10.18.2008

Krisis keuangan: sektor riil harus waspada

Beberapa hari ini, semua media, baik cetak maupun elektornik memberitakan tentang krisis finansial AS akibat jatuhnya Lehman Brothers, salah satu lembaga keuangan terbesar di AS. Krisis AS tersebut berdampak secara mengglobal terhadap dunia. Bahkan, Indonesia yang letaknya jauh dari AS-pun ikut terkena dampaknya baik sektor keuangan ataupun sektor riil.

Dampak yang terjadi, paling parah dialami oleh sektor keuangan bahkan beberapa hari lalu bursa efek Indonesia sempat mengalami keadaan suspend selama 3 hari akibat dari harga saham yang terus merosot tajam bahkan banyak investor yang menarik dolarnya. Pemerintahpun mengeluarkan sejumlah kebijakan seperti Buy Back saham BUMN, dan lain sebagainya.

Namun, dalam tulisan ini mencoba untuk membahas dampak yang dialami oleh sektor riil walaupun secara kasat mata dampak terhadap sektor riil belum terlihat. tetapi dalam jangka panjang yakni mulai tahun depan, dampak dari sektor riil akan mulai terasa. Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu mengatakan bahwa hingga akhir tahun ekspor Indonesia tidak akan terpengaruh dan target pertumbuhan ekspor tetap pada angka 12,5 persen dibandingkan tahun lalu. Menurutnya yang akan mendapatkan revisia adalah angka target ekspor 2009, meskipun belum secara pasti dia mengatakan angkanya.

Kendati demikian, sudah ada dampak yang dirasakan beberapa hari ini karena harga komoditas ekspor yang mengalami penurunan tajam karena jumlah permintaan berkurang, misalnya harga komoditi kakao yang turun hampir 30 persen, begitupun juga dengan harga komoditi kopi. Yang paling parah turun harga komoditinya adalah harga crude palm oil (CPO) atau yang seringkali disebut dengan minyak sawit. Selain harga komoditi yang berkurang, beberapa pengusaha juga mulai mengeluhkan adanya pengurangan ekspor ke AS. Seperti misalnya: produk mebel dan elektronik. Untuk produk mebel, Ambar Tjahjono, Ketua asmindo mengatakan bahwa terjadi penurunan order ke AS sebesar 30-35 persen. sedangkan untuk elektronik, terjadi pengurangan permintaan sebesar 10 persen. Meski begitu, terdapat beberapa produk yang masih dikategorikan aman hingga akhir tahun. seperti misalnya tekstil dan sepatu walaupun pada 2009,pengusaha tekstil dan sepatu mulai mengeluihkan terjadi pengurangan dan pembatalan order.

Dengan kondisi yang seperti ini, maka harus diwaspadai karena akan bedampak terhadap neraca perdagangan. Paling tidak kita harus menjaga ekspor agar volume tidak turun karena diprediksi untuk tahun depan ekspor Indonesia akan menurun seiring dengan turunnya harga beberapa harga komoditas. Selain menjaga ekspor, mendag mengatakan bahwa sudah saatnya kita harus mengurangi impor barang-barang konsumsi karena itu akan menambah pengeluaran negara.

Dalam rangka menjaga ekspor, Indonesia harus mencari pasar baru yang menggantikan pasar AS karena sudah dipastikan dengan krisis keuangan akan berdampak terhadap melemahnya daya beli masyatakat AS. Pasar baru di sini, adalah pasar yang memiliki potensi untuk digarap seperti misalnya Asia, Timur Tengah, dan Rusia karena mereka memiliki kondisi perekonomian yang baik karena mereka ditopang dengan minyak bumi. Tidak lupa dengan kawasan Amerika Selatan seperti Brasil yang ditengah krisis diprediksi pertumbuhannya mencapai di atas 7 persen. Sementara itu, Indonesia juga harus melihat kesempatan dengan menjalin kerjasama dengan beberapa negara tetangga di Asean. Sudah saatnya untuk Indonesia melakukan diversifikasi pasar atau mencari market baru sebagai negara tujuan ekspor.

Sayangnya, tidak hanya Indonesia yang akan mengalihkan pasar ekspornya tetapi juga negara lain yang menggantungkan ekspornya ke AS sehingga kita harus meningkatkan daya saing produk kita dengan menerapkan ekonomi kreatif untuk merebut pasar. Masih berkaitan dengan pengalihan pasar ekspor, hal itu juga akan berbahaya bagi pasar dalam negeri karena bukan tidak mungkin jika Indonesia merupakan salah satu negara tujuan pengalihan ekspor. Akibatnya dikhawatirkan serbuan barang impor dari beberapa negara, hal ini tentu saja dapat mendistorsi pasar.

sehingga, pemerintah harus segera mengambil tindakan yang tegas untuk mengamankan pasar dalam negeri. Banyak instrumen yang dapat dilakukan, misalnya: pemberlakuan SNI wajib impor, menaikkan bea masuk impor atau menetapkan kuota impor. Instrumen-instrumen ini dapat digunakan pemerintah agar serbuan brang impor tidak merugikan industri dalam negeri tapi itupun harus disesuaikan dengan kondisi industri dalam negeri. Seperti contohnya pemberlakuan SNI tidak dapat dilakukan untuk semua produk makanan minuman karena itu justru akan merugikan industri dalam negeri karena banyak para pelaku usaha makanan dan minuman yang merupakan UKM-UKM dan sulit jika SNI diterapkan karena akan kalah bersaing dengan produk impor.

Hal yang paling penting yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mengkampanyekan cinta produk dalam negeri. sehingga masyarakat harus didorong untuk membeli produk dalam negeri karena dengan menggunakan produk dalam negeri akan menolong industri dalam negeri dan menyelamtkan kondisi negara ini secara tidak langsung.

7.21.2008

I Miss My Blog

huh.....
udah lama rasanya aku merindukan blogku, ingin sekali aku menulis kembali.
namun, aku tidak memiliki waktu, pekerjaan sebagai wartawan menyita banyak waktu.
tiap hari, aku di jalan, berkutat dengan segala macam isu yang dapat dijadikan berita.

tiap hari, aku bertemu banyak orang.
tiap hari, aku diterima orang, dan
tiap hari, aku ditolak orang

cape....
senang.....
sengsara.....
itulah yang kurasakan

hal yang paling kurindukan adalah "cherish every moment"
meskipun tiap hari aku menulis, tetapi aku merindukan aktivitasku di blog
rutinitasku menjadi wartawan tidak mengijinkanku untuk menikmati kehidupan sosialku
yang kupunya hanya berita, berita dan berita
hidupku hanya untuk berita

Lancer Evolution makin sporty

Atas komitmennya untuk melakukan revitalisasi brand image kendaraan penumpang, Mitsubishi Motors di Indonesia menampilkan produk terbarunya, yakni Lancer Evolution, sedan legendaris dengan performa tinggi dan sistem 4WD. Kendaraan ini dilengkapi dengan mesin 2.0L 16 Valve DOHC MIVEC dan transmisi Twin Clutch Super Shift Transmission (TC-SST) yang powerful dan efisien. Selain itu lancer Evolution memiliki S-AWC (Super All Wheel Control) yang merupakan sistem pengontrol yang dinamis yang bekerja secara cerdas mengatur beberapa komponen untuk menyesuaikan torsi dan rem pada setiap roda sehingga dapat membaca refleksi pengemudi melalui tampilan yang luas sehingga seluruh situasi dapat cepat terlihat.

Dipatok dengan harga 875 juta, Lancer evolution memiliki teknologi maju dan performa high speed tanpa melupakan aspek keamanan dan kenyamanan berkendara. Kendaraan yang telah diluncurkan pertama kali di Jepang pada Oktober 2007, merupakan kendaraan legendaris yang pengembangnnya didasari pada keinginan membuat kendaraan yang memiliki kemampuan kecepatan tinggi namun tetap dapat dikendalikan.

