11.10.2010

Itu Kursiku!!

Rabu (10/11) saya sungguh kesal sekali. Hari itu cuaca panas, Obama datang membuat jalanan macet, demo di bundaran HI semakin memperparah macetnya jalanan, kurang tidur (karena sedang menunggu kabar dari adik saya yang terjebak banjir bandang di Semarang) dan saya terserang flu. Tadinya memutuskan tidak akan masuk, namun dua pasukan desk bisnis juga tumbang membuat saya berpikir ulang. Toh, saya masih kuat untuk berdiri dan berjalan.

Setelah liputan di acara media gathering salah satu perusahaan plat merah, saya meluncur ke kantor. Kondisi badan yang tidak mendukung membuat saya pergi ke kantor karena sedang tidak ingin kemana-mana. Sampai di kantor, saya mendapatkan perhatian dari beberapa atasan, kolega kantor soal kondisi adik saya. Maklum, malam sebelumnya saya panik karena adik saya terjebak banjir bandang dan tidak bisa ditelp. Bercerita dengan mereka, cukup membuat saya terharu sekecil apapun perhatiannya. Karena, saya sangat mencintai dan menyayangi keluarga saya.

Namun, rasa senang itu hanya sebentar karena saya melihat seseorang telah menduduki kursi dan meja saya. Orang itu sebut saja dengan X. Mr. X ini sudah coba saya peringatkan bahwa itu kursi meja saya. Bahkan, salah seorang atasan saya juga pernah menegur dia. Kemudian, teman sebelah saya juga sudah memperingatkan. Tetapi seperti "Kanebo Kering" yang harus dibasahi terlebih dahulu baru basah. Saya tidak tahu apakah dia berpura-pura tidak tahu atau memang bandel. Yang jelas, hari itu saya sangat kesal sekali. Meski kesal, saya mencoba untuk berpikir positif.

Rasa kesal itu ditambah dengan ketika saya harus pindah. Oh, my God, saya terusir di meja kursi saya sendiri. What a damn shit!!! Memang, saya tidak mencoba untuk menegurnya tetapi, saya berpikir dia seharusnya tahu diri. Karena dia sudah diberitahu berkali-kali. Lain halnya jika dia sama sekali tidak diberitahu. Saya diam, karena saya tidak ingin membuat dia malu dengan mengusirnya. Jangankan mengalah, meminta ijin untuk menempati meja saya tidak pernah sekalipun terucap di mulutnya. Dimana letak sopan santunmu?

Teman sebelah meja saya, mengatakan," Dia sudah pernah tak kasih tau jangan duduk situ kalo Feni datang gimana," kata dia.

Jawaban dari Mr. X itu sontak membuat saya emosi. "Trus dia bilang, mbak Feni kan gak pernah ke kantor," tambah teman yang duduk di sebelah meja saya.

Ingin saya bilang kepada dia: "Hei lo itu anak baru. Anak baru mestinya turun lapangan dan nyari berita dan ga ngendon sendirian di belakang meja kaya orang kantoran. Kalo lo takut panas, jangan jadi wartawan!!"

Jelas saja saya tidak pernah di kantor, karena saya benar2 mencari berita. Menggali isu, bertemu dengan narasumber. Telepon boleh saja dilakukan, tetapi dalam kondisi tertentu. Bukan juga saya iri, karena saya dulu sebagai calon reporter banting setir ke sana ke sini. Liputan hingga Deptan, Ragunan dan kembali ke kantor saya tak pernah keberatan. Karena itu memang tugas saya dan saya bersyukur, redaktur-redaktur saya dahulu memberi tugas itu kepada saya. Sementara dia, dia enak2an di kantor dan selalu sms minta nomor ini dan minta nomor itu. Saya ingat, pertama kali dia mensms saya: "Mbak, aku minta semua nomor sumber migas, perusahaan migas dan tambang jadi kalau ada yang mau di fu lebih gampang. Kata mas M, aku suruh melengkapi beritamu," kata dia.

Setidaknya, dia bisa meminta dengan sopan. Semua nomor narasumber. Oh, Holly shit. Satu yang terlintas dalam benak saya: Enak saja! saya mencari nomor-nomor itu setengah mati berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sehari. Berpanas ria, belum ketambahan diusir satpam karena takut diminta sumbangan, dan lain sebagainya. Dan kamu, sebagai anak baru cuma sebagai pelengkap berita dan menelpon. Kalau di awal sudah minta enak, gimana ke belakangnya. Saya tak pernah pelit untuk memberi nomor kontak, tapi sms dia membuat saya kesal. Emang dia siapa, sms seperti itu kepada saya? atasan saya juga bukan.

