KONTAN, Investasi, 09 April 2009
JAKARTA. Tahun lalu benar-benar menjadi tahun suram bagi perusahaan efek. Gara-gara harga saham rontok dan volume transaksi saham anjlok dalam pada kuartal empat 2008, banyak anggota Anggota Bursa (AB) yang merugi.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hanya 62 perusahaan sekuritas anggota bursa yang berhasil mencatatkan laba bersih di 2008. Adapun 51 AB lainnya harus menanggung rugi bersih.
Sumber kerugian para sekuritas berasal dari penurunan portofolio saham atau obligasi. "Meskipun banyak yang rugi, tapi masih lebih banyak yang untung," ujar Direktur Fixed Income, Derivatif, Partisipan, dan Keanggotaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Guntur Pasaribu, kemarin (8/4).
Guntur mengungkapkan, sampai kemarin (8/4), sebanyak 113 AB dari 121 AB yang terdaftar di BEI telah memberikan laporan keuangan. Empat sekuritas akan merilis laporan keuangan Juni 2009. Mereka adalah PT Nikko Securities Indonesia, PT Nomura Indonesia, PT Macquire Capital Securities Indonesia, dan PT Waterfront Securities Indonesia. "Karena periode laporan keuangan mereka Maret-Maret bukan Januari-Desember," jelas Guntur.
Sedangkan dua AB lain berstatus terkena penghentian sementara (suspend). Mereka adalah PT Sarijaya Permana Sekuritas dan PT Signature Capital. Dua lainnya, yaitu PT Antaboga Delta Sekuritas dan PT Eurocapital Peregrine Securities telah ditutup BEI.
Bila membandingkannya dengan tahun sebelumnya, jumlah AB yang menorehkan rugi bersih meningkat tajam. Sebab pada 2007, dari 120 AB yang terdaftar, 114 AB membukukan laba bersih. Hanya enam yang merugi. "Memang ada perubahan yang tajam karena memburuknya kondisi pasar," ujar Guntur.
Contoh AB yang merugi tahun 2008 adalah: Bali Securities, BNI Securities, dan Kapita Sekurindo. Bali Securities menderita rugi bersih Rp 3,65 miliar. Padahal, pada 2007, mereka masih bisa meraih laba bersih Rp 4,25 miliar.
Sedangkan BNI Securities menorehkan kerugian Rp 97,72 miliar sepanjang 2008. Setahun sebelumnya, sekuritas ini masih memperoleh laba bersih Rp 28,323 miliar. Kapita Sekurindo juga harus rela merugi sekitar Rp 25,88 miliar. Padahal, 2007 lalu, mereka mencatatkan laba Rp 18,533 miliar.
Tetap ada yang naik
Selain banyak yang merugi, ada pula sekuritas yang menghadapi penurunan laba tapi tak sampai rugi. Contoh, laba Kresna Graha Sekurindo anjlok 76,87% dari tahun 2007. Laba Sinarmas Sekuritas turun 99,2% dari laba 2007.
Nasib lebih baik dialami oleh PT Merrill Lynch Indonesia dan PT Credit Suisse Securities Indonesia. Sebab, Credit Suisse Securities Indonesia masih membukukan laba bersih Rp 38,13 miliar, naik 223,96% ketimbang tahun sebelumnya. Sementara Merrill Lynch membukukan laba bersih Rp 88,35 miliar, naik 33,32% dari tahun 2007.
Lily Widjaja, Presiden Direktur Merrill Lynch Indonesia mengatakan, laba bersih Merrill bisa tumbuh karena tak memiliki portofolio di saham dan tidak menyediakan transaksi margin bagi nasabah. "Kami juga melakukan efisiensi," katanya.
Fitri Nur Arifenie
4.12.2009
Investor Kecil Berkurang, IHSG Bisa Loyo (Investor ritel menopang 25% indeks harga saham)
KONTAN, Investasi, 06 April 2009
JAKARTA. Minat investor ritel membenamkan investasi di pasar modal makin turun. Sampai kuartal pertama 2008 saja, investor kecil yang masih bermain di bursa tinggal tersisa 175.000 investor.
Tentu saja, makin minimnya pemain saham individu ini cukup mempengaruhi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero menduga, penurunan jumlah investor ritel itu lebih karena mereka menutup salah satu dari beberapa account miliknya.
Ia mencontohkan, si A memiliki dua buah account di sekuritas yang berbeda. "Karena kondisi yang serba sulit mengharuskan ia menutup salah satu account-nya," ujarnya, kemarin (5/4).
Toh, penurunan jumlah investor ritel ini tetap akan mempengaruhi pasar modal Indonesia. Penurunan jumlah investor ritel itu bisa menurunkan likuiditas dan menurunkan volume transaksi di bursa. Gelagat itu telah tampak. Semula, nilai transaksi bisa mencapai Rp 2 triliun-Rp 3 triliun per hari. Kini, transaksi harian menipis menjadi Rp 1 triliun-Rp 1,5 triliun.
Analis BNI Securities Norico Gaman menambahkan, investor ritel saat ini memang lebih memilih memegang uang tunai ketimbang berinvestasi di bursa. Maklum, indeks masih dalam tekanan. Mereka takut nilai investasi mereka akan turun. Makanya, banyak investor ritel itu yang mengalihkan investasi ke keranjang lain seperti properti dan deposito yang lebih aman.
Namun secara umum, Norico melihat bahwa peran investor ritel masih relatif kecil dalam menopang IHSG. Kontribusi mereka baru sekitar 25%, selebihnya dari investor institusi. "Tapi, angka 25% itu tetap berpengaruh terhadap pergerakan IHSG," imbuhnya.
Ketua Kelompok Investor Publik Saham (KIPS) BUMI Oetomo Rully Susanto berpendapat bahwa posisi investor ritel tetap vital kendati berjumlah sedikit. Apabila semakin banyak investor ritel yang menarik diri dari lantai bursa, indeks saham tetap semakin melemah.
Tapi ia menambahkan, kenaikan indeks beberapa hari terakhir bukan merupakan tanda bahwa investor ritel sudah mulai masuk lagi. Kenaikan indeks itu lebih karena efek laporan keuangan emiten yang sudah keluar. Kebanyakan, laporan keuangan emiten menunjukkan hasil positif. Sisi itulah yang membawa kegairahan di pasar modal.
Balik di kuartal terakhir
Sebagian besar investor individu, kata Oetomo, masih melihat situasi ekonomi sebelum kembali masuk ke pasar modal. Kalau makin stabil dan membaik, mereka akan kembali lagi ke pasar modal.
