Terima kasih Tuhan sudah hari Jumat. Ini berarti sudah menjelang weekend. Waktunya untuk mengistirahatkan tubuh dan otak. Maklum saja, seminggu ini saya dibuat gila dengan agenda liputan. Jadwal selalu pagi, berpindah-pindah tempat dalam waktu yang hampir berdekatan (seperti ingin menjadi amoeba untuk membelah diri) hingga rapat dpr yang tidak ada habisnya.
Namun, saya masih memiliki satu hari lagi sebelum benar-benar weekend. Sebab, hari Sabtu saya masih harus liputan pagi *again!* untuk mengisi halaman life style dengan tema berkuda. Saya sudah membuat janji temu untuk wawancara dengan salah satu sumber berkuda saya. Dan ibu Dewi Larasati yang baik hati itu bersedia memberikan waktunya khusus hari Sabtu. Oh, Tuhan! Tapi mengeluh juga bukanlah solusi yang tepat.
Jumat ini ada dua agenda yang hampir berbarengan. Pertama jam 08.30 di kementrian ESDM, kemudian pukul 09.30 di kantor pusat PLN. Dengan melihat jadwal, saya harus memutuskan salah satu. Pilihanpun jatuh kepada PLN. Selain karena jamnya lebih siang, lokasi peliputanpun dekat dengan kosan.
Tuhan memang baik. Hari Jumat itu, banyak direksi PLN hadir. Sehingga sayapun memiliki banyak berita karena banyak isu yang bisa ditanyakan. Sekali lagi pilihan sayapun tepat. Karena di email bermunculan rilis-rilis acara di kementrian ESDM. Sekali lagi, saya bersyukur dengan pilihan saya.
Meminjam ruangan persroom PLN, saya bersama dengan para pewarta lainnya mencoba untuk membuat berita. Hingga satu persatupun pergi. Ada yang pulang ke kantor, ada yang pulang ke rumah dan ada yang belajar tentang migas di BP Migas. Hanya saya dan ibeth yang tertinggal di ruangan persrom itu.
Saya tak banyak membuat berita hari itu. Cukup dua berita dan sisanya ditabung untuk hari Senin. Kami berdua pun menyelesaikan berita pada sore hari. Kemudian saya dan ibeth memutuskan untuk jalan ke blok M.
"Feni, kita kalau abis dari liputan PLN dan ga ada apa-apa setelahnya, pasti pergi ke blok M ya," kata Ibeth.
"Haha, iya beth. Yang penting kan urusan berita sudah selesai. Kewajiban sudah terlaksana,"
Kamipun berjalan-jalan ke mall blok M. Awalnya, saya ingin mencari cardigans. Alih-alih mendapatkan cardigan, saya justru mendapat sepatu baru. Itupun tidak sengaja karena ada diskon "buy one get one". Melihat promo itupun, langsung saja, saya dan ibeth memutuskan untuk membeli. Lumayan, dengan harga Rp 99.900, kami bisa mendapatkan dua pasang. Cukup menarik bukan?
Sayapun memilih sepatu dengan pita berwarna hijau. Sementara Ibeth memilih sandal pink berhak yang cukup cantik. Memilih barang-barang itu tidaklah mudah. Sebab, karena diskon barang yang adapun terbatas. Ibeth, berkali-kali memilih selalu saja tidak ada ukurannya. Ketika ada ukurannya, ia tidak menyukai modelnya. Akhirnya, pilihan jatuh pada sandal pink tersebut. Kemudian kami pergi ke toko buku, mencari kado untuk pernikahan seorang teman (namun tidak menemukan yang cocok) dan kemudian makan.
Baru pukul 08.00 malam, kami berpisah. Ibeth sudah dijemput oleh sang suami "kaka alam" sedangkan saya harus kembali ke kantor karena piket. Sampai kantor ada 4 panggilan tak terjawab di handphone saya. Ternyata berasal dari seseorang yang kadang kala saya tunggu dan kadang kala saya ingin jauhi. Kemudian sayapun mencoba menelponnya kembali. Sayang belum ada balasan.
Cukup wajar, sebab di sana pasti sudah jam 11 malam. Dia memang sedang bertugas di papua. Karena tugasnya itulah, jadwal kami untuk bertemu pada hari Minggu batal. Ah, baru 4 hari dia di sana tapi cukup membuat saya khawatir. Saya ingin dia kembali ke Jakarta secepatnya!
Tak lama kemudian handphone saya berbunyi. Ternyata dia yang menelfon. Hati sayapun melonjak gembira. Kami bercakap sebentar, membicarakan tentang satu hari kami. Saya juga menanyakan bagaimana penerbangannya? Semoga dia baik-baik saja.
"ati-ati pulangnya, kan udah malam. Nanti kalau sudah di kosan, kasih kabar ya!"
Lagi-lagi saya berterima kasih kepada Tuhan. Sebab, Tuhan mempertemukan saya dengan orang seperti dia. Seseorang yang bisa menerima saya apa adanya sehingga saya tidak harus menutup-nutupi atau berbohong, seseorang yang tidak protes ketika saya pulang malam. Alih-alih protes dia justru selalu bilang "hati-hati di jalan". Seeorang yang mendukung saya untuk melanjutkan s2 di Eropa. Seseorang yang sedang berpikir keras untuk menerima tawaran perjanjian pra nikah. Saya tahu ini masih awal untuk kami menuju lebih serius. Saya hanya ingin menjalaninya seperti saya menjalani hari ini. Ringan dan tanpa keluhan meskipun kondisi benar-benar membuat saya sudah gila.