Lancer Evolution memiliki profil kendaraan sedan sport masa kini yaitu dimensi bodi lebar, wheel base panjang, ground clearance rendah, front dan rear overhang pendek sehingga lebih stabil dan aerodinamis. Selain itu untuk memudahkan manuver dan pengendalian kendaraan, bobot Lancer Evolution dibuat lebih ringan dan lebih kuat dengan penggunaan material alumunium pada beberapa bagian utama seperti panel kabin, fender, bumper (depan dan belakang) dan spoiler belakang.

Tak kalah menarik, interior lancer Evolution mengkombinasikan tampilan sporty dan kelengkapan fitur fungsional did alamnya. Berbagai fitur utama ditempatkan pada panel utama dashboard sehingga mudah dijangkau dan dioperasikan oleh pengemudi. Warna interior didominasi dengan warna hitam dan aksen silver, terutama pada bagian panel instrumennya sehingga semakin memunculkan kesan sporty pada sisi interior.

Pada sistem keamanannya, Lancer Evolution telah dilengkapi dengan 18 ventilated disc brake pda roda depan dan 17 ventilated disc brake pada roda bagian belakang. Sehingga ketika terjadi pengereman secara mendadak, ABS (Antilock Braking System) akan mencegah roda terkunci dan mengatur kontrol kemudi sehingga pengemudi masih dapat melakukan manuver untuk menghindari rintangan dengan aman.

Lancer Evolution juga dilengkapi dengan SRS Airbag (Supplemental restraint Systems) sebagai sistem keselamatan tambahan yang komprehensif melindungi penumpang depan bila terjadi tabrakan. Dengan Keyless Entery & Immobilizer memungkinkan semua pintu dapat dikunci maupun dibuka dengan menggunakan remote. Immobilizer sebagai anti theft system dimana mesin hanya dapat dihidupkan ketika kode verifikasi yang tepat telah dikirmkan oleh transmitter melalui kunci elektornis.

Selain kenyamanan dan keselamatan, Lancer Evolution juga menawarkan berbagai pilihan warna yang menarik, yakni: Red Metallic, Cool Silver Metallic, Phantom Black Pearl, Lightning Blue Mica, dan White Solid.

7.01.2008

Skenario Politik DPR (HAK ANGKET BBM)

Kericuhan aksi mahasiswa karena demo menolak kenaikan harga BBM kini terulang kembali. Tanggal 24 Juni 2008, Mahasiswa yang menentang aksi kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, kembali melakukan aksinya di depan gedung DPR/MPR RI dan di depan kampus Universitas Atmajaya. Aksi massa yang awalnya merupakan bentuk solidaritas terhadap tewasnya mahasiswa Universitas Nasional dan menolak harga kenaikan BBM menjadi anarkhis setelah mahasiswa merusak brigade pertahanan polisi yang menjaga gedung DPR/MPR RI. Aksi itu dilanjutkan dengan menjebol pagar pembatas jalan tol Dalam Kota di depan gedung parlemen dan akhirnya memblokade jalan tol. Aksi anarkhis yang dilakukan oleh mahasiswa telah menyebabkan kemacetan di sejumlah ruas jalan.

Sementara itu, di depan kampus Universitas Atmajaya, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa tidak kalah anarkhis. Mahasiswa bahkan membakar mobil Toyota Avanza pelat merah yang bernomor B 1019 PQ yang kebetulan sedang melintas di jalan tersebut. Mobil pelat merah itu, dirusak terlebih dahulu sebelum akhirnya dibakar. Aksi ini ditengarai sebagai akumulasi kekecewaan dan kemarahan mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak memihak rakyat kecil bahkan terkesan menyesengsarakan rakyat.

Bersamaan dengan peristiwa tersebut, DPR akhirnya meloloskan hak angket tentang kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM melalui pemungutan suara (voting) terbuka. Dari 360 jumlah anggota fraksi yang hadir, diantaranya 233 setuju atas hak angket dan sisanya sebanyak 127 suara menolak hak angket tersebut. Fraksi yang menolak adalah fraksi Golkar dan fraksi Demokrat sedangkan fraksi yang setuju adalah FPDIP, FPPP, FPAN, FPKB, FPKS, FBPD, FPBR, dan FPDS. Fraksi yang paling banyak setuju untuk diloloskannya hak angket adalah FPDIP.

Apa yang dilakukan oleh DPR tidak lain hanyalah permainan politik belaka yang memang sengaja mereka mainkan menjelang pemilu 2009. Hak angket DPR ini digunakan oleh beberapa pihak yang berkepentingan untuk menjatuhkan pemerintahan SBY-JK. Selain itu hak angket ini juga dapat digunakan untuk memperbaiki citra DPR yang akhir-akhir ini mendapat sorotan negatif dari masyarakat karena kasus hukum (seperti: kasus korupsi al-amin dan kasus max moein).

Bagi para politisi, lolosnya hak angket ini dilihat sebagai celah untuk membenahi posisi politik mereka menjelang pemilu 2009. Sehingga terciptalah skenario politik DPR melalui hak angket DPR. Lewat hak angket BBM, pemerintah dapat melihat siapa saja sebenarnya yang menjadi partai abu-abu yakni partai yang semula mendukung pemerintahan kini secara terang-terangan menentang pemerintahan. Ketidakkonsistenan partai politik abu-abu ini menyulitkan kader mereka yang menjabat sebagai menteri dalam kabinet. Apalagi tak lama berselang, muncul pernyataan dari Syamsir Siregar, ketua BIN yang mengecam beberapa menteri dengan kata "sentoloyo". Hal ini tentu saja akan menimbulkan perpecahan dalam susunan kabinet pemerintahan SBY-JK karena tidak ada rasa saling percaya.

Dibalik hak angket tersebut, kita dapat melihat sikap plin-plan anggota DPR. Karena sebelum Pemerintah menaikkan harga BBM, sebelumnya telah dikonsultasikan terlebih dahulu dengan DPR. Dalam rapat paripurna kabinet, tidak ada salah satu anggota DPR yang menyuarakan dengan lantang ketidak setujuan mereka atas alternatif tersebut. Lantas, mengapa sekarang justru mereka berubah. Jika benar anggota DPR bersimpati kepada rakyat, maka sudah seharusnya sejak awal mereka menolak kenaikan harga BBM tersebut. Pada akhirnya, DPR hanya bisa bicara tanpa menghasilkan solusi. Keputusan yang mereka ambil merupakan kalkulasi untung dan rugi dalam hal berpolitik. Bahkan hak angket yang mereka gembar-gemborkan, masih belum jelas siapa dan bagaimana hak angket itu akan diterapkan

6.17.2008

PENGARUH INSIDE DAN OUTSIDE PATRIOTISME TERHADAP KEAMANAN WILAYAH GEOPOLITIK AS ( Studi Kasus Pengeboman Oklahoma)


Berakhirnya perang dingin belum menjamin bagi terwujudnya keamanan dan perdamaian dunia. Hal ini disebabkan karena semakin berkembangnya ancaman yang bersifat non tradisional seperti, konflik antar etnis/ras, terorisme. Ancaman non tradisional tetap menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat internasional karena merupakan bentuk ancaman terhadap perdamaian dunia yang dapat berkembang menjadi ancaman yang berskala besar. Perkembangan dan kecenderungan dalam konteks strategis memberi indikasi bahwa ancaman tradisional berupa agresi atau invasi sesuatu negara terhadap negara lain sangat kecil kemungkinannya. Sedangkan kecenderungan keamanan global memunculkan ancaman baru, yakni ancaman keamanan yang bersifat non tradisonal yang dilakukan oleh aktor non-negara. Ancaman keamanan non tradisional tersebut pada awalnya merupakan ancaman terhadap keamanan dan ketertiban publik. Namun pada tingkat eskalasi tertentu, ancaman dapat berkembang sampai pada taraf yang membahayakan keselamatan bangsa.