Ketua Umum Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISI) ND Murdani memperkirakan investor ritel akan berbondong-bondong masuk ke bursa mulai kuartal terakhir 2009. Sebab, banyak pihak yang meramalkan efek krisis keuangan dunia akan mereda pada masa tersebut.
Saat itu, investor akan mencermati bagaimana kondisi keuangan emiten menjelang akhir tahun. "Mereka akan kembali jika kinerja keuangan emiten cukup baik," ujar Murdani. Kinerja keuangan emiten inilah yang akan meyakinkan investor ritel bahwa ekonomi mulai pulih dari krisis.
Fitri Nur Arifenie, Sholla Taufiq
JAKARTA. Minat investor ritel membenamkan investasi di pasar modal makin turun. Sampai kuartal pertama 2008 saja, investor kecil yang masih bermain di bursa tinggal tersisa 175.000 investor.
Tentu saja, makin minimnya pemain saham individu ini cukup mempengaruhi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero menduga, penurunan jumlah investor ritel itu lebih karena mereka menutup salah satu dari beberapa account miliknya.
Ia mencontohkan, si A memiliki dua buah account di sekuritas yang berbeda. "Karena kondisi yang serba sulit mengharuskan ia menutup salah satu account-nya," ujarnya, kemarin (5/4).
Toh, penurunan jumlah investor ritel ini tetap akan mempengaruhi pasar modal Indonesia. Penurunan jumlah investor ritel itu bisa menurunkan likuiditas dan menurunkan volume transaksi di bursa. Gelagat itu telah tampak. Semula, nilai transaksi bisa mencapai Rp 2 triliun-Rp 3 triliun per hari. Kini, transaksi harian menipis menjadi Rp 1 triliun-Rp 1,5 triliun.
Analis BNI Securities Norico Gaman menambahkan, investor ritel saat ini memang lebih memilih memegang uang tunai ketimbang berinvestasi di bursa. Maklum, indeks masih dalam tekanan. Mereka takut nilai investasi mereka akan turun. Makanya, banyak investor ritel itu yang mengalihkan investasi ke keranjang lain seperti properti dan deposito yang lebih aman.
Namun secara umum, Norico melihat bahwa peran investor ritel masih relatif kecil dalam menopang IHSG. Kontribusi mereka baru sekitar 25%, selebihnya dari investor institusi. "Tapi, angka 25% itu tetap berpengaruh terhadap pergerakan IHSG," imbuhnya.
Ketua Kelompok Investor Publik Saham (KIPS) BUMI Oetomo Rully Susanto berpendapat bahwa posisi investor ritel tetap vital kendati berjumlah sedikit. Apabila semakin banyak investor ritel yang menarik diri dari lantai bursa, indeks saham tetap semakin melemah.
Tapi ia menambahkan, kenaikan indeks beberapa hari terakhir bukan merupakan tanda bahwa investor ritel sudah mulai masuk lagi. Kenaikan indeks itu lebih karena efek laporan keuangan emiten yang sudah keluar. Kebanyakan, laporan keuangan emiten menunjukkan hasil positif. Sisi itulah yang membawa kegairahan di pasar modal.
Balik di kuartal terakhir
Sebagian besar investor individu, kata Oetomo, masih melihat situasi ekonomi sebelum kembali masuk ke pasar modal. Kalau makin stabil dan membaik, mereka akan kembali lagi ke pasar modal.
Ketua Umum Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISI) ND Murdani memperkirakan investor ritel akan berbondong-bondong masuk ke bursa mulai kuartal terakhir 2009. Sebab, banyak pihak yang meramalkan efek krisis keuangan dunia akan mereda pada masa tersebut.
Saat itu, investor akan mencermati bagaimana kondisi keuangan emiten menjelang akhir tahun. "Mereka akan kembali jika kinerja keuangan emiten cukup baik," ujar Murdani. Kinerja keuangan emiten inilah yang akan meyakinkan investor ritel bahwa ekonomi mulai pulih dari krisis.
Fitri Nur Arifenie, Sholla Taufiq
Jumlah Investor Ritel Bursa Merosot Drastis
KONTAN, Investasi, 06 April 2009
JAKARTA. Pasar modal Indonesia semakin sepi. Gara-gara krisis keuangan global, nilai transaksi di bursa saham turun. Bukan cuma itu, jumlah investor ritel alias investor perorangan juga berkurang.
Penurunannya cukup besar, mencapai 41,67%. "Oktober 2008, jumlah investor ritel 300.000 orang. Maret lalu, jumlah investor ritel menyusut jadi 175.000 orang," beber Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, Jumat (3/4).
Pasar saham yang masih bergejolak menjadi pendorong investor ritel hengkang dari pasar modal. Mereka beralih mencari keranjang investasi yang lebih aman atau memegang uang kontan.
Selain faktor tadi, jumlah investor ritel berkurang akibat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia makin tipis. Maklum, belakangan meletup banyak kasus yang merugikan investor. Belum lagi, ada kesan otoritas bursa lebih banyak melindungi kepentingan emiten dan pemodal besar ketimbang melindungi investor kecil.
Otoritas bursa mestinya lebih tegas menegakkan aturan guna memulihkan kepercayaan. "Broker sudah aktif, sayang tidak ditopang regulasi yang jelas," keluh Haryajid.
Memang, kontribusi investor ritel terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cuma 25% dan sisanya sumbangan pemodal institusi kelas kakap. Toh, berkurangnya investor ritel ini tetap menekan IHSG dan mengurangi likuiditas pasar.
Agar hal ini tidak berlarut-larut, Direktur Utama Bhakti Securities Agustinus Wishnu Handoyo menyarankan Bursa Efek Indonesia (BEI) mendiversifikasi produk. Saat ini, hampir 90% nilai transaksi pasar modal ditopang perdagangan saham. Jika ada diversifikasi produk, investor akan masuk lagi ke pasar modal.
Fitri Nur Arifenie, Sholla Taufiq
JAKARTA. Pasar modal Indonesia semakin sepi. Gara-gara krisis keuangan global, nilai transaksi di bursa saham turun. Bukan cuma itu, jumlah investor ritel alias investor perorangan juga berkurang.
Penurunannya cukup besar, mencapai 41,67%. "Oktober 2008, jumlah investor ritel 300.000 orang. Maret lalu, jumlah investor ritel menyusut jadi 175.000 orang," beber Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, Jumat (3/4).