Kebayoran Lama No 1119
22.35 WIB
Jumat, 1 April 2010
Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan
4.01.2011
3.31.2011
Komunitas baru [Iwabilers]
Gerakan Non-Blok adalah sebutan saya bagi para pewarta yang meliput di sektor esdm yang menamakan dirinya sebagai iwabil. Saya tidak tahu bagaimana sejarah awal terbentuknya kelompok ini. Saya memang bergabung dengan mereka, namun saya lebih menjadi penggembira saja. Maklum, ketika kelompok ini dirintis dan dibentuk, saya tak ikut terlibat langsung di dalamnya.
Harus saya akui bahwa gerakan non blok inilah yang membuat saya berlama-lama di ruang presrum kementrian yang kantornya di sebrang gedung BI tersebut.
Mereka [Iwabilers] memiliki semangat 45 untuk mengejar berita dan mentranskrip wawancara. Mulai dari jadwal agenda pagi hingga terbenam matahari. Semua itu hanya untuk mencari pundi-pundi rupiah demi nonton sang pujaan di panggung.
Gerakan Non Blok ini dipimpin oleh ibu dirut labil penggila Korea. Kemudian wadirutnya adalah pewarta dari salah satu harian berbahasa inggris yang pernah ngejengkang di depan pembangkit listrik bule di salah satu hotel di kawasan Sudirman. Selain itu masih ada ibu momod yang kantornya ada di kawasan semanggi, si pecinta Laruku dan DBSK, serta anggota yang "katanya" punya suara paling bagus. Terakhir, masih ada si kamis maret yang tengah berada di jalan kebenaran ketika liputan sudah mulai [ngaret.com].
Saya menganggap mereka sangat-sangat kocak dan menghibur. Duh, saya yakin jika mereka membentuk grup lawak mampu menyaingi ketenaran opera van java. Sayang, beberapa diantaranya sudah ada yang tidak bergabung lagi. Meski begitu, saya yakin kelompok Non Blok ini bakal mengukir sejarah di dunia pewarta esdm [lebay.com].
Uniknya, saya mulai terkena wabah virus "Korea". Sebab, mereka tidak hanya membicarakan soal migas tetapi juga heboh dengan Korea. Mulai dari drama hingga boyband Korea. Bahan rumpian tidak hanya seputar produksi migas, ekspor LNG ataupun harga listrik panasbumi. Bahan rumpian juga menjalar soal secret garden, dream high [judul-judul drama korea]. Bahkan bapak wadirut juga mulai memasukkan daftar Kpop di blackberrynya.
Kebiasaan baru saya adalah mendonload. Alih-alih belajar fokus bahasa inggris, perhatian saya tidak fokus. Bukan karena berita, melainkan karena pria-pria Korea yang dengan bebasnya bercelana merah ketat namun terlihat bagus. 24/7, hari-hari di kehidupan saya mulai dipenuhi dengan Donghae, Suju, Big Bang, 2pm, 2am dan yang terbaru adalah MBLAQ.
Well, saya senang bergaul dengan mereka. Saya merasa nyaman di tengah-tengah mereka. Meski mereka agak-agak labil dan alay, tetapi mereka sangat-sangat baik hati dan ramah. Sebuah sifat yang jarang saya temukan di komunitas esdm masa lalu.
Harus saya akui bahwa gerakan non blok inilah yang membuat saya berlama-lama di ruang presrum kementrian yang kantornya di sebrang gedung BI tersebut.
Mereka [Iwabilers] memiliki semangat 45 untuk mengejar berita dan mentranskrip wawancara. Mulai dari jadwal agenda pagi hingga terbenam matahari. Semua itu hanya untuk mencari pundi-pundi rupiah demi nonton sang pujaan di panggung.
Gerakan Non Blok ini dipimpin oleh ibu dirut labil penggila Korea. Kemudian wadirutnya adalah pewarta dari salah satu harian berbahasa inggris yang pernah ngejengkang di depan pembangkit listrik bule di salah satu hotel di kawasan Sudirman. Selain itu masih ada ibu momod yang kantornya ada di kawasan semanggi, si pecinta Laruku dan DBSK, serta anggota yang "katanya" punya suara paling bagus. Terakhir, masih ada si kamis maret yang tengah berada di jalan kebenaran ketika liputan sudah mulai [ngaret.com].
Saya menganggap mereka sangat-sangat kocak dan menghibur. Duh, saya yakin jika mereka membentuk grup lawak mampu menyaingi ketenaran opera van java. Sayang, beberapa diantaranya sudah ada yang tidak bergabung lagi. Meski begitu, saya yakin kelompok Non Blok ini bakal mengukir sejarah di dunia pewarta esdm [lebay.com].
Uniknya, saya mulai terkena wabah virus "Korea". Sebab, mereka tidak hanya membicarakan soal migas tetapi juga heboh dengan Korea. Mulai dari drama hingga boyband Korea. Bahan rumpian tidak hanya seputar produksi migas, ekspor LNG ataupun harga listrik panasbumi. Bahan rumpian juga menjalar soal secret garden, dream high [judul-judul drama korea]. Bahkan bapak wadirut juga mulai memasukkan daftar Kpop di blackberrynya.