Studi kasus yang diambil adalah peristiwa pengeboman di kota Oklahoma, AS yang mana dianggap sebagai teror yang membahayakan keselamatan bangsa AS. Hal inilah yang menimbulkan goncangan pemerintah Amerika Serikat. Pengeboman Oklahoma City adalah sebuah serangan teroris di mana gedung Federal Alfred P. Murrah, sebuah kompleks perkantoran pemerintah AS di pusat kota Oklahoma City, Oklahoma dihancurkan dengan menewaskan 168 orang. Kasus ini adalah serangan teroris domestik terbesar kedua dalam sejarah Amerika Serikat.

Bom tersebut, diletakkan dalam sebuah truk sewaan, diledakkan di jalan gedung tersebut pada 19 April 1995 pukul 09.02 pagi waktu setempat. 2.300 kg bahan peledak, dibuat dari Amonia nitrat, sejenis pupuk yang digunakan dalam pertanian, nitrometan, sejenis bahan bakar untuk mobil balap. Pelakunya adalah Timothy McVeigh, seorang veteran Perang Teluk, yang ditangkap sejam setelah kejadian tersebut setelah secara kebetulan ditangkap polisi karena mobilnya tidak mempunyai plat kendaraan dan Terry Nichols, seorang simpatisan yang anti-pemerintah.

Tujuan McVeigh melakukan peledakan ini adalah karena dia menganggap bahwa perlawanan yang dilakukannya dinilai sah apabila bertujuan untuk melawan peradaban yang dianggapnya salah sehingga arena itu patut untuk dihancurkan. Banyak pihak yang berpendapat bahwa McVeigh memang seorang aktivis anti-pemerintahan yang ekstrim. Dia seringkali mengutip dan menyinggung sebuah novel kontoversial yang berjudul The Turner Diaries yang menggambarkan aksi terorisme untuk menyerang ibukota AS, Washington sama dengan tindak kejahatan biasa yang telah ia lakukan. Sikap anti-pemerintah McVeigh ini juga disebabkan karena kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah Amerika setelah terjadinya Perang Teluk untuk mengeksekusi tawanan perang yang telah menyerah dan banyaknya pembunuhan yang dilakukan oleh tentara Amerika sepanjang rute yang dilalui ketika meninggalkan Kuwait. Sehingga dapat dikatakan bahwa unsur inside patriotisme sangat berpengaruh dalam menyebabkan munculnya gerakan teroris domestik seperti yang dipelopori oleh McVeigh.

Akibat langsung dari pengeboman Oklahoma City adalah diluncurkannya RUU Antiterorisme (Omnibus Counterterrorism Act) tahun 1995, yang disetujui oleh Kongres dan Senat, kemudian disahkan oleh Presiden Clinton. Salah satu klausulnya mengizinkan pemerintah AS untuk menggunakan bukti-bukti dari sumber-sumber rahasia dalam proses pendeportasian orang asing yang dicurigai terlibat terorisme, tanpa harus mengungkap sumber rahasia tersebut. Sehingga McVeigh akhirnya dihukum mati dengan suntikan mati di Indiana pada 11 Juni 2001.

Menurut pemerintah AS, motif peledakan tersebut adalah untuk membalaskan dendam atas kelompok Ranting Daud di Waco, Texas, yang menurut McVeigh telah dibunuh oleh agen-agen pemerintah federal. Peristiwa pengeboman itu merupakan salah satu manifestasi dari warga AS yang tidak puas dengan aparat pemerintah dan menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah semata –mata demi kepentingan warga yang tertindas dan sebagai wujud rasa nasionalisme yang tinggi yang mengarah kepada sikap patriotisme selanjutnya mempengaruhi tingkat keamanan dan ketahanan nasional suatu negara.

Pengeboman yang terjadi di Oklahoma yang mengakibatkan kematian dan tragedi diakibatkan oleh logika tindakan patriotis yang menyedihkan McVeigh mengalami trauma karena kegagalannya menjadi seorang yang berbaret hijau, teralienasi dari hubungan kasih sayang dengan orang lain dan sebagai gantinya mencintai senjata, rutinitas militer dan cara memuja orang murtad/pengkhianat pratiotis, kemudian ia mengidentifikasi seperti halnya suatu ‘kanker’ baik di dalam maupun diluar dan mencarinya sebagai seorang patriot yang mencoba memberantasnya.

Sikap yang dimiliki oleh McVeigh ini dipicu oleh ideologi rasis dan fasis. Menurutnya pengeboman itu merupakan taktik yang sah dalam perang pribadinya melawan pemerintah Federal. Dengan mengidentifikasi inside dan outside, bangsa AS dapat ditransformasikan dari alibi fasis dengan kejahatan sebagai sarana untuk mengingat rahasia keyakinan patriotisme dan seringkali rasa patriotisme ini menimbulkan kejahatan. Ketika suatu negara melakukan teror terhadap warganegaranya, maka akan sangat mungkin terjadi apabila warganegaranya itu melakukan teror terhadap pemerintah yang dipicu oleh rasa patriotisme.

Inside / outside patriotisme memberi pengaruh sangat besar pada upaya menjaga stabilitas keamanan Amerika, khususnya pasca peristiwa peledakan di Oklahoma. Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada jatuhnya ratusan korban jiwa, namun juga telah membawa perubahan pada cara pandang Amerika terhadap geopolitiknya. Peristiwa peledakan Oklahoma yang pada awalnya belum diketahui secara pasti siapa pelakunya, telah membuka mata Amerika bahwasanya musuh ataupun ancaman tidak hanya datang dari luar wilayah geografi Amerika. Karena tidak menutup kemungkinan jika pelaku peledakan tersebut adalah warga negara Amerika sendiri. Warga negara Amerika yang telah menjelma sebagai teroris bagi negaranya sendiri sebagai konsekuensi dari keyakinan ataupun ideology yang diyakininya.

Kenyataan yang kemudian terjadi di lapangan menunjukan bahwa memang warga negara Amerika Serikat sendirilah yang melakukan serangan di Oklahoma, dialah Timothy McVeigh seorang veteran Perang Teluk. Apa yang dilakukan oleh McVeigh merupakan bentuk dari inside patriotism. Bahwa tindakannya dia anggap sebagai bentuk dari heroisme, meskipun itu bertolak belakang dengan pemerintahnya sendiri. Dia menganggap bahwa ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah adalah bentuk dari tindakan terorisme yang sebenarnya.Bahkan Pierce sebagai penulis novel The Turner Diaries mengatakan bahwa Presiden Cilinton dan Janet Reno, Jaksa Agung adalah sebenar-benarnya teroris.

Sebelum serangan di Oklahoma, Amerika masih beranggapan bahwa ancaman hanya berasal dari negara lain. Pasca Perang Teluk, Amerika yang semakin aktif dalam melakukan agresi terhadap berbagai negara dengan berbagai macam alasan, akan tetapi semuanya telah berubah, Amerika Serikat perlu mengubah paradigma kebijakan keamananya yang selama ini hanya berkonsentrasi pada ancaman dari luar, menjadi adanya sebuah penyeimbangan antara keamanan dalam negeri dan keamanan luar negeri.

Matthew Sparke menyatakan bahwa pola hubungan antara inside dan outside sangat jelas saling berkaitan. Namun, hegemonik geopolitik itu selama ini terbagi atas outside yang berasal dari inside budaya populer bangsa Amerika, yaitu dua peristiwa yang secara umum dipandang sebagai sesuatu yang tidak ada kaitannya. Padahal diantara keduanya memiliki kaitan yang erat, sebagai penjelasnya adalah bahwa setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah federal AS akan mendapatkan tanggapan yang berbeda dari pihak luar atau dalam hal ini outside. Setidaknya bahwa tindakan dan aksi ancaman yang datang dari luar sebetulnya disebabkan dari kebijakan-kebijakan yang luar negeri yang datang dari AS (dari sisi inside AS) sendiri.