Pasar saham yang masih bergejolak menjadi pendorong investor ritel hengkang dari pasar modal. Mereka beralih mencari keranjang investasi yang lebih aman atau memegang uang kontan.
Selain faktor tadi, jumlah investor ritel berkurang akibat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia makin tipis. Maklum, belakangan meletup banyak kasus yang merugikan investor. Belum lagi, ada kesan otoritas bursa lebih banyak melindungi kepentingan emiten dan pemodal besar ketimbang melindungi investor kecil.
Otoritas bursa mestinya lebih tegas menegakkan aturan guna memulihkan kepercayaan. "Broker sudah aktif, sayang tidak ditopang regulasi yang jelas," keluh Haryajid.
Memang, kontribusi investor ritel terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cuma 25% dan sisanya sumbangan pemodal institusi kelas kakap. Toh, berkurangnya investor ritel ini tetap menekan IHSG dan mengurangi likuiditas pasar.
Agar hal ini tidak berlarut-larut, Direktur Utama Bhakti Securities Agustinus Wishnu Handoyo menyarankan Bursa Efek Indonesia (BEI) mendiversifikasi produk. Saat ini, hampir 90% nilai transaksi pasar modal ditopang perdagangan saham. Jika ada diversifikasi produk, investor akan masuk lagi ke pasar modal.
Fitri Nur Arifenie, Sholla Taufiq
3.23.2009
Obligasi, Amankah??
Pasar Obligasi korporasi pada tahun kerbau ini sangat bergairah. Buktinya, hingga kuartal I/2009, total nilai obligasi yang diterbitkan oleh korporasi mencapai Rp 4,25 triliun. Padahal target Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2009 ini sekitar Rp 10 triliun hingga Rp 15 Triliun. Pada kuartal I/2009, ada 8 perusahaan yang berencana untuk menerbitkan obligasi.
PT Astra Sedaya Finance berencana untuk menerbitkan obligasi Rp 600 miliar dan PT Matahari Putra Prima Tbk sebesar Rp 500 miliar. Selain itu, ada PT Federal International Finance sebesar Rp 600 miliar dan PT Indomobil Finance sebesar Rp 500 miliar. Kemudian ada PT Danareksa Sekuritas (Perseroan) sebesar Rp 300 miliar. Masih ada tiga perusahaan lagi yang berencana untuk menerbitkan obligasi sebesar Rp 1,75 trilun.
Ketiga perusahaan itu adalah PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) yang berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp 750 miliar, PT Summit Oto Finance (Rp 500 miliar), dan PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (Rp 500 miliar). Ini masih belum obligasi Bank Ekspor yang akan diterbitkan sebesar Rp 2 triliun ataupun rencana PT Indofood Sukses Makmur dan juga PT PLN (Persero) yang juga berniat menerbitkan obligasi.
Tampaknya perusahaan memang lebih memilih untuk mengeluarkan obligasi daripada melakukan pinjaman ke bank di situasi dan kondisi seperti ini. Perusahaan juga melihat, banyak investor yang lari dari saham dan memilih obligasi.Apalagi imbal hasil (yield) obligasi sangat tinggi sehingga menarik minat investor untuk berinvestasi di jenis ini.
Lalu bagaimana dengan prospek investasi jenis ini bagi investor. Secara keseluruhan prospek investasi di instrumen masih sangat menjanjikan. Dengan BI rate yang cenderung turun dan target inflansi yang diperkirakan single digit di kisaran 7 hingga 8 persen membuat investasi jenis ini masih menjadi pilihan utama.
Meskipun pada tahun depan ada kemungkinan harga obligasi akan semakin naik dan imbal hasil menurun, tapi investasi jenis ini cenderung lebih aman ketimbang investasi dalam bidang saham. Karena situasi di pasar modal yang tak menentu dan masih belum bisa dipastikan kapan situasi global akan membaik. Bagi investor yang tidak berani mengambil resiko, investasi ini jenis ini menjadi alternatif yang menarik.
Tapi, investasi jenis ini juga ada resikonya. Pertama, bagi investor harus mengantisipasi adanya resiko gagal bayar (default risk) seperti yang menerpa pada obligasi Mobile-8 (fren). Fren tidak mampu membayar bunga obligasi karena kesulitan keuangan yang menerpa Fren. JIka hal ini terjadi, tentunya investor-lah yang akan merugi. Untuk itu, sebaiknya investor melihat peringkat obligasi yang diterbitkan oleh pefindo.
Resiko Kedua adalah pembelian kembali (call risk). Ada beberapa jenis obligai yang memiliki feature call, di mana perusahaan penerbit memiliki hak untuk membeli kembali (buy back) obligasi yang Anda pegang atau Anda miliki pada harga tertentu (call price), sebelum obligasi tersebut jatuh tempo. Hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan penerbit saat tingkat suku bunga di pasar turun menjadi lebih rendah dari tingkat pembayaran kupon (coupon rate). Selanjutnya perusahaan penerbit akan menggantikan obligasi baru dengan tingkat kupon yang lebih rendah dari obligasi yang telah ditarik (call).
Keempat, risiko nilai tukar mata uang (exchange rate risk). Nilai kupon atau arus kas yang Anda terima akan sangat berpengaruh dengan perubahan nilai tukar rupiah. Masih ada beberapa risiko yang berkaitan dengan obligasi seperti risiko likuiditas. Dalam hal ini kesulitan untuk menjual kembali obligai pada harga pasar mungkin saja terjadi. Bila Anda tiba-tiba membutuhkan dana dalam jangka pendek maka tingkat likuiditas atau risiko likuiditas ini dapat menghambat Anda untuk memperoleh dana dalam waktu singkat.
Nah, bagi anda yang ingin berinvestasi di jenis ini lebih baik anda pertimbangkan dulu secara matang. Meskipun tergolong aman, tapi investasi obligasi harus dilihat secara keseluruhan. Anda harus teliti dalam memilih obligasi perusahaan. Karena kondisi keuangan perusahaan juga ikut memberikan pengaruh bisa tidaknya mereka membayar obligasi.
Jadi, selamat mencoba....
PT Astra Sedaya Finance berencana untuk menerbitkan obligasi Rp 600 miliar dan PT Matahari Putra Prima Tbk sebesar Rp 500 miliar. Selain itu, ada PT Federal International Finance sebesar Rp 600 miliar dan PT Indomobil Finance sebesar Rp 500 miliar. Kemudian ada PT Danareksa Sekuritas (Perseroan) sebesar Rp 300 miliar. Masih ada tiga perusahaan lagi yang berencana untuk menerbitkan obligasi sebesar Rp 1,75 trilun.