Kembali ke masalah kursi, kenapa saya ingin duduk di situ bukan karena saya arogan untuk membuktikan saya lebih senior. Bukan itu, karena kursi meja itu adalah rumah saya. Lantas, kenapa ketika saya jarang ke kantor, langsung dia tidak menganggap saya ada. Apakah saya siluman, alien atau jin yang tidak ada bekasnya. Saya memang jarang ke kantor tapi karena saya bekerja di sana, suatu saat nanti pasti saya kembali ke kantor itu. Saya tidak keberatan, jika dia mau duduk di kursi saya, tetapi jika itu tidak ada saya. Selama saya ada, carilah tempat duduk yang lain. Dan saya heran, hanya dia yang sulit untuk diberitahu. Lagipula mencari rumah sendiri kan lebih enak.

Memang, saya bisa duduk di mana saja. Karena pada Rabu itu karena investor summit, banyak yang tidak ke kantor. Tetapi aneh rasanya ketika menduduki kursi meja orang lain. Karena, memang itu bukan tempat saya. Apa yang saya alami seolah-olah, saya memiliki rumah namun saya tidak bisa menempati rumah itu sehingga saya harus pergi karena ada orang lain yang bukan pemilik rumah memaksa masuk dan tinggal di rumah itu. Sedangkan, si pemilik rumah harus mencari-cari rumah yang lain.

Lalu, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya mengusirnya secara terang-terangan ataukah saya harus menuliskan: Don't sit here except Feni. Ataukah, saya harus diam saja dan membiarkan dia merajalela. Sudah cukup saya mengalah. Lagi-lagi kata itu yang muncul "mengalah".

Fatmawati
10/11/2010
23.45

11.08.2010

Plat nomorku kemana kamu?

Kali pertama selalu ada dalam kehidupan semua orang, misalnya saja pertama kali menikah, pertama kali melahirkan, pertama kali jatuh cinta atau pertama kali kehilangan. Pertama kali selalu meninggalkan kesan terdalam dalam setiap kenangan.

Sepanjang sejarah aku bergelut dengan sepeda motor, ada pertama kalinya aku mengalami kecelakaan. Tetapi ada juga pertama kalinya aku mengalami hal yang menggelikan yakni kehilangan plat nomor motor kesayanganku. Motor yang kubeli dengan kerja kerasku.

Tragedi itu terjadi di sabtu siang di pelataran parkir kampus terkenal di Indonesia Raya ini. Seperti biasa, setiap hari sabtu, aku pergi les dengan salah seorang kawan di kampus itu. Seperti biasa, aku juga parkir di tempat biasa, di bawah pohon.

Sebelum keluar dari tempat parkir tersebut, aku melakukan pengecekan ulang terhadap plat nomor belakang. Karena, aku baru saja mengganti bautnya dengan yang baru. Kuperiksa, plat nomor itu masih bertengger di bagian belakang motorku dalam kondisi masih kencang.

Puas dengan hasil kerjaku sendiri mengganti mur baut, akupun masuk ke dalam kelas. Mengikuti pelajaran seperti biasa tanpa ada bayangan sekalipun kehilangan plat nomor. Selesai mengikuti kelas, alangkah terkejutnya, ketika aku melihat plat nomor motorku yang belakang raib entah ke mana.

Ada dua pertanyaan yang saat itu menggantung di pikiranku. Pertama kemana perginya plat nomorku? Kedua siapa yang mengambil dan untuk apa? Ughhh....sungguh-sungguh menyebalkan hari itu. Hari itu yang kurencanakan setelah pulang les, langsung pulang dan beristirahat jadi urung karena aku harus mencari tukang pelat untuk membuat nomor pelat imitasi supaya tidak ditangkap polisi. Entah kenapa saat itu aku merasa beruntung, bahwa orang Indonesia sangat kreatif untuk membuat barang tiruan. Hanya membutuhkan waktu 30 menit, aku sudah mendapatkan plat nomor tiruan.