Lebih dari itu peristiwa Oklahoma menunjukan bahwa kebijakan domestik yang tidak populerpun akan melahirkan musuh dari dalam. McVeigh yang tidak puas terhadap kebijakan domestik pemerintah federal ingin menunjukan bahwa dirinya adalah patriot, kecintaannya pada tanah airnya menggerakannya untuk melakukan aksi protes terhadap pemerintah dengan melakukan peledakan, yang baginya itu dianggap sebagai bentuk heroisme dirinya terhadap tanah airnya akibat ketidakadilan yang kemudian dianggap sebagai terorisme yang dilakukan oleh pemerintah terhadap warga negaranya sendiri.

Dalam peristiwa tersebut teori hearthland dipakai, dimana yang menjadi sasaran dari aktivitas pengeboman adalah jantung kota Oklahoma City. Kalau dahulu para pemimpin dunia fasis seperti Hitler mengejar penguasaan terhadap wilayah jantung Eropa untuk menguasai dunia, maka pada saat ini untuk menguasai dunia yang dicoba dikuasai adalah wilayah-wilayah jantung suatu negara, sebagaimana yang dilakukan oleh para teroris. Taktik ini dipakai oleh para teroris karena mereka sadar bahwa menggunakan lokasi dan tempat yang sama sebagai sasaran teoris akan sangat berbahaya. Mereka lebih cenderung menyukai tempat yang berbeda dengan asumsi penting bahwa tempat yang diserang adalah merupakan wilayah jantung atau pusat, baik itu wilayah jantung kota maupun wilayah jantung sebuah negara. Suwandono, Pembantu Dekan I Fisipol UMY mengatakan bahwa Amerika Serikat sebagai daerah nonperang pernah mengalami peristiwa pengeboman dahsyat, namun situs pengeboman memiliki kecenderungan beralih dari kota Oklahoma ke Washington, tetapi daerah yang diserang cenderung sama yaitu sebagai daerah jantung atau pusat perdagangan dunia, baik Oklahoma maupun Washington.

Cara pandang baru ini tentunya harus mendapatkan perhatian khsusus karena, wilayah jantung dunia yang dahulunya dianggap hanya berada di wilayah sekitar Eropa saat ini telah menyebar ke seluruh pusat-pusat kota suatu negara. Cara pandang ini adalah pengaruh dari inside patriotism dimana kebijakan suatu pemerintahan yang tidak populer akan memunculkan bibit aksi teroris dari dalam negeri suatu negara. Warga negara yang merasa hak-haknya tidak dipenuhi atau bahkan dicurangi oleh pemerintah yang berkuasa di masa sekarang dan masa depan dapat menjadi ancaman serius bagi suatu pemerintahan negara.

Studi kasus Oklahoma memberi gambaran yang begitu jelas bagi kita bahwa Amerika harus mengubah cara pandangnya terhadap ancaman keamanan wilayah geopolitiknya. Hal ini terkait dengan persoalan globalisasi, bahwa tindakan terorisme sudah tidak mengenal batas-batas geografi suatu negara. Amerika yang bukan daerah perang saja bisa menjadi sasaran tindakan perang atau aksi teroris. Semakin kuatnya hubungan inside-outside dalam artian hubungan domestik dengan internasional, berpengaruh pada mobilitas tindak kejahatan, artinya tidak hanya penyebaran teknologi saja. Jika globalisasi mengakibatkan deteritorialisasi (melemahnya batas-batas teritorial) pada negara maka isu pertahanan domestik harus dipertimbangkan secara lebih serius. Karena kondisi ini akan mengakibatkan tumbuh suburnya inside patriotism sebagai akibat kuatnya hubungan inside-outside. Maka kemudian tidak heran jika Christie mengatakan bahwa diskursus pertahanan dalam negeri (homeland defense) telah banyak dipertanyakan oleh komunitas pertahanan masyarakat Amerika Serikat untuk menjadi konsep baru yang sangat dibutuhkan dalam dunia global.

Akankah Rusia berjaya seperti Uni Soviet


Revolusi yang terjadi di akhir decade abad 20 telah membawa kehancuran Uni Soviet yang telah dibangun selama lebih kurang 7 dasawrsa. Uni Soviet secara resmi berakhir pada tanggal 25 desember 1991 ketika presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev mengumumkan pengunduran diri menyusul kemelut politik sebagai kelanjutan kudeta yang gagal pada pertengahan Agustus 1991. Bersamaan dengan hal itu, Uni Soviet yang merupakan salah satu kekuatan hegemoni di dunia ikut menghilang.

Memasuki awal abad 21, masalah yang dihadapi Rusia baru semakin rumit dan kompleks. Sebagai negara yang mewarisi kebesaran Imperium Rusia dan Uni Soviet, Federasi Rusia memiliki tugas-tugas histors-kultural untuk tetap mempertahankan high profil sebagai warisan dari dua kekuatan yang disegani dunia pada masa yang berbeda, dengan tantangan zaman yang lebih kompleks.

Warisan wilayah yang begitu luas dengan struktur masyarakat yang plural, system dan kondisi ekonomi yang morat-marit merupakan persoalan berat yang harus dipecahkan. Proses transisi menuju masyarakat demokrasi dengan system ekonomi pasar bebas dipilih untuk menggantikan system ekonomi kolektif terpusat yang selama beberapa decade dituangkan dalam Gosplan ( badan perencanaan negara ) yang berlaku sejak 1921 dan kegiatannya dianggap menimbulkan stagnasi ekonomi yang berujung pada kehancuran system Uni Soviet.

Rusia yang sekarang telah kehilangan kekuatan hegemoninya berusaha untuk bangkit kembali dan berkeinginan untuk menjadikan Rusia seperti Uni Soviet yang dahulu. Menurut penulis, keinginan masyarakat Rusia untuk seperti Uni Soviet yang dahulu belum dapat terwujud, karena Uni Soviet masih kalah apabila dibandingkan dengan kekuatan AS. Ketertinggalan Rusia akibat krisis ekonomi dan politik ketika zaman Uni Soviet membuat negara ini kalah unggul dibandingkan dengan AS. Namun, kemungkinan bahwa Rusia akan menjadi seperti Uni Soviet akan terwujud, hanya saja orientasi waktunya belum untuk saat ini karena Rusia sedang menata negaranya. Ada beberapa faktor yang menghambat dan mendukung Rusia bisa menjadi negara superpower.

FAKTOR PENGHAMBAT :

o Disintegrasi bangsa

Disintegrasi Uni Soviet mewariskan berbagai masalah nasional republik-republik bekas negara adidaya itu. Dibandingkan republik-republik lainnya. Rusia yang merupakan bagian terbesar Uni Soviet memiliki permaslahn yang lebih kompleks. Pluralisme masyarakat yang mendiami wilayah Federasi Rusia memiliki potensi disintegratif apabila perangkat federal sebagai penyatu elemen-elemen masyarakat yang multietnis tidak bergungsi dengan baik.

Di samping itu proses transisi dari RSFSR ( republik bagian dari uni soviet ) menjadi Federasi Rusia masih menyisakan beberapa persoalan yang bisa jadi menjadi bom waktu di masa yang akan datang. Gerakan separatisme yang memanfaatkan sentiment agama, etnis maupun ketidakadilan structural bisa muncul di kantung-kantung etnis yang terebar di seluruh penjuru Rusia. Konflik Chenchnya merupkan satu contoh dari gerakan separatisme di mana symbol-simbol agama dan etnis menjadi bagian integral dari gerakan itu.

o Hubungan Rusia dengan Persemakmuran negara-negara merdeka

Persemakmuran negara-negara merdeka atau CIS terbentuk seiring dengan proses kehancuran Uni Soviet. Pemebntukan CIS lebih didasari pada upaya menyatukan negara-negara baru yang sebelumnya tergabun dalam Uni Soviet namun dalam kondisi yang lebih longgar. Hampir semua republik bekas Uni Soviet ( kecuali negara-negara Balkan ) bergabung dalam CIS.