Kebiasaan baru saya adalah mendonload. Alih-alih belajar fokus bahasa inggris, perhatian saya tidak fokus. Bukan karena berita, melainkan karena pria-pria Korea yang dengan bebasnya bercelana merah ketat namun terlihat bagus. 24/7, hari-hari di kehidupan saya mulai dipenuhi dengan Donghae, Suju, Big Bang, 2pm, 2am dan yang terbaru adalah MBLAQ.
Well, saya senang bergaul dengan mereka. Saya merasa nyaman di tengah-tengah mereka. Meski mereka agak-agak labil dan alay, tetapi mereka sangat-sangat baik hati dan ramah. Sebuah sifat yang jarang saya temukan di komunitas esdm masa lalu.
3.06.2011
Benci libur di hari Minggu
"Hei mana laporan listingan kamis malam dong. Sedang nulis ya. Saya tunggu,"
isi pesan singkat itu berhasil menggaggu tidur siang saya. Ini adalah hari minggu, hari di mana saya libur. Berdasarkan jadwal libur yang disusun bulan Maret 2011, saya mendapatkan 3 hari jatah libur di hari Minggu. Damn! itu berarti sama saja, saya tidak mendapatkan libur. Karena, libur hari Minggu mereka beranggapan saya memiliki stok berita Jumat. Itu berarti saya masih bekerja. Lagi-lagi libur yang sudah menjadi hak seorang karyawan harus diperkosa lagi.
Dengan langkah gontai, saya mengambil netbook. Kemudian, memukul-mukul keyboard untuk menyusun kata-kata demi sebuah berita. Seperti robot, saya mengerjakan perintah yang ada di pesan singkat itu. Kalau boleh memilih, saya ingin libur di hari biasa (senin-jumat).
Teringat percakapan saya dengan pengirim sms beberapa waktu lalu.
"Loh mas, itu kan hari libur seharusnya tidak ada berita kan," kata saya.
"Iya tapi kamu harus nyetok berita. Ini sudah sesuai dengan kesepakatan," kata dia.
"Kesepakatan siapa? saya tidak merasa sepakat hari libur harus nyetok berita," tanya saya balik.
"Ini sudah menjadi kebijakan kompartemen," tegas dia.
Setelah dia menutup sambungan telepon itu, mood saya menjadi hilang. Saya marah dan kesal. Dia selalu saja mengganggu libur saya. Bukan kali ini saja dia mengganggu libur saya. Apakah saya tidak boleh libur? Kekesalan saya sudah memuncak, apalagi sebelumnya ketika cuti, mendadak dia membatalkan satu hari jatah cuti saya. Dalam surat pengajuan cuti, saya mengajukan cuti mulai tanggal 7 hingga 13. Tanggal 14 Februari baru masuk. Namun, entah apa yang terjadi di jadwal libur bulan Februari, tanggal 13 Februari saya sudah masuk. Ketika itu saya berdebat dengan dia karena saya protes soal cuti ini.
"Ya sudah saya lihat cuti kamu di hrd," kata dia.
Sayapun mengecek hrd dan disitupun tertera tanggal 14 Februari saya baru masuk.
"Solusinya, kamu bisa tidak masuk ke kantor tanggal 13 Februari itu tetapi kamu harus kirim berita," kata dia.
Saya kesal luar biasa ketika itu. Solusinya sama saja masih bekerja. Tidak masuk kantor tetapi harus setor berita. Buat saya libur adalah libur. Libur adalah hari di mana saya tidak ingin memikirkan berita. Jangankan menulis berita, di hari libur saya mencegah untuk membuka portal berita atau nonton tv yang berbau berita. Yah, saya masih bekerja tetapi di catatan hrd, cuti saya tidak terpangkas satu hari. Sama saja, dia mengkorupsi jatah cuti saya. OMG, saya sudah tidak tahan dengan dia!!
Di rapat kompartemen saya yang terakhir, saya memintanya kepada dia supaya ketika kita libur, jangan lagi ada stok berita. Namun, dia tetap saja menolak usulan saya. Ini tidak adil, Ini baru akan adil ketika redaktur atau asisten redaktur libur juga harus menyetok untuk mengedit berita? tapi apakah itu bisa berlaku di harian? Seharusnya jika reporter nyetok berita, maka redaktur harus nyetok ngedit berita. Aih, kebijakan ini menurut saya hanya untuk mengamankan posisi redaktur. Karena dia selalu bilang: jika salah seorang libur berita bisa kurang. Duh, menurut saya tugas reporter adalah mengamankan berita sedangkan tugas redaktur adalah mengamankan halaman. Saya kemudian teringat kepada salah seorang teman yang mengatakan, "Enaknya jadi redaktur di *****, bisanya hanya listing tanpa ada solusi untuk ide. Kalau berita kurang, tinggal nelpon reporter buat nambah,".