11.04.2010

Itu adalah rumahku

Aku tak pernah membayangkan akan ada badai besar yang akan menghantam rumahku. Kali ini, badai itu tidak hanya merusak bangunan rumah, tetapi badai itu juga telah membuat penghuni rumah pergi satu persatu. Tapi, aku tak pernah menyalahkan badai itu. Karena memang, rumahku itu dari awal sudah rapuh.

Seandainya saja, rumahku itu kokoh, sedahsyat apapun badai itu, rumahku pasti bisa bertahan. Tapi, itu semua adalah pilihan setiap penghuni rumah, apakah memutuskan untuk bertahan dalam badai atau keluar dalam badai demi sebuah kenyamanan. Setiap pilihan dan keputusan itulah yang harus aku hormati.

Aku memang mempertanyakan, kenapa mereka pergi? tetapi aku tidak menyalahkan mereka pergi. Aku juga tidak membenarkan mereka pergi. Karena memang tidak ada benar dan salah. Alasan mereka pergi, adalah hal yang harus segera diperbaiki untuk membuat rumahku kokoh lagi.

Meski banyak orang yang meninggalkan rumahku, aku yakin rumah itu akan berdiri tegak lagi. Karena, rumah yang dibangun bertahun-tahun dengan keringat dan kerja keras, tak mungkin dibiarkan ambruk begitu saja. Aku yakin, masih ada cara untuk memperbaiki rumah itu.

Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena rumah itu yang bersedia untuk menampungku ketika aku terlantar. Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena aku percaya masih bisa diperbaiki. Walaupun, ada rumah baru yang tersedia untukku, tapi aku merasa masih bisa bertahan. Semoga, pertahananku di rumahku itu tidak akan sia-sia.

Medan Merdeka Selatan
04 November 2010
18.15 WIB
Sedih dan miris melihat status FB teman-teman
**pilihan adalah pilihan yang harus dihormati**

11.02.2010

Kamu itu Ada, tapi siapa?

Sudah lama sejak terakhir aku menyapamu. Ah, ternyata tulisanku yang tak bermakna ini ada juga yang membaca selain diriku sendiri. Akhir-akhir ini, aku tidak hanya sibuk bekerja dan memuaskan diriku sendiri. Tetapi, aku berusaha untuk menjalin hubungan dengan seorang pria dan kali ini adalah benar-benar pria lajang bukan pria beristri yang mengaku lajang. Karena, perlahan ingatanku tentang "pria selama lima tahun" memudar. Tidak hanya ingatan secara pikiran tetapi juga ingatan hati. Meski aku belum memutuskan untuk menyukainya. Aku masih berusaha untuk menjaga hatiku supaya tidak terluka.

Pria ini, aku mengenalnya dari status jejaring sosial pertemanan. Sama seperti sebelumnya, dia adalah pembacaku yang ingin mengenalku. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Sejak itupun dia berusaha untuk berteman denganku. Namun, aku berusaha untuk menghindar. Pertama kali kesanku padanya, Aku tak terlalu suka dengan dia. Karena dia sangat berbeda denganku.

"Bukankah perbedaan itu bagus, kalian saling melengkapi," kata salah seorang temanku yang menyuruhku untuk berhenti berbuat sombong dan mulai memperhatikannya.

"Berbeda di sini adalah benar-benar berbeda. Bukan jenis perbedaan yang bisa dikompromi," dalihku.

"Cobalah buka hatimu untuk siapa saja. Sudah lama, kamu bersembunyi dari dunia nyata. Biarkan siapapun masuk ke dalam pintu hatimu dengan kuncinya sendiri. Siapa tahu, kunci pintu itu sudah berubah," nasehat dia.

Berulang kali, perkataan temanku itu selalu aku ingat. Yah, aku harus berusaha untuk mencari kamu, seseorang yang menjadi kekasih hatiku. Kamu itu bisa siapa saja. Bisa dia, atau bisa dia yang lain. Aku tidak tahu. Jodoh datangnya bisa dari mana saja. Kamu bisa juga adalah seorang pria yang sudah dipilihkan oleh ibuku untukku.

Aku lelah mencari kamu. Saat aku mengira kamu adalah pria lima tahun itu, ternyata Tuhan bilang bukan. Apakah kamu itu adalah dia yang sangat berbeda denganku yang ternyata bisa membuatku tersenyum. Entahlah, dimana aku bisa menemukanmu.