Masing-masing negara tersebut memiliki potensi untuk maju mengingat potensi sumber daya negara-negara tersebut yang besar. Potensi baik dalam infrastruktur maupun sumber daya manusia itu hanya bisa terwujud apabila diolah secara kolektif dalam wadah persemakmuran, mengingat Uni Soviet sebagai system telah mewariskan keunggulan dan keunikan sistematik yang mengharuskan negara-negara di kawasan itu untuk bekerja sama untuk mendapatkan hasil yang optimal. Namun, sayangnya keinginan ini tentu mendapat hambatan baik dari luar maupun dari dalam negara-negara persemakmuran tersebut. Rusia belum memiliki suatu kekuatan yang dominant untuk memaksakan integrasi kepada negara-negara persemakmuran tersebut.

o System politik dan Pemerintahan Rusia yang baru ( demokratis )

Meskipun Rusia menggunakan system ekonomi pasar bebas, namun, pada dasarnya masyarakat Rusia belum sepenuhnya menerima konsep demokrasi yang sekarang ini mereka anut. Bahkan system politik yang demokratis tidak membawa mereka ke arah hegemoni. Selama 20 tahun, sejak Presiden Gorbachev lengser dan digantikan Boris Yeltsin, Rusia kehilangan pamor sebagai negara adi daya. Liberalisasi ekonomi dan budaya, yang cenderung bercorak Barat, telah menenggelamkan kehebatan reputasi Rusia yang pernah tampil sebagai imperium besar selama lima abad (abad 15-20), dan pemimpin “Blok Timur” yang perkasa (1924-1989). Walaupun tidak kehilangan hak veto di Dewan Keamanan (DK) PBB, Rusia masa kini bukanlah Rusia dua puluh tahun yang lalu, yang mampu menyetir dunia, mengimbangi AS.

Berdasarkan kondisi itulah, barangkali, Vladimir Putin, yang menggantikan Yeltsin sejak tahun 2000, mulai menggagas sentralisasi model zaman Uni Soviet. Semua kekuasaan politik dan geografis, terpusat ke Kremlin. Ke tangan presiden, yang menjadi satu-satunya penguasa tunggal Rusia. Desentralisasi yang telah berlangsung sejak pembubaran Uni Soviet tahun 1990, dan dijalankan dengan patuh oleh Presiden Boris Yeltsin, sebagai penerus glasnos dan perestroika, Mikhail Gorbachev, sedikit demi sedikit disingkirkan Putin.

Risikonya, demokratisasi Rusia, yang telah dinikmati sedemikian rupa oleh rakyatnya, akan berbalik arah lagi ke model diktatorial. Ini jika Putin benar-benar memaksakan kehendaknya, karena merasa didukung kalangan elite Rusia penikmat rezim komunis di masa lampau. Tokoh-tokoh pendukung “sovietisasi” Putin, terdiri dari kalangan politikus dan negarawan tingkat tinggi. Mereka rata-rata sudah bosan menghadapi kebebasan yang terlalu leluasa dimiliki segenap lapisan masyarakat, tanpa strata.

gagasan sentralisasi Presiden Putin akan mengakhiri demonstrasi kebablasan dan membatasi ruang gerak para ekstremis yang berlindung di balik agama, budaya, atau lainnya. Beberapa media massa terkenal juga menyuarakan keinginan agar sentralisasi cepat terlaksana. Tajuk rencana harian paling populer di Rusia Moskovsky Komsolets menyatakan, masyarakat Rusia tidak cukup dewasa untuk menerima demokrasi. Tradisi dan budaya masyarakat Rusia lebih cocok untuk sistem kediktatoran. Sedangkan surat kabar Izvestia yang pro-pemerintah mengakui bahwa selama 15 tahun menjalankan demokrasi, Rusia tidak efisien. Malah mendekati kebangkrutan di segala bidang. Termasuk harga diri Rusia yang telah mentradisi sejak zaman Tsar hingga zaman komunis.

o Teknologi militer ( Pertahanan dan Keamanan )

Dalam bidang militer, Rusia belum sekuat AS dan teknologi dalam bidang militer masih kalah dengan AS. Senjata-senjata pemusnah massal yang dimiliki oleh Rusia kualitasnya berada di bawah AS, Rusia hanya bisa mengembangkan teknologi nuklir, sedangkan AS sudah mengembangkan program star wars-nya ( perang bintang ). Keadaan ini membuat Rusia belum memiliki potensi sebagai superpower saingan AS.

Rusia mewarisi sebagian besar kekuatan militer Uni Soviet, namun kesulitan ekonomi yang melanda Rusia membuatnya kesulitan membiayai kekuatan militernya. Yang paling sulit dirasakan Angkatan Laut yang banyak membesituakan armadanya, termasuk kapal-kapal induknya sehingga saat ini hanya memiliki satu kapal saja. Setelah musibah kapal selam Kursk di Laut Barents pada tahun 2000, kekhawatiran berbagai pihak bahwa Angkatan Laut Rusia dalam waktu dekat akan musnah bertambah. Hal yang sama dialami oleh Angkatan Darat dan Angkatan Udara, namun keduanya tidak separah Angkatan Laut karena masih mengadakan riset untuk memperbaharui persenjataan yang dimilikinya meskipun tidak semaju Amerika Serikat maupun pada masa Uni Soviet.

Rusia masih memiliki persenjataan nuklir warisan Uni Soviet yang sebagian diduga dimiliki oleh negara-negara federasinya dan juga oleh negara-negara yang kini independen seperti Ukraina dan Kazakstan. Uni Soviet dahulu memiliki stasiun peluncur ruang angkasa (kosmodrom) di Baikonur, namun kosmodrom tersebut saat ini berada di wilayah Kazakstan dengan berpenduduk Rusia-Kazakh dan memiliki tingkat kriminalitas tertinggi. Untuk itu Rusia merasa perlu untuk mencarikan stasiun pengganti untuk kepentingan ruang angkasa baik kepentingan sipil, bisnis, dan militer.

FAKTOR PENDUKUNG

o Ekonomi

Untuk membangun kembali kekuatannya, Rusia perlu membenahi kondisi perekonomiannya terlebih dahulu. Dalam konteks ini, Rusia melirik kawasan Timur Tengah. Kerjasama Rusia dengan negara-negara di Timur Tengah dan Teluk Persia, dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan tajam. Sejak mengalami keterbukaan (glasnost) dan restrukturisasi (perestroika) akhir tahun 1980-an, perekonomian Rusia praktis mengalami revolusi besar-besaran. Dari suatu kebijakan ekonomi terpusat yang berlangsung hampir delapan dekade, Rusia kini harus menghadapi ekonomi yang sepenuhnya diatur mekanisme permintaan dan penawaran yang ada dalam pasar.

Menunggu dana dari luar, baik berupa kredit dari lembaga keuangan internasional maupun investasi asing langsung, bukan suatu yang serta-merta datang. Banyak alasan seperti perlu reformasi dan pembenahan dalam regulasi, administrasi, dan deregulasi di sektor bisnis.

Organisasi bagi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pernah memberi kredit bagi percepatan reformasi dalam sektor kelistrikan, deregulasi untuk bisnis, kebangkrutan, dan di sektor militer, regulasi dan administrasi.

Sembari membenahi berbagai regulasi yang ada guna menarik investor, Pemerintah Rusia akhirnya melihat bahwa upaya menjaga pertumbuhan perekonomiannya lebih baik dengan bergantung pada berbagai faktor keunggulan di dalam negeri. Apalagi, Presiden Vladimir Putin bertekad untuk menjadikan Rusia kembali disegani dan menjadi salah satu kekuatan dunia di samping Amerika Serikat (AS) sebagaimana di era Perang Dingin.