Terogong
06 Maret 2011
isi pesan singkat itu berhasil menggaggu tidur siang saya. Ini adalah hari minggu, hari di mana saya libur. Berdasarkan jadwal libur yang disusun bulan Maret 2011, saya mendapatkan 3 hari jatah libur di hari Minggu. Damn! itu berarti sama saja, saya tidak mendapatkan libur. Karena, libur hari Minggu mereka beranggapan saya memiliki stok berita Jumat. Itu berarti saya masih bekerja. Lagi-lagi libur yang sudah menjadi hak seorang karyawan harus diperkosa lagi.
Dengan langkah gontai, saya mengambil netbook. Kemudian, memukul-mukul keyboard untuk menyusun kata-kata demi sebuah berita. Seperti robot, saya mengerjakan perintah yang ada di pesan singkat itu. Kalau boleh memilih, saya ingin libur di hari biasa (senin-jumat).
Teringat percakapan saya dengan pengirim sms beberapa waktu lalu.
"Loh mas, itu kan hari libur seharusnya tidak ada berita kan," kata saya.
"Iya tapi kamu harus nyetok berita. Ini sudah sesuai dengan kesepakatan," kata dia.
"Kesepakatan siapa? saya tidak merasa sepakat hari libur harus nyetok berita," tanya saya balik.
"Ini sudah menjadi kebijakan kompartemen," tegas dia.
Setelah dia menutup sambungan telepon itu, mood saya menjadi hilang. Saya marah dan kesal. Dia selalu saja mengganggu libur saya. Bukan kali ini saja dia mengganggu libur saya. Apakah saya tidak boleh libur? Kekesalan saya sudah memuncak, apalagi sebelumnya ketika cuti, mendadak dia membatalkan satu hari jatah cuti saya. Dalam surat pengajuan cuti, saya mengajukan cuti mulai tanggal 7 hingga 13. Tanggal 14 Februari baru masuk. Namun, entah apa yang terjadi di jadwal libur bulan Februari, tanggal 13 Februari saya sudah masuk. Ketika itu saya berdebat dengan dia karena saya protes soal cuti ini.
"Ya sudah saya lihat cuti kamu di hrd," kata dia.
Sayapun mengecek hrd dan disitupun tertera tanggal 14 Februari saya baru masuk.
"Solusinya, kamu bisa tidak masuk ke kantor tanggal 13 Februari itu tetapi kamu harus kirim berita," kata dia.
Saya kesal luar biasa ketika itu. Solusinya sama saja masih bekerja. Tidak masuk kantor tetapi harus setor berita. Buat saya libur adalah libur. Libur adalah hari di mana saya tidak ingin memikirkan berita. Jangankan menulis berita, di hari libur saya mencegah untuk membuka portal berita atau nonton tv yang berbau berita. Yah, saya masih bekerja tetapi di catatan hrd, cuti saya tidak terpangkas satu hari. Sama saja, dia mengkorupsi jatah cuti saya. OMG, saya sudah tidak tahan dengan dia!!
Di rapat kompartemen saya yang terakhir, saya memintanya kepada dia supaya ketika kita libur, jangan lagi ada stok berita. Namun, dia tetap saja menolak usulan saya. Ini tidak adil, Ini baru akan adil ketika redaktur atau asisten redaktur libur juga harus menyetok untuk mengedit berita? tapi apakah itu bisa berlaku di harian? Seharusnya jika reporter nyetok berita, maka redaktur harus nyetok ngedit berita. Aih, kebijakan ini menurut saya hanya untuk mengamankan posisi redaktur. Karena dia selalu bilang: jika salah seorang libur berita bisa kurang. Duh, menurut saya tugas reporter adalah mengamankan berita sedangkan tugas redaktur adalah mengamankan halaman. Saya kemudian teringat kepada salah seorang teman yang mengatakan, "Enaknya jadi redaktur di *****, bisanya hanya listing tanpa ada solusi untuk ide. Kalau berita kurang, tinggal nelpon reporter buat nambah,".
Terogong
06 Maret 2011
1.15.2011
Titik Nadir
Yes, it's friday. Senangnya sudah hari jumat. ini berarti besok libur. Selama seminggu terakhir, saya sudah sibuk bermalam di RS selama tiga hari, cucian seabrek, harus kerja bakti membersihkan kamar kosan yang sudah berdebu, lemari baju yang harus ditata ulang ditambah dengan setrikaan yang menggunung. Pekerjaan menumpuk di sana sini. Belum lagi dengan adanya deadline tulisan lifestyle yang mendadak. Oh, I hate my life but I'm enjoy it.
Jumat siang ini tak ada agenda. Hanya menunggu janji wawancara dengan salah satu pejabat panas bumi setelah sholat jumat di kantornya. Tulisan life style sudah hampir jadi, hanya tinggal menunggu balasan email dari salah satu dokter di rscm. Eh, tak disangka, di kantor itu ada menteri esdm yang sedang rapat antara DEN dan bappenas. Wah, bisa ditanya soal capping listrik.
Asyik mendengarkan narasumber, tiba-tiba ada email masuk. "Ada conpres di kementrian esdm jam 15.30". Ah, conpres apa lagi ini. Toh, soal TDL dan capping, Menteri ESDM ngomongnya hanya itu mulu. Semakin malas, ketika mengetahui informasi bahwa yang akan mengadakan conpres adalah salah satu staf menteri.