Selain dia, ada juga pria lain yang ada di tempat kursus bahasa Inggrisku. Tapi, lagi-lagi aku masih belum berani. Takut kecewa adalah penyebabnya. Ah, ternyata aku pengecut untuk urusan hati.

Sebenarnya, ada satu pria lagi. Pria ini berbeda, karena aku menyukainya. Aku tertarik padanya. Dia memiliki sikap hidup yang sederhana dan sabar. Sayangnya, dia berbeda agama denganku. Dari awal, tentunya aku tidak berani mengambil resiko untuk meneruskan rasa ketertarikanku padanya. Perbedaan keyakinan terlalu besar untuk dijembatani dan kebanyakan adalah jalan buntu. Diapun menyadarinya hingga kami hanya berteman.

Kamu, coba tunjukkan siapa jati dirimu? Aku sudah lelah untuk menebak-nebak siapakah kamu?

Fatmawati
02.47
02 November 2010

9.19.2010

My obsession

Everyone must be have a dream. My dream is make a journey from other country to another country, to see how beautiful places around the world. One of way to achieve it, I like to get some scholarship at University in Netherland or United States. I'm not decision yet, where is the one I'm keen on. With the scholarship, I can get two benefit. First, I can continue my education with take a master program. Second is my dream come true, I can visit Netherland or USA.

I prefer Netherland because I like Europe. Since I was 12 years old, when I saw "Mtv jalan-jalan ke Eropa", I already interested with Europe. They have a beautiful scenery which it can make me adorable. Why Netherland, because many student of Indonesia take the education at Netherland University. But also I want to feel the atmosphere of Netherland, country which have a stories conected with my country.

But, I also interesting with United States of America [USA). USA is really different with Europe. Europe is classic but USA is modern. Beside, USA is the place where the theory "Realism" was born. When I was college, I'm really like with that theory. The most attractive is USA on of super power country. Many people want to see Liberty Statue. So I am.

Eventhough I have not decided it yet, I'm sure that I want to take master program of International Relations Affairs. Like my bachelor degree, I want to continue my education. International Relation Affairs make me obsessed. Maybe, I can be diplomat some other time.

Before I have to choose betwen them, I want to prepare my English. I take the IELTS program course for 3 months. So that, in the next year, I hope, I can get that scholarship. At the first day on my course is not the best day. Before the course held, the student should do the ielts test for the first time. With follow the test, the student will be know how many score they have. The purpose is, the student can compare the score with the score test after the student get course. Then, the student can know their ability in English.

It's not only my first course but also my first ielts test. I never done ielts test before. At the moment, I feel like a very stupid person because many question, I can't answer it. IELTS and TOEFL is similiar but they are different. I ever take the toefl test, but ielts test, I'm blind. Toefl is difficult but ielts more difficult. In listening section, I mess everything. I can't focus. I recomended to you people, when listening section, you have to focus. If not, you will lose number and score. Because ielts have a short time than toefl.

Reading sections is dangerous because you have to becareful to answer the questin correctly. Moreover, in ielts test, it's rarely answer with option A, B, C or D. You have to answer correctly with your answer. It means, you have to make sure that your answer is correct in both grammar and the spelling.

The most hated section is writing. I hate it because it's the most difficult. I have a problem with grammar. In writing section, you have to write some article which it relevan with the topic on the test. It might be hard, but I'm sure with more practise every day, writing is easy as same as writing in Indonesia.

The last section is speaking. Actually in this section isn't difficult than the others. But I'm nervous. It sometimes makes me mess up. To decrease my nervous, from now, me and my friend will practise with make some talk in English. I hope it can worked for me. I'm really hope this test succesfull and I'm not pay for useless.

Right now, my obsession is getting harder and harder to study English. With study, I can get the best score and my scholarship will be approved. I'm bored with my job. I need other challenge came to my life right now. Challenge is adventure. My life is journey and adventure.

Fatmawati
Sept, 18th 2010

8.01.2010

Hampir Saja

Tak pernah seumur hidup saya membayangkan akan menjalin hubungan dengan suami orang lain. Tapi, hal ini hampir saja terjadi dalam kehidupan nyata saya. Yeah, saya tak bermaksud untuk merusak rumah tangga seserong. Maaf, saya tidak tahu bahwa dia sudah memiliki istri dan dia mengaku kepada saya bahwa dia masih bujangan. Saya adalah seseorang yang menghujat perbuatan krisdayanti, dan ternyata hampir saja saya meniru perbuatan artis kondang tersebut.