Ketiga perusahaan itu adalah PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) yang berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp 750 miliar, PT Summit Oto Finance (Rp 500 miliar), dan PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (Rp 500 miliar). Ini masih belum obligasi Bank Ekspor yang akan diterbitkan sebesar Rp 2 triliun ataupun rencana PT Indofood Sukses Makmur dan juga PT PLN (Persero) yang juga berniat menerbitkan obligasi.
Tampaknya perusahaan memang lebih memilih untuk mengeluarkan obligasi daripada melakukan pinjaman ke bank di situasi dan kondisi seperti ini. Perusahaan juga melihat, banyak investor yang lari dari saham dan memilih obligasi.Apalagi imbal hasil (yield) obligasi sangat tinggi sehingga menarik minat investor untuk berinvestasi di jenis ini.
Lalu bagaimana dengan prospek investasi jenis ini bagi investor. Secara keseluruhan prospek investasi di instrumen masih sangat menjanjikan. Dengan BI rate yang cenderung turun dan target inflansi yang diperkirakan single digit di kisaran 7 hingga 8 persen membuat investasi jenis ini masih menjadi pilihan utama.
Meskipun pada tahun depan ada kemungkinan harga obligasi akan semakin naik dan imbal hasil menurun, tapi investasi jenis ini cenderung lebih aman ketimbang investasi dalam bidang saham. Karena situasi di pasar modal yang tak menentu dan masih belum bisa dipastikan kapan situasi global akan membaik. Bagi investor yang tidak berani mengambil resiko, investasi ini jenis ini menjadi alternatif yang menarik.
Tapi, investasi jenis ini juga ada resikonya. Pertama, bagi investor harus mengantisipasi adanya resiko gagal bayar (default risk) seperti yang menerpa pada obligasi Mobile-8 (fren). Fren tidak mampu membayar bunga obligasi karena kesulitan keuangan yang menerpa Fren. JIka hal ini terjadi, tentunya investor-lah yang akan merugi. Untuk itu, sebaiknya investor melihat peringkat obligasi yang diterbitkan oleh pefindo.
Resiko Kedua adalah pembelian kembali (call risk). Ada beberapa jenis obligai yang memiliki feature call, di mana perusahaan penerbit memiliki hak untuk membeli kembali (buy back) obligasi yang Anda pegang atau Anda miliki pada harga tertentu (call price), sebelum obligasi tersebut jatuh tempo. Hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan penerbit saat tingkat suku bunga di pasar turun menjadi lebih rendah dari tingkat pembayaran kupon (coupon rate). Selanjutnya perusahaan penerbit akan menggantikan obligasi baru dengan tingkat kupon yang lebih rendah dari obligasi yang telah ditarik (call).
Keempat, risiko nilai tukar mata uang (exchange rate risk). Nilai kupon atau arus kas yang Anda terima akan sangat berpengaruh dengan perubahan nilai tukar rupiah. Masih ada beberapa risiko yang berkaitan dengan obligasi seperti risiko likuiditas. Dalam hal ini kesulitan untuk menjual kembali obligai pada harga pasar mungkin saja terjadi. Bila Anda tiba-tiba membutuhkan dana dalam jangka pendek maka tingkat likuiditas atau risiko likuiditas ini dapat menghambat Anda untuk memperoleh dana dalam waktu singkat.
Nah, bagi anda yang ingin berinvestasi di jenis ini lebih baik anda pertimbangkan dulu secara matang. Meskipun tergolong aman, tapi investasi obligasi harus dilihat secara keseluruhan. Anda harus teliti dalam memilih obligasi perusahaan. Karena kondisi keuangan perusahaan juga ikut memberikan pengaruh bisa tidaknya mereka membayar obligasi.
Jadi, selamat mencoba....
Liliane Bettencourt, Wanita Terkaya di Prancis & Pewaris L'Oreal (4-Selesai)
KONTAN, INTERNASIONAL, FENOMENA
Fitri Nur Arifenie
Liliane Bettencourt tercatat sebagai salah satu korban penipuan skema Ponzi ala Bernard L. Madoff. Tapi, jumlah duit Liliane yang ditelan penipuan Madoff masih menjadi misteri. Di luar urusan bisnis, Liliane mendirikan Bettencourt Schueller Foundation pada 1987. Yayasan ini membantu penelitian bidang kesehatan, budaya, pendidikan dan sosial. Pemerintah Prancis pun memberikan penghargaan prestisius bagi Liliane lantaran kiprahnya di yayasan tersebut.
BELUM lagi perseteruan dengan putrinya selesai, Liliane Bettencourt sudah mendapatkan masalah baru. Kali ini, Liliane harus merelakan kehilangan duit karena penipuan investasi. Liliane adalah salah satu dari sekian banyak orang kaya di dunia yang menjadi korban penipuan skema Ponzi ala Bernard Lawrence Madoff. Cuma, saking pintarnya Liliane menjaga rahasia, hingga saat ini masih belum jelas berapa duit Liliane yang raib akibat penipuan ini. Banyak yang menganggap penipuan tersebut bisa berdampak besar bagi kantong pribadi Liliane.
Sejauh ini, efek penipuan ini belum terlihat mempengaruhi keuangan L'Oreal, perusahaan milik Liliane. Sebaliknya, banyak pengamat yang memprediksikan pendapatan L'Oreal akan tumbuh 6%-8% selama tahun ini. Prediksi ini terhitung optimistis mengingat situasi dan kondisi ekonomi Eropa yang masih terimpit krisis global.
Di luar urusan bisnis, Liliane mendirikan Bettencourt Schueller
Foundation pada 22 Desember 1987. Liliane mendirikan yayasan ini untuk mengenang ayahnya. Yayasan tersebut memiliki misi menggalang dukungan dan mengembangkan proyek-proyek di bidang kesehatan, budaya dan kemanusiaan, baik di Prancis maupun di negara-negara berkembang. Liliane dan keluarganya mendanai sendiri seluruh kegiatan yayasan tersebut.
Yayasan ini mengalokasikan 60% dari anggarannya untuk mendukung penelitian kesehatan. Salah satu fokus dukungannya adalah membantu pengembangan obat anti HIV dan AIDS.