Laporan OECD pekan lalu menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Rusia tahun 2003 ini bakal mencatat 5,0 persen. Suatu tingkat pertumbuhan yang cukup meyakinkan. Tahun 2004 diperkirakan sedikit turun menjadi 3,5 persen. Tahun 2002, Rusia mencatat pertumbuhan ekonomi 4,3 persen, sedikit turun dari 5,0 persen tahun sebelumnya.

Pendorong utama dari perekonomian Rusia adalah industri perminyakan. Dengan harga minyak yang melampaui 20 dollar AS per barrel, Rusia yang merupakan penghasil dan pengekspor minyak mentah terbesar di dunia memperoleh surplus dana dari ekspor minyak. Masuknya investor minyak terutama dari British Petroleum semakin meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap Rusia.

Mengaitkan upaya Rusia mempertahankan pertumbuhan ekonominya, maka penjualan produk persenjataan Rusia kini menjadi bagian lain yang tak kalah pentingnya dalam memberikan kontribusi bagi perekonomian. Apalagi jika dilihat bahwa kini banyak negara menghadapi kendala menjaga keutuhan kedaulatan wilayah, sementara di lain pihak, AS sebagai negara pemasok senjata utama terus "bertingkah" dengan berbagai sikap yang kadang sulit dimengerti.

Tidak mengherankan, selain mengharapkan dari ekspor minyak mentah dan mempertaruhkan prospek pertumbuhan ekonomi dalam negeri dari konsumsi lokal, Rusia kini mulai menempatkan pemasukan devisa dari penjualan persenjataannya. Sekalipun mungkin tidak secanggih peralatan dari AS dan Barat, tetapi peralatan perang Rusia tetap dibutuhkan banyak negara dalam kaitan untuk mengawasi keutuhan wilayah dari berbagai aksi separatis bersenjata sebagaimana di Aceh, misalnya.

o Sarana diplomasi yang dilakukan Rusia

Setelah keruntuhan Uni Soviet, Rusia mulai mengambil kebijakan baru yaitu lebih menekankan peran Rusia dalam percaturan Internasional. Rusia berusaha untuk menggaet negara-negara di dunia dalam rangka menjalin hubungan baik dengan negara-negara tersebut. Hal ini dimulai oleh Rusia dengan menjalin hubungan dengan negara-negara Timur Tengah yang mana banyak bersinggungan dengan AS. Kesempatan baik itu diambil oleh Rusia untuk mengambil hati negara-negara tersebut. Apalagi sekarang banyak negara-negara berkemabang lebih menyukai kerjasama dengan Rusia daripada dengan AS karena kerjasama Rusia merupakan murni bantuan tanpa ada imbalan atau unsur bisa mencamupri urusan dalam negeri sebuah negara.

Glasnot dan Parestroika


Secara etimologi Perestroika berasal dari akar kata kerja “Stroit“ ( membangun / mendirikan) yang mengalami pembendaan menjadi “Stroika“ ( bangunan/ struktur) dan awalan “Pere” yang artinya “re-“ atau kembali. Dengan demikian secara harfiah perestroika berarti restrukturisasi. Perestroika adalah sebuah restrukturisasi untuk mengantisipasi proses stagnasi ( zastoy ) dan kelumpujan total dengan meciptakan mekanisme percepatan ( uskoroine ) yang efektif bertumpu pada kinerja dan karya nyata masyarakat pada perkembangan demokrasi dan perluasan keterbukaan.

Pada gilirannya Perestroika menjadi istilah asli Rusia sebagai ganti kata asing yang juga lazim digunakan seperti Reformatsiya ( gerakan reformasi eropa ) atau reforma ( reformasi ). Dipakainya istilah perestroika untuk memberikan penekanan khusus pada reformasi ala Rusia di satu sisi dan untuk membedakannya dengan berbagai reformasi yang dilakukan pada masa-masa sebelumnya.

Pada dasarnya Perestroika adalah proses yang ditujukan untuk memperbaiki dan memperbarui struktur pemerintahan dan masyarakat Soviet yang pada akhirnya ditujukan untuk memperkuat system sosialisme. Tujuan akhir dari langkah reformis ini adalah untuk memperbaiki masyarakat secara politik, ekonomi, dan moral. Sedangkan Glasnot ( keterbukaan ) berasal dari kata “ golos “ yang artinya suara. Hal ini mengisyaratkan bahwa pembungkaman yang tersistemasi selama beberapa dasawarsa terakhir telah mengakibatkan tidak terakomodasinya partisipasi public dalam proses kehidupan politik dan social. Keterbukaan memperbolehkan suara yang selama ini dibatasi dan dibungkam untuk muncul ke permukaan. Secara umun dampak kebijakan Glasnot dan perestroika dapat dikelompokkan menjadi :

v Bidang Ekonomi

Pada bidang ekonomi, pemerintah melakukan perluasan independensi perusahaan-perusahaan negara serta memperkuat perkembangan sector koperasi. Pemangkasan system birokrasi untuk meningkatkan hasil produksi. Pada siding pleno komite sentral tahun 1987 diungkapkan reformasi ekonomi secara radikal yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi kerja, tingkat hidup masyarakat dan peningkatan produksi yang menjadi kebutuhan rakyat dan penjaminan keadaan kaum pekerja sebagai tuan dalam proses produksi dan masyarakat.

Sejak musim panas tahun 1990 pemerintah memperbolehkan system kepemilikan pribadi yang mana sebelumnya hal ini dilarang dan privatisasi. Sehingga dimulailah apa yang kemudian dikenal dengan “Ekonomi Pasar“ di mana salah satu program yang cukup terkenal “program 500 hari “. Program ini adalah upaya untuk menuju “ ekonomi pasar” dalam waktu 500hari dengan cara memindahkan perusahaan perdagangan dan industri (milik negara) kepada pemilikan pribadi yang diikuti dengan perubahan kebijakan keuangan, pengenalan harga bebas (ditentukan oleh pasar). Namun, sayangnya langkah tersebut justru menimbulkan berbagai gejala social seperi meningkatnya pemogokan dan kriminalitas. Hal ini dikarenakan Rusia sedang ada dalam masa transisi yakni menuju demokrasi.

Meskipun program 500 hari itu tidak berhasil tetapi system perekonomian yang baru ini lebih memberikan pilihan dan alternative yang baik daripada system sebelumnya yang desentralistik, karena pihak swasta di beri kesempatan untuk berkemabng. System perekonomian baru yang menganut system kompetisi pasar telah meningkatkan efisiensi produk dari Rusia. Pada akhirnya nanti, system ini akan memunculkan suatu suatu bentuk tatanan yang baru, meskipun lambat tetapi system ini dapat meningkatkan perekonomian Rusia. Contoh : para pengusaha kecil telah menyumbangkan 12 % dari pendapatan domestic rusia (GDP).

v Bidang Budaya

Pertengahan tahun 1980-an merupakan awal tahapan baru perkemabngan masyarakat Uni Soviet yang didasarkan pada pembaharuan seluruh bidang kehidupan. Perubahan revolutif yang dimulai sejak April 1985 dalam seluruh kehidupan masyarakat telah menciptakan kondisi baru bagi perkembangan budaya baik bagi masyarakat secara umum maupun individu secara terpisah. Terciptalah iklim baru yang menyentuh bidang budaya.

Glasnost telah membawa perunahan yang berarti nagi kehidupan intelektual dan perkemabngan ilmu pengetahuan, seni dan budaya. Dihapuskannya sensorship terhadap pers yang bersifat ideologis yang selama ini mengekang kebebasan berpikir dan berekspresi. Masyarakat pada akhirnya diperbolehkan memikirkan ulang proses sejarah nagsa yang selama ini didominasi oleh satu pendapat dominan yang berujung pada selera elite partai. Dengan dibukanya arsip yang sebelumnya dirahasiakan, sejarah hitam yang menyelimuti proses kelahiran dan perjalanan Uni Soviet menjadi terungkap. Data-data tentang korban perang saudara, perang dunia II dan beberapa jumlah tahanan yang mendekam di Gulag masa Stalin, merupakan contoh kecil mengenai hal-hal yang selama ini disengaja ditutupi dan dilupakan.