Awalnya kami bertemu di situs pertemanan. Dia pertama kali mengundang saya untuk menjadi teman. Kemudian, saya menerimanya. Dan setahun sudah, dia bertengger menjadi dalam daftar teman saya tanpa saya sedikitpun menyapanya.

Malapetaka terjadi, ketika dia mulai mengomentari status saya. Kemudian saya berbalas-balas status dengan dia. Kemudian saya juga mulai mengomentari statusnya dia. Kami pun setiap hari berinteraksi lewat jejaring sosial tersebut. Saya merasa nyaman dengan dia, dan begitupun juga dengan dia. Dia mengatakan bahwa dia sangat beruntung mengenal saya. Pujian-pujian yang saya terima darinya membuat saya lupa diri. Maklum saja, tekad saya untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan saya sudah bulat. Saya ingin membuang jauh-jauh kenangan selama tiga tahun dan menggantikan kenangan yang ada. Meskipun ketika itu saya merasa ada ganjalan yang membuat saya tidak ingin melanjutkan hubungan tersebut. Entah ganjalannya seperti apa, tetapi feeling saya menyuruh saya untuk berhenti.

Hubungan kamipun cepat berkembang, dalam waktu satu bulan, kami tidak hanya berkomunikasi lewat jejaring sosial tersebut. Kami mulai bersmsan ria dan bertelpon-telponan. Dia yang mengaku seorang bujangan seringkali bercerita soal rasa kesepian dan ingin merajut kembali benang-benang kebahagiaan. Hampir saja, saya mengatakan iya untuk menjadi pendampingnya untuk merajut benang-benang tersebut. Namun, saya memilih untuk menunggu dan melakukan evaluasi lebih lanjut.

Rasa ganjalan itu semakin kuat, kemudian saya meminta kepada salah seorang teman untuk menyelidikinya. Dan kemudian ternyata, teman saya tersebut memiliki seorang teman yang ternyata kenal baik dengan dia. Dan saya terkejut ketika mendapati informasi bahwa dia sudah menikah dan beranak 2. oh tidak, hampir saja, saya ditipu mentah-mentah!!!!

5.14.2010

Percakapan 5 menit

Suatu sore, usai sholat dan mandi, saya melihat hp. Opppsss...ada 6 mised call, dan semuanya dari nomor kantor. ow...ow...ow....ada apa ini? Hari itu adalah tanggal merah, dan karena saya sedang tidak ingin ke kantor, saya mengerjakan berita dari kos. Kemudian ada pesan masuk: "Fen, tlg angkat telpnya...beritamu soal **** ga jelas semua,"

Segera saja, saya membalas sms redaktur. Tak berapa lama ia menelpon saya. Awalnya saya tak mengerti mengapa dan kenapa berita saya tidak jelas. Toh, saya sudah berusaha menulis sebaik mungkin. Ternyata, ada beberapa kesalahan angka dan nama jabatan. Akurasi saya masih banyak yang meleset. Well, bukankah tugas redaktur yang membetulkan tulisan reporternya.

Redaktur saya yang suka dengan detail ini, mulai menanyakan dari A hingga Z. Kemudian, ia mengkaitkannya antara fakta, tulisan dan logika. Memang, saya akui agak sedikit ribet bekerja sama dengan dia. Tapi tak bisa dipungkiri juga, bahwa saya memang banyak belajar dari redaktur saya yang satu ini. Saya banyak belajar bahwa tidak hanya menerima omongan narasumber mentah-mentah melainkan juga harus memastikan apakah omongan tersebut sesuai dengan alur logika. Dan saya juga mulai belajar soal detail. Saya menikmati bekerja sama dengan dia, meskipun kadang telinga ini agak merah menerima penjelasannya yang bertubi-tubi.

"Tulisan kamu akurasinya gak pas, berantakan semua. Dan ini bukan yang pertama, tapi akhir-akhir ini tulisan kamu berbeda," kata dia.

Sayapun hanya diam.

"Kamu kenapa, apa ada masalah? Atau memang sedang capek?" tanya dia.