Yayasan ini juga rajin memberikan penghargaan bagi orang yang berjasa di bidang kesehatan. Nama penghargaan itu adalah The Liliane Bettencourt Life Sciences Award. Penghargaan tersebut diberikan kepada peneliti kesehatan asal Eropa berusia minimal 45 tahun. Si peneliti juga harus dikenal di bidangnya dan penelitiannya bermanfaat bagi masyarakat.
Bettencourt Schueller Foundation juga memberikan The Young Researches Award untuk ilmuwan muda yang memiliki kontribusi dalam memajukan ilmu pengetahuan. Ada 14 kategori penerima penghargaan ini.
Dalam bidang kebudayaan, yayasan ini pun mendukung artis ataupun perajin berbakat dan telah menghasilkan karya fenomenal. Lantaran Liliane menyukai musik paduan suara, Bettencourt Schueller Foundation juga memberi penghargaan tahunan untuk paduan suara terbaik.
Di bidang pendidikan dan sosial, Bettencourt Schueller Foundation juga membantu program-program pengentasan buta huruf dan buta aksara di kalangan anak-anak. Selain itu, yayasannya ikut pula membantu penyediaan rumah murah bagi para tunawisma.
Semenjak tahun 2000, yayasan milik Liliane memberikan penghargaan bagi para perempuan yang berkecimpung dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Tahun 2005, dengan menggandeng UNESCO, yayasan milik Liliane memberikan penghargaan bernama UNESCOL'Oreal Fellowships International, bagi 15 perempuan peneliti dari seluruh dunia. Sudah tak terhitung jumlah penghargaan yang diberikan Bettencourt Schueller Foundation sejak yayasan ini berdiri pada 1987. Aktivitas Liliane dalam membantu penelitian kesehatan, rupanya mendorong Pemerintah Prancis memberikan penghargaan kepada istri Andre Bettencourt ini.
Pada 31 Desember 2001, Liliane memperoleh penghargaan Legion of Honor. Ini adalah penghargaan nasional tertinggi di Prancis. Penghargaan ini diberikan pertama kali oleh Napoleon Bonaparte, untuk warga sipil atau militer yang berjasa besar pada negara. Liliane mendapatkan penghargaan ini lantaran dianggap berjasa di bidang pengembangan kesehatan. (Selesai)
Fitri Nur Arifenie
Liliane Bettencourt tercatat sebagai salah satu korban penipuan skema Ponzi ala Bernard L. Madoff. Tapi, jumlah duit Liliane yang ditelan penipuan Madoff masih menjadi misteri. Di luar urusan bisnis, Liliane mendirikan Bettencourt Schueller Foundation pada 1987. Yayasan ini membantu penelitian bidang kesehatan, budaya, pendidikan dan sosial. Pemerintah Prancis pun memberikan penghargaan prestisius bagi Liliane lantaran kiprahnya di yayasan tersebut.
BELUM lagi perseteruan dengan putrinya selesai, Liliane Bettencourt sudah mendapatkan masalah baru. Kali ini, Liliane harus merelakan kehilangan duit karena penipuan investasi. Liliane adalah salah satu dari sekian banyak orang kaya di dunia yang menjadi korban penipuan skema Ponzi ala Bernard Lawrence Madoff. Cuma, saking pintarnya Liliane menjaga rahasia, hingga saat ini masih belum jelas berapa duit Liliane yang raib akibat penipuan ini. Banyak yang menganggap penipuan tersebut bisa berdampak besar bagi kantong pribadi Liliane.
Sejauh ini, efek penipuan ini belum terlihat mempengaruhi keuangan L'Oreal, perusahaan milik Liliane. Sebaliknya, banyak pengamat yang memprediksikan pendapatan L'Oreal akan tumbuh 6%-8% selama tahun ini. Prediksi ini terhitung optimistis mengingat situasi dan kondisi ekonomi Eropa yang masih terimpit krisis global.
Di luar urusan bisnis, Liliane mendirikan Bettencourt Schueller
Foundation pada 22 Desember 1987. Liliane mendirikan yayasan ini untuk mengenang ayahnya. Yayasan tersebut memiliki misi menggalang dukungan dan mengembangkan proyek-proyek di bidang kesehatan, budaya dan kemanusiaan, baik di Prancis maupun di negara-negara berkembang. Liliane dan keluarganya mendanai sendiri seluruh kegiatan yayasan tersebut.
Yayasan ini mengalokasikan 60% dari anggarannya untuk mendukung penelitian kesehatan. Salah satu fokus dukungannya adalah membantu pengembangan obat anti HIV dan AIDS.
Yayasan ini juga rajin memberikan penghargaan bagi orang yang berjasa di bidang kesehatan. Nama penghargaan itu adalah The Liliane Bettencourt Life Sciences Award. Penghargaan tersebut diberikan kepada peneliti kesehatan asal Eropa berusia minimal 45 tahun. Si peneliti juga harus dikenal di bidangnya dan penelitiannya bermanfaat bagi masyarakat.
Bettencourt Schueller Foundation juga memberikan The Young Researches Award untuk ilmuwan muda yang memiliki kontribusi dalam memajukan ilmu pengetahuan. Ada 14 kategori penerima penghargaan ini.
Dalam bidang kebudayaan, yayasan ini pun mendukung artis ataupun perajin berbakat dan telah menghasilkan karya fenomenal. Lantaran Liliane menyukai musik paduan suara, Bettencourt Schueller Foundation juga memberi penghargaan tahunan untuk paduan suara terbaik.
Di bidang pendidikan dan sosial, Bettencourt Schueller Foundation juga membantu program-program pengentasan buta huruf dan buta aksara di kalangan anak-anak. Selain itu, yayasannya ikut pula membantu penyediaan rumah murah bagi para tunawisma.
Semenjak tahun 2000, yayasan milik Liliane memberikan penghargaan bagi para perempuan yang berkecimpung dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Tahun 2005, dengan menggandeng UNESCO, yayasan milik Liliane memberikan penghargaan bernama UNESCOL'Oreal Fellowships International, bagi 15 perempuan peneliti dari seluruh dunia. Sudah tak terhitung jumlah penghargaan yang diberikan Bettencourt Schueller Foundation sejak yayasan ini berdiri pada 1987. Aktivitas Liliane dalam membantu penelitian kesehatan, rupanya mendorong Pemerintah Prancis memberikan penghargaan kepada istri Andre Bettencourt ini.