Namun, saya memilih untuk melanjutkan sesi wawancara dengan pejabat panas bumi. Karena ada beberapa data yang ingin saya kejar. Tiba-tiba saja ada sms. Saya juga meninggalkan acara pelantikan direksi djakarta llyold di kantor kementrian BUMN.
15:27
Fen, ada konpres di esdm jam 16.00 soal listrik apa bisa liput?
15:46
maaf mas, kayaknya ga bisa. Skg aku msh janjian ama direktur panas bumi soal ppa pln ama wkp panas bumi. Kasih aja ke anak nasional mas, biasanya kalo tarif listrik kan mereka.
15:49
Ini karena semua anak nasional tidak ada yang bisa sehingga redex minta feni bisa bantu
15:56
tp aku masih ngobrol ama direktur panas bumi mas. Lagian yang conpres juga kardaya, staf menteri bukan menterinya. Yawda ntar deh mas kalo nutut aku ke sana. Soalnya ga enak motong wwcr ama direktur panas bumi. aku udah janjian
15:55
Feni, akhirnya anak nasional bisa.
Oke, beres. berarti saya tetap meneruskan perbincangan dengan direktur panas bumi tersebut. Terus terang saja, saya tertarik dengan persoalan panas bumi ini. Pengembangannya begitu lambat. Padahal kontribusinya cukup dibutuhkan untuk menjaga ketahanan energi. Bahkan Presiden SBY menggunakan daya tarik panas bumi untuk mendongkrak citranya di kancah internasional. Ah, memang presiden yang satu itu, takut sekali jika citranya jelek.
16:13
Feni, yang life style kurang. Harus ada konsumennya. Karena ini rubrik gaya hidup bukan trend atau rubrik kesehatan. Jadi harus ada ceritera dari beberapa wanita yang keranjingan ke spa vagina ini. namanya boleh samaran. kalau angle trend atau kesehatan pernah ditulis.
Duh, mau cari di mana narasumber itu. Tuing-tuing kepala saya pening. Saya memang baru mengerjakan tulisan life style itu hari Kamis. Karena, saya baru tau saya mendapat giliran life style hari selasa. Sedangkan hari Rabu itu, saya sibuk mengurus saudara saya yang sedang tertimpa kecelakaan. Belum lagi mengurus berita harian.
Okey, tanpa banyak mengeluh saya akan ke rumah spa. Tapi ternyata, ketika sampai di sana, rumah spa yang berlokasi di jakarta selatan itu sudah tutup. Maklum sudah jam 5.00 sore. Karena, saya baru kelar wawancara sekitar jam 4.30 sore.
O,iya saya lupa. Saya masih memiliki tanggungan berita capping tdl yang belum saya kerjakan. Akhirnya, saya menepi dan mampir di sebuah rumah makan. Sambil makan (akhirnya!!! karena seharian belum terisi nasi), saya mengerjakan tulisan itu. Butuh kerja keras, pasalnya omongan menteri yang satu itu tidak ngelit sama sekali. Terpaksa harus menghubungi PLN dan narasumber lainnya. Alhamdulillah, narasumber itu baik hati sekali. Mereka mau menjawab meski seadanya.
18:18
Mas, aku kirim soal tdl dari PLN ama menteri esdm. Tadi siang sempat ketemu doorstop jumatan, Siapa tau buat tambahan. Soal spa v, ga nemu konsumennya. Tadi sore aku mampir di wilayah jaksel udah tutup. wwcr ama panas bumi baru kelar jam 4 sorean. thanks
sepi. tak ada balasan. Tumben dia tak membalas. Oh, mungkin dia sedang ngambek karena tidak mendapatkan dari konsumen. Toh, saya sedang sibuk mengejar berita untuk hari senin. Ah, sudahlah. saya sudah capek dan lelah menghadapinya. Berpikir saja positif bahwa dia sedang sibuk.
Saya sudah menuruti semua yang menjadi keinginannya. Disuruh ke sana, saya ke sana. Disuruh ke sini, saya mengikutinya. Bahkan, ketika hari libur yang seharusnya menjadi hak saya, saya disuruh masuk karena kurang orang, saya masih masuk. Ketika halaman masih kurang berita, saya turuti dia mencari berita lain. Padahal waktu itu, saya sudah menyetor jumlah berita yang lumayan.
Bahkan, ketika itu baru pulang dari Cirebon, besok paginya sudah harus ke Cilegon. Rasanya seperti tak ada orang lain saja. Saya sudah berusaha sabar menghadapinya. Tahun lalu, saya sudah menghanguskan tujuh jatah cuti saya karena tak boleh libur olehnya. Alasannya banyak yang cuti dan kurang orang. Duh gusti, harus apa lagi bisa membuat dia puas. Semuanya terasa tak ada yang sempurna di matanya meski sudah ke sana sini. Saya juga tak peduli dengan KPI, penilaian. Pengaruhnya hanya ada kepada bonus. Uang bukan ukuran segalanya buat saya. Saya hanya ingin ketenangan dan kebahagiaan. Saya tak peduli dengan ketidakadilan. Toh, dunia ini memang sudah tidak adil.
Terogong
0:33
15/1/2011
Jumat siang ini tak ada agenda. Hanya menunggu janji wawancara dengan salah satu pejabat panas bumi setelah sholat jumat di kantornya. Tulisan life style sudah hampir jadi, hanya tinggal menunggu balasan email dari salah satu dokter di rscm. Eh, tak disangka, di kantor itu ada menteri esdm yang sedang rapat antara DEN dan bappenas. Wah, bisa ditanya soal capping listrik.