Saya akui, saya memang ada masalah. Tapi bukan berarti semua orang tahu permasalahan saya. Saya hanya diam tak menjawab pertanyaan itu. Diam sebagai bentuk pengakuan saya bahwa saya memang bersalah.

"Kalau ada masalah, bilang aja. Dulu pas kamu jadi carep ga kaya gini tulisannya. Kenapa setelah jadi reporter malah berantakan?"

Saya masih diam.

"Bukannya apa, tapi akurasimu banyak yang meleset terutama soal angka. Dan ini berkali-kali, aku pikir kamu akan belajar setelah membaca tulisan yang diedit,".

Lima menit kemudian percakapan itu berakhir. Apa yang dikatakan oleh redaktur saya itu memang benar. Saya memang ada masalah pribadi, tapi sejauh ini saya mencoba untuk bersikap profesional. Saya tak pernah berusaha menjadikan masalah pribadi sebagai alasan untuk saya menjadi malas bekerja. Bahkan, saya masih bisa berusaha tertawa dalam keadaan yang tidak baik. Yah, mungkin secara tidak sadar, itu berpengaruh kepada cara menulis saya.

Selain itu juga, saya capek. Saya capek dengan tekanan kebijakan kantor yang baru. Saya capek dengan tuntutan yang saya terima tiap hari. Saya manusia, saya juga memiliki batas. Saya capek ketika harus berpikir secara sendirian, mencoba mencari isu sendiri. Sementara di luar sana, hanya ada yang mengembangkan berita dari rilis ataupun isu dari atasan, jarang ke lapangan justru tidak mendapatkan tekanan, yang ada malah pujian. Saya tidak minta untuk dipuji, tetapi saya hanya minta perlakuan yang adil.

Selama ini saya diam, ketika saya mendapatkan perintah untuk mencari berita untuk mengamankan halaman meskipun saya sudah menyetor beberapa berita. Dan hal itu tetap saya lakukan. Saya diam, meski terdapat beberapa kali berita yang tidak mencantumkan nama saya padahal itu materi berita saya. Bahkan, saya masih diam, ketika saya mendapatkan tugas-tugas ajaib (tugas yang berada di luar job desk saya).

Percakapan selama 5 menit itu, ternyata bisa membuat saya tahu kenapa saya merasa kinerja saya turun. Alasannya cuma satu, saya capek. Saya capek mendapatkan tuntutan terus menerus. "Saya ini manusia bukan malaikat,". Dan saya capek karena saya mendapat protes terus menerus padahal saya sudah berusaha untuk berbuat sebaik mungkin. Protes yang datangnya bisa dari siapa saja. Ketika bos besar minta neraca gas, saya berusaha mendapatkan itu. Dan memang saya mendapatkannya satu hari setelah perintah itu. Tapi tetap saja berita saya diprotes kenapa berita migas terus. Saya capek, ketika semua tindakan yang saya lakukan selalu salah.

Saya juga capek dengan rasa permusuhan dengan beberapa kolega di kantor. Mereka merasa bahwa saya selalu mengambil semua berita yang ada. Yah, BUMN selalu menjadi pos rebutan. semua kompartemen boleh masuk baik nasional, investasi, keuangan dan bisnis. Saya tidak pernah melarang siapapun untuk masuk dalam BUMN. Saya persilahkan kepada mereka semua yang ingin mencari berita di sana.

"Mereka segan ke BUMN karena lo ambil semua beritanya," kata sumber.

"Tapi kan aku gak pernah kaya gitu. Mana pernah aku melarang anak Kontan gak boleh masuk BUMN. Itu cuma alasan mereka aja yang ga mau nongkrong. Selama ini, kan selalu bagi berita," kata saya.

Bahkan, ketika ada acara Pertamina-PGN, saya hanya mengambil Pertamina. Sedangkan PGN, sudah diambil anak kompartemen investasi. Begitupun juga ketika ada acara PGN, Pertamina dan PLN di komisi VI, sayapun memberitahu anak investasi Kontan bahwa ada PGN di sana. Kalau memang saya egois, untuk apa saya memberitahu ada PGN. Begitupun juga dengan ketika ada acara di komisi VII ada ptba, antam, freeport, bhp, saya juga memberitahu mereka. Bahkan ketika ada acara bank di BUMN, saya juga sempat memberitahu mereka yang ada di desk keuangan tapi mereka tidak pernah datang.