Pada 31 Desember 2001, Liliane memperoleh penghargaan Legion of Honor. Ini adalah penghargaan nasional tertinggi di Prancis. Penghargaan ini diberikan pertama kali oleh Napoleon Bonaparte, untuk warga sipil atau militer yang berjasa besar pada negara. Liliane mendapatkan penghargaan ini lantaran dianggap berjasa di bidang pengembangan kesehatan. (Selesai)
3.19.2009
Liliane Bettencourt, Wanita Terkaya di Prancis dan Pewaris L'Oreal (3)
KONTAN, INTERNASIONAL, FENOMENA
Fitri Nur Arifenie
Berbagai skandal mengelilingi kehidupan pribadi Liliane Bettencourt. Bahkan, sejak masih kecil, wanita yang memiliki satu putri ini sudah akrab dengan skandal. Waktu kecil, ayahnya, Eugene Schueller dikabarkan terlibat dalam Nazi dan kelompok fasis Prancis, La Cagoule. Suami Liliane, politikus Prancis Andre Bettencourt, juga dikabarkan terlibat gerakan yang sama. Kemudian, tahun lalu, Liliane bertengkar hebat dengan putrinya Francoise Bettencourt.
KEHIDUPAN Liliane Bettencourt tidak lepas dari berbagai skandal. Bahkan, sejak masih kecil, kehidupan Liliane sudah dibayangi oleh skandal dalam bisnis ayahnya, Eugene Schueller, pendiri perusahaan kosmetik L'Oreal.
Konon, Schueller memiliki hubungan dengan rezim Nazi. Bahkan, kesuksesan Schueller membesarkan L'Oreal konon tak lepas dari andil Nazi. Gosip yang beredar, Schueller menyumbang dana bagi Nazi.
Kabar miring lain, Schueller merupakan penyumbang tetap La Cagoule, kelompok penganut paham fasisme di Prancis. Kelompok ini terkenal suka menggunakan kekerasan dan sangat anti komunis. Saking dekatnya La Cagoule dengan Schueller, kelompok tersebut kabarnya sering menggelar pertemuan penting di kantor pusat L'Oreal.
Pada 1950, Liliane menikah dengan Andre Bettencourt, seorang politikus asal Prancis. Andre dan Liliane sudah saling kenal sejak lama. Sebab, Andre adalah salah satu anggota La Cagoule.
Andre konon juga terlibat gerakan Nazi. Dalam pasukan Nazi, Andre kabarnya bertugas menyusun propaganda bagi Hitler. Yang jelas, antara 1940 hingga 1942, Andre menulis 60 artikel soal Nazi untuk La Terre Francaise, harian yang didanai Nazi.
Meskipun begitu, Liliane tidak mengambil pusing berbagai kontroversi yang menyelubungi suami dan ayahnya. Maklum saja, keluarga Liliane dikenal terbiasa menutup rapat rahasia.
Dari hasil pernikahan dengan Andre, Lilane memperoleh satu anak perempuan yang bernama Francoise Bettencourt Meyers. Francoise menikah dengan Jean-Pierre Meyers. Saat ini, Francoise ikut terlibat dalam bisnis L'Oreal, dan menjabat sebagai salah satu direktur di perusahaan ini.
Sayangnya, sejak tahun lalu, hubungan antara ibu dan anak ini memburuk. Penyebabnya, Francoise menganggap Liliane telah memberikan hadiah dengan jumlah yang tidak wajar kepada Francoise Marie Banier, seorang fotografer, pelukis, dan novelis, yang juga teman dekat Liliane.
Francoise menuding, sejak ayahnya meninggal, Liliane menjadi pikun dan tidak sadar, sehingga bisa memberi hadiah dalam jumlah yang tidak wajar. Contohnya, Liliane memberi Banier hadiah senilai € 993 juta.
Berdasarkan hasil investigasi kepolisian, sejak 2001, Liliane telah memberikan berbagai hadiah kepada Barnier. Bahkan sang fotografer mendapatkan asuransi jiwa senilai € 600 juta. Selain itu sang fotografer menerima dua belas besar karya seni dan koleksi lukisan milik Liliane, termasuk lukisan Picasso.
Francoise bahkan melayangkan gugatan ke pengadilan untuk mendapatkan kembali duit itu. Dasar gugatannya, Liliane telah pikun dan Banier memanfaatkannya untuk menipu ibunya.
Tindakan Francoise menyulut kemarahan Liliane. Akhirnya, ibu dan anak tersebut bertengkar. "Dia idiot, dan tuntutannya sangat bodoh," kata Liliane mengenai anaknya, seperti dikutip The Times. Liliane menganggap Francoise hanya cemburu.
Liliane menjelaskan bahwa pemberiannya merupakan hadiah sebagai seorang teman. Liliane beralasan, Banier telah menemani hari-harinya sejak suami Liliane meninggal dunia pada 2007.
Akibat pengaduan sang anak, Liliane bahkan mengatakan tidak akan menganggap Francoise sebagai keluarga lagi. "Aku tidak pernah menemui anakku lagi dan aku sama sekali tidak berniat menemuinya," seru Liliane.
Liliane memenuhi panggilan polisi untuk membuktikan dia belum pikun. Hasilnya, menurut pemeriksaan psikiater, Liliane tidak terbukti menderita gangguan jiwa atau semacamnya. (Bersambung)
Fitri Nur Arifenie
Berbagai skandal mengelilingi kehidupan pribadi Liliane Bettencourt. Bahkan, sejak masih kecil, wanita yang memiliki satu putri ini sudah akrab dengan skandal. Waktu kecil, ayahnya, Eugene Schueller dikabarkan terlibat dalam Nazi dan kelompok fasis Prancis, La Cagoule. Suami Liliane, politikus Prancis Andre Bettencourt, juga dikabarkan terlibat gerakan yang sama. Kemudian, tahun lalu, Liliane bertengkar hebat dengan putrinya Francoise Bettencourt.
KEHIDUPAN Liliane Bettencourt tidak lepas dari berbagai skandal. Bahkan, sejak masih kecil, kehidupan Liliane sudah dibayangi oleh skandal dalam bisnis ayahnya, Eugene Schueller, pendiri perusahaan kosmetik L'Oreal.
Konon, Schueller memiliki hubungan dengan rezim Nazi. Bahkan, kesuksesan Schueller membesarkan L'Oreal konon tak lepas dari andil Nazi. Gosip yang beredar, Schueller menyumbang dana bagi Nazi.
Kabar miring lain, Schueller merupakan penyumbang tetap La Cagoule, kelompok penganut paham fasisme di Prancis. Kelompok ini terkenal suka menggunakan kekerasan dan sangat anti komunis. Saking dekatnya La Cagoule dengan Schueller, kelompok tersebut kabarnya sering menggelar pertemuan penting di kantor pusat L'Oreal.