Asyik mendengarkan narasumber, tiba-tiba ada email masuk. "Ada conpres di kementrian esdm jam 15.30". Ah, conpres apa lagi ini. Toh, soal TDL dan capping, Menteri ESDM ngomongnya hanya itu mulu. Semakin malas, ketika mengetahui informasi bahwa yang akan mengadakan conpres adalah salah satu staf menteri.
Namun, saya memilih untuk melanjutkan sesi wawancara dengan pejabat panas bumi. Karena ada beberapa data yang ingin saya kejar. Tiba-tiba saja ada sms. Saya juga meninggalkan acara pelantikan direksi djakarta llyold di kantor kementrian BUMN.
15:27
Fen, ada konpres di esdm jam 16.00 soal listrik apa bisa liput?
15:46
maaf mas, kayaknya ga bisa. Skg aku msh janjian ama direktur panas bumi soal ppa pln ama wkp panas bumi. Kasih aja ke anak nasional mas, biasanya kalo tarif listrik kan mereka.
15:49
Ini karena semua anak nasional tidak ada yang bisa sehingga redex minta feni bisa bantu
15:56
tp aku masih ngobrol ama direktur panas bumi mas. Lagian yang conpres juga kardaya, staf menteri bukan menterinya. Yawda ntar deh mas kalo nutut aku ke sana. Soalnya ga enak motong wwcr ama direktur panas bumi. aku udah janjian
15:55
Feni, akhirnya anak nasional bisa.
Oke, beres. berarti saya tetap meneruskan perbincangan dengan direktur panas bumi tersebut. Terus terang saja, saya tertarik dengan persoalan panas bumi ini. Pengembangannya begitu lambat. Padahal kontribusinya cukup dibutuhkan untuk menjaga ketahanan energi. Bahkan Presiden SBY menggunakan daya tarik panas bumi untuk mendongkrak citranya di kancah internasional. Ah, memang presiden yang satu itu, takut sekali jika citranya jelek.
16:13
Feni, yang life style kurang. Harus ada konsumennya. Karena ini rubrik gaya hidup bukan trend atau rubrik kesehatan. Jadi harus ada ceritera dari beberapa wanita yang keranjingan ke spa vagina ini. namanya boleh samaran. kalau angle trend atau kesehatan pernah ditulis.
Duh, mau cari di mana narasumber itu. Tuing-tuing kepala saya pening. Saya memang baru mengerjakan tulisan life style itu hari Kamis. Karena, saya baru tau saya mendapat giliran life style hari selasa. Sedangkan hari Rabu itu, saya sibuk mengurus saudara saya yang sedang tertimpa kecelakaan. Belum lagi mengurus berita harian.
Okey, tanpa banyak mengeluh saya akan ke rumah spa. Tapi ternyata, ketika sampai di sana, rumah spa yang berlokasi di jakarta selatan itu sudah tutup. Maklum sudah jam 5.00 sore. Karena, saya baru kelar wawancara sekitar jam 4.30 sore.
O,iya saya lupa. Saya masih memiliki tanggungan berita capping tdl yang belum saya kerjakan. Akhirnya, saya menepi dan mampir di sebuah rumah makan. Sambil makan (akhirnya!!! karena seharian belum terisi nasi), saya mengerjakan tulisan itu. Butuh kerja keras, pasalnya omongan menteri yang satu itu tidak ngelit sama sekali. Terpaksa harus menghubungi PLN dan narasumber lainnya. Alhamdulillah, narasumber itu baik hati sekali. Mereka mau menjawab meski seadanya.
18:18
Mas, aku kirim soal tdl dari PLN ama menteri esdm. Tadi siang sempat ketemu doorstop jumatan, Siapa tau buat tambahan. Soal spa v, ga nemu konsumennya. Tadi sore aku mampir di wilayah jaksel udah tutup. wwcr ama panas bumi baru kelar jam 4 sorean. thanks
sepi. tak ada balasan. Tumben dia tak membalas. Oh, mungkin dia sedang ngambek karena tidak mendapatkan dari konsumen. Toh, saya sedang sibuk mengejar berita untuk hari senin. Ah, sudahlah. saya sudah capek dan lelah menghadapinya. Berpikir saja positif bahwa dia sedang sibuk.
Saya sudah menuruti semua yang menjadi keinginannya. Disuruh ke sana, saya ke sana. Disuruh ke sini, saya mengikutinya. Bahkan, ketika hari libur yang seharusnya menjadi hak saya, saya disuruh masuk karena kurang orang, saya masih masuk. Ketika halaman masih kurang berita, saya turuti dia mencari berita lain. Padahal waktu itu, saya sudah menyetor jumlah berita yang lumayan.