Kemudian ketika ada acara breakfast meeting, biasanya 141 direktur utama BUMN pasti hadir karena ada bapak menteri BUMN. Ketika acara itu, bahkan saya hanya mengambil BUMN yang bukan tbk, BUMN yang bukan Keuangan. Lalu sekarang, saya menjadi kambing hitam lantaran mereka tidak pernah ke sana. Saya capek dengan itu semua, saya capek disalahkan terus.

Bahkan, ketika itu ada kejadian, ada berita yang saya transkrip dan saya masukkan milis ke plat merah. Namun, karena saya tahu itu bukan untuk halaman saya, saya tidak mengambil berita tersebut. Dan herannya, besok berita itu keluar oleh salah satu kawan saya di Kontan padahal nama yang tercantum disitu tidak pernah hadir. Saya diam saja, saya tidak melapor.

Namun, ada juga peristiwa ketika itu wawancara dengan menteri BUMN, saya terlambat datang. kemudian kawan saya yang itu datang terlebih dahulu. Dia pulang setelah mengira tidak ada proyeksi berita di sana yang berkaitan dengan halamannya. Kemudian saya hadir dan saya melisting berita soal halaman saya. Di kantor di hadapan beberapa kawan saya dan redaktur dia mengatakan.

"Lo ke mana koq bisa dapat berita itu. Kan tadi gw yang ada disitu?"

"Gw juga ada koq tapi gw telat," kata saya

"Itu pertanyaan gw, kenapa lo yg listing. Gw yang nanya. jadi siapa nih yang kloning. Yang jelas bukan gw karena gw ada di sana,"

"Gw ga kloning, gw ada di situ. Dan lagian gw memang listing berita soal itu tapi litnya bukan itu. Gw baru listing sore, dan yg lo listing itu sama kaya mba *****, dia dapatnya di deperin karena paginya menteri BUMN ke deperin buat ngomongin soal itu,"

Well, dari kejadian itu saya sedikit sakit hati. Saya kira kalau dia marah bisa menyelesaikan secara baik-baik tanpa harus melapor ke redaktur. Saya juga marah dengan dia yang saya pikir mau menjilat redaktur supaya dia tidak salah. Tapi, saya selalu berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan dia. Saya selalu berusaha bahwa dia adalah teman saya satu kantor. Kita adalah satu tim, karena buat saya, untuk apa berkompetisi dengan teman sekantor, melainkan berkompetisi dengan koran yang berbeda. Kita tidak akan pernah menang jika dalam tubuh kantor kita sendiri tidak sehat. Dan sekarang muncul tuduhan-tuduhan seperti itu. saya capek dan lelah, karena ketika saya berusaha untuk berbuat baik, mereka justru menjadikan saya ancaman.

Kalau mau diungkit-ungkit, banyak hal-hal yang saya lakukan untuk mereka. Saya selalu mengalah tetapi ketika mereka mengalah sekali saya untuk saya, mereka menganggap bahwa saya adalah raja untuk mengambil semuanya.

Belum lagi, ketika saya ke kantor saya mendapatkan bahwa kursi meja saya sudah ada yang menempati. Padahal masih banyak ruang kosong yang bisa ditempati. Apalagi anak yang menempati itu adalah sudah memiliki kursi meja sendiri. Saya memang jarang ke kantor tapi bukan berarti orang berhak untuk menempati meja kursi itu. Saya masih pegawai Kontan dan saya berhak disitu. Saya sedikit kesal karena dalam komputer itu, banyak file-file pribadi saya. Belum lagi saya mensettingnya ketika komputer nyala langsung menyambung dengan gmail dan ym saya. Itu berarti, orang yang menduduki meja kursi saya bisa membuka file-file saya. Saya tidak suka itu, ketika seseorang membuka privasi saya. orang tua, adik bahkan sahabat saya akan saya marahi apabila mereka berani melanggar privasi saya.

Percakapan 5 menit itu menyadarkan saya bahwa saya capek dengan kondisi ini. Mungkin saya harus mulai menata diri terlebih dahulu, memprioritaskan apa yang menjadi tujuan hidup saya. Mengevaluasi kembali, apakah hal ini yang memang yang paling cocok untuk saya. Mungkin, sudah saatnya saya menciptakan kesempatan-kesempatan yang membuat saya lebih berkembang lagi.