Pada 1950, Liliane menikah dengan Andre Bettencourt, seorang politikus asal Prancis. Andre dan Liliane sudah saling kenal sejak lama. Sebab, Andre adalah salah satu anggota La Cagoule.
Andre konon juga terlibat gerakan Nazi. Dalam pasukan Nazi, Andre kabarnya bertugas menyusun propaganda bagi Hitler. Yang jelas, antara 1940 hingga 1942, Andre menulis 60 artikel soal Nazi untuk La Terre Francaise, harian yang didanai Nazi.
Meskipun begitu, Liliane tidak mengambil pusing berbagai kontroversi yang menyelubungi suami dan ayahnya. Maklum saja, keluarga Liliane dikenal terbiasa menutup rapat rahasia.
Dari hasil pernikahan dengan Andre, Lilane memperoleh satu anak perempuan yang bernama Francoise Bettencourt Meyers. Francoise menikah dengan Jean-Pierre Meyers. Saat ini, Francoise ikut terlibat dalam bisnis L'Oreal, dan menjabat sebagai salah satu direktur di perusahaan ini.
Sayangnya, sejak tahun lalu, hubungan antara ibu dan anak ini memburuk. Penyebabnya, Francoise menganggap Liliane telah memberikan hadiah dengan jumlah yang tidak wajar kepada Francoise Marie Banier, seorang fotografer, pelukis, dan novelis, yang juga teman dekat Liliane.
Francoise menuding, sejak ayahnya meninggal, Liliane menjadi pikun dan tidak sadar, sehingga bisa memberi hadiah dalam jumlah yang tidak wajar. Contohnya, Liliane memberi Banier hadiah senilai € 993 juta.
Berdasarkan hasil investigasi kepolisian, sejak 2001, Liliane telah memberikan berbagai hadiah kepada Barnier. Bahkan sang fotografer mendapatkan asuransi jiwa senilai € 600 juta. Selain itu sang fotografer menerima dua belas besar karya seni dan koleksi lukisan milik Liliane, termasuk lukisan Picasso.
Francoise bahkan melayangkan gugatan ke pengadilan untuk mendapatkan kembali duit itu. Dasar gugatannya, Liliane telah pikun dan Banier memanfaatkannya untuk menipu ibunya.
Tindakan Francoise menyulut kemarahan Liliane. Akhirnya, ibu dan anak tersebut bertengkar. "Dia idiot, dan tuntutannya sangat bodoh," kata Liliane mengenai anaknya, seperti dikutip The Times. Liliane menganggap Francoise hanya cemburu.
Liliane menjelaskan bahwa pemberiannya merupakan hadiah sebagai seorang teman. Liliane beralasan, Banier telah menemani hari-harinya sejak suami Liliane meninggal dunia pada 2007.
Akibat pengaduan sang anak, Liliane bahkan mengatakan tidak akan menganggap Francoise sebagai keluarga lagi. "Aku tidak pernah menemui anakku lagi dan aku sama sekali tidak berniat menemuinya," seru Liliane.
Liliane memenuhi panggilan polisi untuk membuktikan dia belum pikun. Hasilnya, menurut pemeriksaan psikiater, Liliane tidak terbukti menderita gangguan jiwa atau semacamnya. (Bersambung)
3.18.2009
Liliane Bettencourt, Wanita Terkaya di Prancis dan Pewaris L'Oreal (2)
KONTAN, INTERNASIONAL, FENOMENA
Fitri Nur Arifenie
Liliane Bettencourt mewarisi kepandaian dan kemampuan berbisnis ayahnya. Di tangan Liliane, L'Oreal berkembang dengan pesat. Pundi-pundi pendapatan perusahaan yang didirikan oleh ayahnya ini terus berkembang dan mendunia. Selain itu, di bawah kepemimpinan Liliane, L'Oreal juga memperluas pangsa pasarnya. Caranya, L'Oreal melakukan beberapa aksi akuisisi strategis, termasuk dengan mengakuisisi waralaba toko kosmetik terkenal, Body Shop.
LILIANE Bettencourt membuktikan bahwa dia memegang posisi puncak di L'Oreal bukan cuma karena dia anak pendiri perusahaan kosmetik tersebut. Liliane membuktikan bahwa dirinya memang mampu dan pantas menjadi petinggi di L'Oreal.
Terbukti, di bawah kepemimpinannya, pemasaran L'Oreal berkembang ke seluruh dunia. Kini, L'Oreal menguasai 49% pangsa pasar kosmetik Eropa, serta menguasai 23% pangsa pasar kosmetik di Amerika Serikat (AS) dan Kanada.
Selain melebarkan penjualan, Liliane juga terus mengembangkan produk L'Oreal. L'Oreal memiliki beberapa jenis produk, seperti produk perawatan kulit, perawatan rambut, pewarna rambut, make-up dan produk styling. Bahkan L'Oreal juga merambah produk parfum dan produk perawatan kulit (dermatologi).
Era 1980-an, L'Oreal merupakan industri manufaktur paling besar di Prancis. Di masa inilah, Liliane mengambil langkah penting bagi pengembangan perusahaannya. Di 1984, L'Oreal membeli divisi kosmetik Warner Communications, yaitu Warner Cosmetics. Perusahaan kosmetik ini antara lain memegang merek Gloria Vanderbilt dan Ralph Lauren.
Ekspansi Grup L'Oreal terus berlanjut. Pada Maret 2006, L'Oreal membeli toko waralaba kosmetik terbesar kedua di dunia, yakni Body Shop. Nilai akuisisi tersebut sebesar € 652 juta. Pembelian Body Shop ini semakin melebarkan sayap L'Oreal untuk menjadikannya industri kosmetik yang nomor satu di dunia.
Liliane juga mulai menyasar pasar kosmetik di India. Di negeri Sungai Gangga ini, Liliane memasarkan produk kosmetik yang ramah lingkungan. Hal ini sesuai dengan kecenderungan pasar kosmetik dunia yang kini mulai memasyarakatkan konsep kembali ke alam (back to nature).
Dari India, L'Oreal lantas mengembangkan produk kosmetik alami itu ke seluruh dunia, terutama ke Eropa dan Amerika. Mujur, konsumen di kedua kawasan tersebut mulai beralih dari produk kosmetik dengan bahan kimia ke kosmetik dengan bahan alami.