Bahkan, ketika itu baru pulang dari Cirebon, besok paginya sudah harus ke Cilegon. Rasanya seperti tak ada orang lain saja. Saya sudah berusaha sabar menghadapinya. Tahun lalu, saya sudah menghanguskan tujuh jatah cuti saya karena tak boleh libur olehnya. Alasannya banyak yang cuti dan kurang orang. Duh gusti, harus apa lagi bisa membuat dia puas. Semuanya terasa tak ada yang sempurna di matanya meski sudah ke sana sini. Saya juga tak peduli dengan KPI, penilaian. Pengaruhnya hanya ada kepada bonus. Uang bukan ukuran segalanya buat saya. Saya hanya ingin ketenangan dan kebahagiaan. Saya tak peduli dengan ketidakadilan. Toh, dunia ini memang sudah tidak adil.
Terogong
0:33
15/1/2011
12.29.2010
Reuni dengan mantan pejabat
Empat jam sebelum pertandingan final piala AFF antara Indonesia dan Malaysia, pria berusia 57 tahun memasuki lobi gedung kementrian BUMN. Para kuli tinta yang asyik menulis dan berkutat dengan deadline di presrum tidak menyadari kedatangan pria yang akrab disebut dengan panggilan babe. Namun, salah seorang berteriak, "eh, itu ada pak Sofyan Djalil". Kemudian dengan sekejap para kuli tinta itu melupakan berita, melupakan ada deadline yang harus dikejar sebelum pertandingan sepak bola dimulai. Semua meletakkan notebook, berlari ke luar persrum dan menuju lobi gedung.
Ternyata, Beliau masih mengingat kami. Dengan senyuman dan keramahannya, beliau menyalami kami. Meski sudah tidak lagi menjadi menteri, Sofyan Djalil masih tidak berubah. Seperti dulu, selalu tersenyum, bersedia berjabat tangan, dan menanyakan kabar.
"Wah, kalian masih di BUMN ya," kata pria kelahiran Aceh ini.
Saya memang berdecak kagum dengan sosok Sofyan Djalil. Kesederhanaan, Ketegasan dan Keramahannya merupakan ciri khasnya. Ketika mengikuti beliau selama menjadi Menteri BUMN, saya sangat mengidolakannya dibandingkan dengan pejabat-pejabat yang lain. Terakhir kali saya bertemu dengan dia, ketika pelantikan menteri BUMN yang baru. Dalam suasana haru, kami penghuni presrum plat merah melepas kepergian beliau. Bahkan, ada salah satu teman penghuni presrum plat merah demi menghadiri pelantikan beliau, dia datang. Padahal ketika hari itu, teman kami sedang bertugas di tempat lain. Dia mampir sebentar ke gedung Kementrian BUMN, sebelum pergi ke tempat liputannya.
Beliau sederhana dalam menjawab dan bertutur kata. Beliau juga tegas dalam menyampaikan informasi, mana yang boleh dipublikasikan dan mana yang tidak boleh dipublikasikan. Ketika informasi itu masih rahasia, beliau pasti akan mengatakan tidak mau menjawab. Namun, ketika beliau tidak tahu, beliau pasti bilang tidak tahu. Beliau tidak pernah kucing-kucingan dengan kami yang berprofesi sebagai kuli tinta.
Satu ciri yang selalu melekat adalah keramahan. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Periode 2004-2007) dengan sabar dan ramah meladeni pertanyaan demi pertanyaan. Tak pernah ada intonasi keras yang keluar darinya.
Saya sempat berinteraksi dengan beliau. Meski cuma sebentar, hanya beberapa bulan. Namun, pak Sofyan sudah memberikan kesan yang mendalam untuk saya. Dia akan selalu menjadi salah satu pejabat favorit saya. Apalagi, dia juga termasuk orang yang bersih. Meski dia maju ke kursi menteri karena dekat dengan JK. Namun, yang saya dengar, dia tidak suka berpolitik. Selama masa kepemimpinannya di BUMN, beliau telah mencapai banyak hal yang menguntungkan plat merah. Tak sekalipun, saya mendengar sentimen negatif tentang beliau. Bahkan, dia berani memecat sekretarisnya ketika sekretaris tersebut ketahuan mendapat hadiah mobil dari salah satu perusahaan plat merah.
Ketika membaca biografinya, saya semakin kagum dengan beliau. Dari kecil, beliau sudah bekerja keras. Beliau tidak pasrah terhadap nasibnya. Ayahnya hanyalah seorang tukang cukur dan ibunya guru ngaji. Sedari kecil, beliau sudah mencari uang dengan menjual telur itik. Sebelum sukses seperti sekarang, Beliau pernah menjadi penjaga masjid dan kondektur metromini. Ia bisa kuliah di Universitas Indonesia karena memperoleh beasiswa. Kemudian melanjutkan studi ke Amerika.
Jalan hidup pak Sofyan seperti metamorfosis kupu-kupu. Ulat berubah menjadi kepompong kemudian kupu-kupu. Pelajaran yang saya ambil dari biografi beliau adalah berani bermimpi dan jangan pernah menyerah dengan kondisi. Menyerah hanya kata untuk mereka yang tidak berani menghadapi kenyataan.
Ketika, Presiden SBY memutuskan untuk mengganti beliau, saya dengan teman-teman penghuni presrum merasa sedih. Beliau bukan hanya sebagai menteri untuk kami. Beliau adalah seseorang yang kebapakan. Ketika kami mengikuti beliau rapat dengan DPR hingga pagi buta, beliau masih sempat bertanya, "Kalian sudah makan? Pasti capek ya mengikuti saya seharian,". Meski Pak Sofyan juga kelelahan, tetapi beliau meluangkan waktunya untuk berkenan kami wawancara. Padahal, kami sudah optimis, beliau akan naik lagi menjadi menteri BUMN. Bukan karena rasa simpati kami. Tetapi, karena beliau adalah orang cerdas yang dapat memperbaiki kondisi perusahaan plat merah yang sedang sakit.