Tradisi kesusastraan Rusia menempati posisi terhormat dan memberikan sumbangan besar tak hanya bagi kebudayaan Rusia tetapi juga pada perkembangan sastra dunia,dengan runtuhnya rezim Uni Soviet membewa dampak pada hubungan yang harmonis antara pemerintah dengan karya sastra. Hilangnya dikte penguasa terhadap karya sastra di satu sisi disertai hilangnya pemesan tunggal yang pasti, membawa karya kepada kebebasan penuh dan terkadang dihadapkan pada permintaan dan selera pasar.

Kehidupan spiritual keagamaan merupakan salah satu yang tersentuh angina keterbukaan yang dihembuskan Glasnot dan Perestroika. Dimulailah berbagai restorasi tempat-tempat beribadah dan tempat-tempat suci agama. Pada tahun 1988 bahkan diadakan peringatan secara besar-besaran 1000 tahun diadopsinya Kristen ortodoks ke Rusia. Budaya gereja Ortodoks, ritual-ritual dan perayaan hari besar keagamaan dikembalikan pada kehidupan masyarakat.

Selain kebeasan menjalankan aktivitas ritual. Kehidupan kegamaan juga didorong dengan diperbolehkannya kegiatan politik para kelompok-kelompok beragama. Dari tahun 1990 hingga 1998 tercatat peningkatan signifikan jumlah organisasi massa yang berbasis agama. Keberadaan organisasi ini mendorong upaya pengenalan kembali agama dalam kehidupan masyarakat Rusia. Uapya ini membawa dampak positif bagi revitalisasi beragama di Rusia.

v Bidang Politik

Perestroika tidak mungkin terwujud tanpa demokratisasi masyarakat dan perkembangan perikehidupan social. Perestroika yang terdiri dari serangkaian reformasi serius semua system pengendalian, dimaksudkan untuk merombak semua system yang telah terbentuk yang telah terbentuk sejak tahun 30-an dan 70-an yang tidak memberikan yang tidak memberikan ruang gerak bagi inisiatif pribadi. Glasnost memungkinkan masyarakat mengetahui tidak hanya sisi baik, tetapi juga sisi buruk masyarakat Soviet semenjakl revolusi Bolshevik yang diharapkan membawa mereka kepada masyarakat sosialis dan komunis yang dicita-citakan.

Langkah pembaharuan dilakukan juga pada struktur politik negara. Pada Desember 1988 Dewan Tertinggi Uni Soviet memasukkan amandemen Konstitusi untuk upaya reformasi system politik. Beberapa perubahan pokok menyangkut: prosedur pemilihan umum yang baru, Sidang Deputat (Wakil) Rakyat sebagai lembaga tertinggi negara dan Dewan Tinggi sebagai organ pelaksana tetap yang terdiri dari 2 kamar.

Begitu angin keterbukaan dihembuskan, aspirasi politik yang biasanya hanya boleh disalurkan lewat partai komunis, kini boleh disuarakan oleh keuatan politik lain. Tercatat sejak tahun 1989 hingga 1993 muncul sedikitnya 36 partai politik dan organisasi massa yang siap menjadi corong aspirasi masyarakat Rusia. Dalam system pemerintahan Rusia pasca pemerintahan Uni Soviet adalah sebuah negara yang berbentuk federasi yaitu terdiri daro 89 subjek federasi. Kekuasaan pemerintahan da;am lingkup negara dipegang oleh Presiden, Dewan Federasi, Pemerintah dan Kehakiman. Sedangkan dalam ruang lingkup subjek Federasi Rusia adalah oleh organ kekuasaan setempat.

Sebelum tahun 1989 badan legislatif tertinggi Uni Sovyet disebut Sovyet Tertinggi. Sovyet artinya majelis, jadi Sovyet Tertinggi berarti Majelis Tertinggi. Untuk melaksanakan tugas pada saat Sovyet Tertinggi tidak bersidang dipilih satu presidium yang terdiri dari seorang ketua, seorang wakil ketua satu dan 15 wakil ketua dari 15 republik Sovyet, ditambah sejumlah anggota dan seorang sekretaris. Ketua Presidium inilah yang sering disebut sebagai presiden Uni Sovyet. Untuk menjalankan tugas eksekutif, Sovyet Tertinggi mengangkat sebuah Dewan Menteri atau kabinet yang beranggota sekitar 80 orang, yang dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Walaupun resminya Sovyet Tertinggi merupakan pemegang wewenang tertinggi di Uni Sovyet, namun dalam praktek, yang lebih berkuasa adalah Polit Biro dan Komite Sentral Partai Komunis. Komite Sentral bersidang sebelum sidang Sovyet Tertinggi, dan disinilah diolah segala perundang-undangan serta calon-calon yang akan menempati kedudukan kedudukan penting. Pada saat Sovyet Tertinggi bersidang para anggotanya hanya tinggal menyetujui saja dengan suara bulat rancangan yang sudah disiapkan komite sentral partai itu. Jadi walaupun resminya keputusan diambil Sovyet Tertinggi namun badan itu sebenarnya hanya tukang stempel. Begitupun dalam hal pemilihan pejabat-pejabat penting. Untuk mengendalikan kebijaksanaan negara, Komite Sentral Partai Komunis mengangkat sebuah Polit Biro yang beranggota antara 10 dan 12 orang ditambah sejumlah anggota kandidat, yang umumnya memegang posisi-posisi penting seperti kepala dinas rahasia KGB dan menteri pertahanan. Polit Biro yang dipimpin sekretaris jenderal partai melakukan pertemuan sekali seminggu, dan apa yang dibicarakan jarang diketahui umum.

Pada tahun 1989, dalam semangat glasnost dan perestroika, sistem ketatanegaraan Sovyet mengalami perombakan. Pemilihan umum dengan multi-calon diselenggarakan untuk memilih Kongres Wakil-Wakil Rakyat yang beranggota 2250 orang. Sepertiga dipilih oleh Partai Komunis dan berbagai organisasi kemasyarakatan lain, sepertiga lainnya dipilih langsung oleh rakyat melalui sistem distrik, dan sepertiga lagi dipilih oleh berbagai republik yang tergabung dalam Uni Sovyet. Hasilnya mengejutkan. Calon-calon non-komunis terpilih dimana-mana. Kongres Wakil-Wakil Rakyat bersidang memilih anggota Sovyet Tertinggi yang terdiri dari dua dewan. Di Sovyet Tertinggi yang baru keputusan tidak lagi diambil dengan suara bulat melainkan dengan pemungutan suara.

v Pers

Tamatnya pemerintahan komunis di USSR yang diikuti dengan pecahnya Uni Sovyet telah mendatangkan kehancuran dan penyusunan kembali hampir semua elemen dasar yang ada di negara tersbut. Sebagian dari proses itu disumbangkan oleh mass media, yang membawa kejatuhan dari sistem pers dan penyiaran yang lama. Glasnot, yang aslinya merupakan kebijakan resmi Partai Komunis, menurut konsepnya, seharusnya diarahkan untuk membuka diskusi kritis mengenai masa lalu negeri tersebut dan mengenai cara-cara untuk memperbaiki sosialisme di USSR,telah mematahkan belenggu sensor dan berkembang melewati semua batasan-batasan yang ada dan mengarah kepada kemerdekaan berbicara dan kemerdekaan pers. Perestroika , bertujuan untuk menyusun kembali ekonomi dan masyarakat Soviet yang berlangsung antara 1985 dan 1991, telah menciptakan lingkungan- lingkungan material yang baru menciptakan fondasi untuk perkembangan pers dan penyiaran.