Kepemimpinan Liliane berhasil membuat pundi-pundi penghasilan L'Oreal makin gendut. Pada 2001, L'oreal mampu mencetak pendapatan sebesar € 1,2 miliar. Empat tahun kemudian, laba bersihnya sudah naik menjadi € 1,9 miliar, melebihi total pendapatan pada tahun 2001. Pertumbuhan tersebut terus berlanjut. Tahun lalu, pendapatan L'Oreal berhasil menembus angka € 15,8 miliar euro, atau naik sekitar 9,5% dari
tahun sebelumnya.
Liliane memang sukses membawa L'Oreal ke puncak keberhasilan. Liliane berbagi rahasia bahwa strategi kesuksesan L'Oreal simpel saja. Pertama, dia menegaskan L'Oreal selalu berkomitmen penuh pada penelitian dan pengembangan produk baru.
Kedua, L'Oreal selalu mengedepankan inovasi dan kualitas. Ketiga, L'Oreal hanya menciptakan produk-produk yang orisinal. Keempat, Liliane menekankan perusahaan menghargai karyawan dan memberikan penghargaan bagi karyawan terbaik.
Di antara itu semua, yang paling penting dalam pengembangan L'Oreal adalah peningkatan teknologi dan inovasi. Melalui riset, L'Oreal telah berhasil mematenkan sekitar 500 unit produknya. L'Oreal juga mengembangkan 110 formula dasar kosmetik lebih dari 35 tahun.
Liliane tidak hanya berinovasi di produk. Dia juga berinovasi di bidangpemasaran dan distribusi. Untuk mereka yang gemar berbelanja di pasar swalayan, L'Oreal menyediakan produk bermerek Garnier dan Gemey. Sedangkan mereka yang lebih senang membeli kosmetik di apotek, bisa membeli Vichy.
Fitri Nur Arifenie
Liliane Bettencourt mewarisi kepandaian dan kemampuan berbisnis ayahnya. Di tangan Liliane, L'Oreal berkembang dengan pesat. Pundi-pundi pendapatan perusahaan yang didirikan oleh ayahnya ini terus berkembang dan mendunia. Selain itu, di bawah kepemimpinan Liliane, L'Oreal juga memperluas pangsa pasarnya. Caranya, L'Oreal melakukan beberapa aksi akuisisi strategis, termasuk dengan mengakuisisi waralaba toko kosmetik terkenal, Body Shop.
LILIANE Bettencourt membuktikan bahwa dia memegang posisi puncak di L'Oreal bukan cuma karena dia anak pendiri perusahaan kosmetik tersebut. Liliane membuktikan bahwa dirinya memang mampu dan pantas menjadi petinggi di L'Oreal.
Terbukti, di bawah kepemimpinannya, pemasaran L'Oreal berkembang ke seluruh dunia. Kini, L'Oreal menguasai 49% pangsa pasar kosmetik Eropa, serta menguasai 23% pangsa pasar kosmetik di Amerika Serikat (AS) dan Kanada.
Selain melebarkan penjualan, Liliane juga terus mengembangkan produk L'Oreal. L'Oreal memiliki beberapa jenis produk, seperti produk perawatan kulit, perawatan rambut, pewarna rambut, make-up dan produk styling. Bahkan L'Oreal juga merambah produk parfum dan produk perawatan kulit (dermatologi).
Era 1980-an, L'Oreal merupakan industri manufaktur paling besar di Prancis. Di masa inilah, Liliane mengambil langkah penting bagi pengembangan perusahaannya. Di 1984, L'Oreal membeli divisi kosmetik Warner Communications, yaitu Warner Cosmetics. Perusahaan kosmetik ini antara lain memegang merek Gloria Vanderbilt dan Ralph Lauren.
Ekspansi Grup L'Oreal terus berlanjut. Pada Maret 2006, L'Oreal membeli toko waralaba kosmetik terbesar kedua di dunia, yakni Body Shop. Nilai akuisisi tersebut sebesar € 652 juta. Pembelian Body Shop ini semakin melebarkan sayap L'Oreal untuk menjadikannya industri kosmetik yang nomor satu di dunia.
Liliane juga mulai menyasar pasar kosmetik di India. Di negeri Sungai Gangga ini, Liliane memasarkan produk kosmetik yang ramah lingkungan. Hal ini sesuai dengan kecenderungan pasar kosmetik dunia yang kini mulai memasyarakatkan konsep kembali ke alam (back to nature).
Dari India, L'Oreal lantas mengembangkan produk kosmetik alami itu ke seluruh dunia, terutama ke Eropa dan Amerika. Mujur, konsumen di kedua kawasan tersebut mulai beralih dari produk kosmetik dengan bahan kimia ke kosmetik dengan bahan alami.
Kepemimpinan Liliane berhasil membuat pundi-pundi penghasilan L'Oreal makin gendut. Pada 2001, L'oreal mampu mencetak pendapatan sebesar € 1,2 miliar. Empat tahun kemudian, laba bersihnya sudah naik menjadi € 1,9 miliar, melebihi total pendapatan pada tahun 2001. Pertumbuhan tersebut terus berlanjut. Tahun lalu, pendapatan L'Oreal berhasil menembus angka € 15,8 miliar euro, atau naik sekitar 9,5% dari
tahun sebelumnya.
Liliane memang sukses membawa L'Oreal ke puncak keberhasilan. Liliane berbagi rahasia bahwa strategi kesuksesan L'Oreal simpel saja. Pertama, dia menegaskan L'Oreal selalu berkomitmen penuh pada penelitian dan pengembangan produk baru.
Kedua, L'Oreal selalu mengedepankan inovasi dan kualitas. Ketiga, L'Oreal hanya menciptakan produk-produk yang orisinal. Keempat, Liliane menekankan perusahaan menghargai karyawan dan memberikan penghargaan bagi karyawan terbaik.
Di antara itu semua, yang paling penting dalam pengembangan L'Oreal adalah peningkatan teknologi dan inovasi. Melalui riset, L'Oreal telah berhasil mematenkan sekitar 500 unit produknya. L'Oreal juga mengembangkan 110 formula dasar kosmetik lebih dari 35 tahun.
Liliane tidak hanya berinovasi di produk. Dia juga berinovasi di bidangpemasaran dan distribusi. Untuk mereka yang gemar berbelanja di pasar swalayan, L'Oreal menyediakan produk bermerek Garnier dan Gemey. Sedangkan mereka yang lebih senang membeli kosmetik di apotek, bisa membeli Vichy.
Langganan:
Postingan (Atom)