wilayah yang tidak ada pasokan listriknya. "Tapi sampai sekarang, hal itu belum ada solusinya," kata Fuad.

Menurut Fuad, selain kedua kendala tersebut, ada hal lain yang juga harus dibenahi pemerintah agar pembangunan RSH mencapai target, yakni masalah perizinan dan sertifikasi.

Tambahan subsidi

Kendati tidak mencapai target, toh para pengembang tidak lantas loyo. Teguh menegaskan, tahun depan pihaknya optimis bisa menaikkan pembangunan RSH hingga 160.000 unit. Dengan membaiknya kondisi makro ekonomi dan tren bunga kredit bank yang rendah, Teguh optimis jumlah anggota REI akan naik dari 1.743 sekarang ini menjadi 2.100 perusahaan di 2010.

Sementara Fuad menilai, bisnis properti tahun depan masih akan bergantung pada kebijakan yang diambil pemerintah. Diantaranya, soal subsidi, perizinan, sertifikasi dan pembiayaan.

Baik Apersi maupun REI mengusulkan agar pemerintah menambah subsidi perumahan di 2010.

Terkait soal harga, menurut Teguh, harga RSH tahun depan akan naik. Jika harga awalnya Rp 55 juta per unit, maka di 2010 diperkirakan harganya akan naik menjadi Rp 65 juta per unit.

Selain itu, "Kami sudah mengusulkan ke pemerintah untuk menaikkan harga rusunami bersubsidi dari Rp 144 juta menjadi Rp 180 juta," kata Teguh.

Fitri Nur Arifenie