Tahun 1992 sampai 1994 merupakan masa yang paling tak stabil bagi Rusia, yang akan membuat setiap penelitian terancam menjadi basi Sampai akhir-akhir ini, media masa Soviet tidak mempunyai dasar hukum. Aktivitas mereka di atur oleh keputusan yang dibuat oleh badan-badan dan fungsinalis Partai Komunis. Surat keputusan tersebut mengenalkan "cara-cara sementara dan luar biasa untuk menghentikan aliran kotoran dan fitnah" dan tak pernah dicabut selama tujuh dasa warga pemerintahan Soviet. "Kebebasan penuh dalam batasan tanggung jawab di depan pengadilan" yang dijanjikan dalam teksnya, yang akan direalisir oleh "perundangan yang luas dan progresif" muncul melalui Undang-undang Pers dan Media lain di USSR (1 Agustus 1990) dan Undang-undang Federasi Rusia mengenai Media Masa (8 Februari, 1992). Kebebasan informasi masa dalam hukum Rusia bersifat tak terbatas (kecuali dengan legilasi) untuk mencari, mendapatkan dan membuat serta menyebarkan informasi; kebebasan untuk mendirikan outlet media masa dan memilikinya, menggunakannya serta mengaturnya; dan kebebasan untuk mempersiapkan,memperoleh dan mengoperasikan peralatan dan perlengkapan teknis, bahan-bahan mentah serta materi yang diperuntukkan bagi produksi dan distribusi produk-produk media masa.

Sampai sekitar 1990, koran-koran di USSR mempunyai struktur piramida yang stabil. Di puncaknya bertengger "pers pusat": berlokasi di Moskow, koran atau majalah yang mempunyai distribusi nasional yang menampilkan kebijakan resmi Partai Komunis, pemerintah, dan berbagai badan pusat, baik milik negara atau milik masyarakat. Meskipun jumlah perusahaan pers pusat ini hanya 3% dari jumlah perusahaan koran, akan tetapi sirkulasinya sebesar 73% dati keseluruhan sirkulasi media masa di Uni Sovyet. Meskipun tidak ada hubungan antara publikasi-publikasi lokal dengan publikasi-publikasi pusat, akan tetapi jalur komando antara badan-badan yang mengaturnya seakan-akan menggambarkan hubungan seperti antara tuan dan budaknya. Meskipun puncak piramida mempunyai jumlah koran majalah yang sedikit, penerbitan nasional ini merupakan penerbitan yang paling populer di pedalaman. Koran-koran ini isinya hampir sama, seringkali pula dengan opini editorial yang sama yang bukan cuma menjelaskan pandangan partai mengenai isu-isu politik tertentu akan tetapi juga bertindak, dalam tradisi Leninis yang terbaik, sebagai "kolektif propagandis, kolektif agitator dan

kolektif organisatoris". Majalah mempunyai kebebasan sebagai "press kelas dua", karenanya mereka dapat membuat variasi gaya dan rasio propaganda mereka dalam bentuk cerita-cerita, hiburan. Dari tahun 1986 sampai 1988 Mikhael Gorbachev menanamkan orang-orang yang secara politis setia kepadanya sebagai editor-editor disurat kabar besar, sehingga peran pers pusat menjadi penting untuk meningkatkan reformasinya.

Sebagaimana yang bisa dibaca di mana-mana penerbitan nasional dapat dipakai untuk berhubungan dengan masyarakat tanpa harus melewati hambatan oposisi. Kolom surat-surat pada redaksi mereka menjadi jalan yang siap untuk menampung partisipasi mereka dalam Perestroika . Prestise dan kebebasan yang diberikan oleh Kremlin pada para jurnalis membuat mereka ini menjadi sekutu alami. Tiba-tiba datang kejadian yang tidak diharapkan oleh para birokrat. Undang- undang mengenai Pers dan Media Masa lain dari USSR mengharuskan semua penerbitan di daftarkan secara resmi dengan badan-badan negara. Pada dasarnya, prosedur ini memberi kesempatan bagi star redaksi untuk mencari dan mendaftarkan "pendiri" yang mungkin berbeda dari majikan lama mereka, atau bahkan mungkin mendaftarkan koran-koran itu atas nama mereka sendiri. Tindakan ini menciptakan ancaman nyata pertama kali atas piramida tersebut dengan cara memisahkan outlet- outlet yang baru bebas dari garis komando yang lama. Pada saat yang bersamaan, para redaktur yang berani dan orang-orang kaya baru mulai mengisi kekosongan kekosongan ini.

Tahun 1989 dan 1990 merupakan puncak popularitas bagi media masa pada tahun-tahun setelah Perestroika dimulai. Saat itu merupakan saat masyarakat

mempunyai harapan-harapan politik tertinggi: saat Kongres Pembantu-pembantu Rakyat diamati langsung di televisi dan didengarkan di radio dengan perhatian yang begitu tinggi sehingga penurunan tajam angka-angka produksi industri dicatat selama hari-hari tersebut. Dapat dikatakan itulah masa "keracunan" dengan Glasnost. Tiga tahun berikutnya terlihat pertumbuhan ketidak percayaan media terhadap kemunduran apatisme politik umum dan krisis ekonomi yang serius Faktor terakhir ini menyebabkan keluarga tradisional untuk mengurangi langganan penerbitan mereka dari lima atau enam menjadi hanya satu penerbitan saja. Media tidak lagi dipandang oleh masyarakat sebagai sumber bantuan dan harapan atau sarana untuk mengutarakan pendapat mereka. Pada tahun 1988 mulai ada kecenderungan untuk lebih menyukai pers lokal dibandingkan dengan pers pusat.

Pers di USSR dimiliki oleh Soviets, aparat negara, dan organisasi umum (semuanya dikendalikan oleh Partai Komunis), atau langsung oleh partai, atau oleh kombinasi dari ketiganya. Dengan tumbangnya penguasa komunis, Soviet dan lembaga-lembaga negara menjadi pemilik utama, terutama pada tingkatan lokal. Pada tahun 1993 ada sebanyak 200 koran partai, 12 diantaranya diterbitkan di Moskow dan 18 di St. Petersburg. Kebanyakan partai-partai tersebut berhasil. menerbitkan hanya beberapa edisi dari koran atau buletin mereka sebelum kemudian rontok. Evaluasi kasar dari struktur kepernilikan pers Rusia menunjukkan bahwa 29% koran nasional dimiliki pemerintah federal, 30% menjadi milik organisasi publik dan partai, dan 41 % milik swasta; 21 % koran regional yang dimiliki pemerintah federal sementara 22% dimiliki swasta; sedangkan pers tingkat kota, 85% dimiliki olehpemerintah kota sedang sisanya dimiliki oleh swasta atau umum. Dari semua koranyang tercatat di Rusia pada tahun 1993, 57,1% merupakan milik pribadi, 23,1% milik negara (5.8% milik pemerintah kota), dan19,8% milik organisasi umum dan partai politik (Bekker & Gurevich, 1993).

Finansial dari pers terhadap negara memberikan dasar yang penting untuk mempertanyakan independensi media, obyektifitas dan keseimbangan pelaporan. Di sisi lain, beberapa pihak mengatakan bahwa pers dan penyiaran, apabila diperhatikan, bukan hanya berupa alat politis atau usaha komersial saja akan tetapi juga merupakan lembaga yang memberikan keuntungan kultural dan pendidikan bagi masyarakat yang harus menikmati perlindungan dari negara. Idealnya prioritas bantuan diberikan pada surat kabar-surat kabar yang ditujukan untuk anak-anak dan pemuda, orang cacat, kelompok minoritas dan majalah-majalah sastra dankebudayaan. Bersamaan dengan itu, berdasarkan keputusan-keputusan terpisah dari pemerintah, donasi yang besar diberikan kepada koran-koran dengan sirkulasi besar yang bekerja untuk apa yang dinamakan "ruang informasi bersama" di bekas Uni Sovyet, seperti Trud dan Komsomolskaya pravda.