Namun, sebelum pergantiannya, terdapat kabar tidak sedap bahwa Sofyan Djalil adalah salah satu menteri yang menjauh dari JK. Ketika tudingan itu digelontorkan, beliau kecewa namun tetap menjawab tudingan itu dengan sabar. Dalam beberapa kunjungan Wapres JK, Sofyan Djalil memang tidak hadir karena memang sedang mengurus sekolah anak ke Amerika. Saya percaya, Sofyan Djalil bukanlah orang bertipe kacang yang lupa kulitnya. Bukan pula orang yang gila jabatan.
Kemudian ketika terjadi gempa dengan kekuatan 7,3 SR berpusat di laut sekitar 140 km dari Tasikmalaya, mengguncang pulau Jawa, termasuk Gedung BUMN. Semua, pegawai BUMN berhamburan ke luar gedung. Tetapi Sofyan Djalil dan pengawalnya tidak terlihat ikut berhamburan, dia bertahan di ruang kerjanya. Lalu, berselang beberapa menit, dia dan pengawalnya melambaikan tangan dari jendela kantornya dan tak lupa senyumnya.
Medan Merdeka Selatan
Presroom Gedung Kementrian plat merah
18.22 WIB
Ternyata, Beliau masih mengingat kami. Dengan senyuman dan keramahannya, beliau menyalami kami. Meski sudah tidak lagi menjadi menteri, Sofyan Djalil masih tidak berubah. Seperti dulu, selalu tersenyum, bersedia berjabat tangan, dan menanyakan kabar.
"Wah, kalian masih di BUMN ya," kata pria kelahiran Aceh ini.
Saya memang berdecak kagum dengan sosok Sofyan Djalil. Kesederhanaan, Ketegasan dan Keramahannya merupakan ciri khasnya. Ketika mengikuti beliau selama menjadi Menteri BUMN, saya sangat mengidolakannya dibandingkan dengan pejabat-pejabat yang lain. Terakhir kali saya bertemu dengan dia, ketika pelantikan menteri BUMN yang baru. Dalam suasana haru, kami penghuni presrum plat merah melepas kepergian beliau. Bahkan, ada salah satu teman penghuni presrum plat merah demi menghadiri pelantikan beliau, dia datang. Padahal ketika hari itu, teman kami sedang bertugas di tempat lain. Dia mampir sebentar ke gedung Kementrian BUMN, sebelum pergi ke tempat liputannya.
Beliau sederhana dalam menjawab dan bertutur kata. Beliau juga tegas dalam menyampaikan informasi, mana yang boleh dipublikasikan dan mana yang tidak boleh dipublikasikan. Ketika informasi itu masih rahasia, beliau pasti akan mengatakan tidak mau menjawab. Namun, ketika beliau tidak tahu, beliau pasti bilang tidak tahu. Beliau tidak pernah kucing-kucingan dengan kami yang berprofesi sebagai kuli tinta.
Satu ciri yang selalu melekat adalah keramahan. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Periode 2004-2007) dengan sabar dan ramah meladeni pertanyaan demi pertanyaan. Tak pernah ada intonasi keras yang keluar darinya.
Saya sempat berinteraksi dengan beliau. Meski cuma sebentar, hanya beberapa bulan. Namun, pak Sofyan sudah memberikan kesan yang mendalam untuk saya. Dia akan selalu menjadi salah satu pejabat favorit saya. Apalagi, dia juga termasuk orang yang bersih. Meski dia maju ke kursi menteri karena dekat dengan JK. Namun, yang saya dengar, dia tidak suka berpolitik. Selama masa kepemimpinannya di BUMN, beliau telah mencapai banyak hal yang menguntungkan plat merah. Tak sekalipun, saya mendengar sentimen negatif tentang beliau. Bahkan, dia berani memecat sekretarisnya ketika sekretaris tersebut ketahuan mendapat hadiah mobil dari salah satu perusahaan plat merah.
Ketika membaca biografinya, saya semakin kagum dengan beliau. Dari kecil, beliau sudah bekerja keras. Beliau tidak pasrah terhadap nasibnya. Ayahnya hanyalah seorang tukang cukur dan ibunya guru ngaji. Sedari kecil, beliau sudah mencari uang dengan menjual telur itik. Sebelum sukses seperti sekarang, Beliau pernah menjadi penjaga masjid dan kondektur metromini. Ia bisa kuliah di Universitas Indonesia karena memperoleh beasiswa. Kemudian melanjutkan studi ke Amerika.
Jalan hidup pak Sofyan seperti metamorfosis kupu-kupu. Ulat berubah menjadi kepompong kemudian kupu-kupu. Pelajaran yang saya ambil dari biografi beliau adalah berani bermimpi dan jangan pernah menyerah dengan kondisi. Menyerah hanya kata untuk mereka yang tidak berani menghadapi kenyataan.
Ketika, Presiden SBY memutuskan untuk mengganti beliau, saya dengan teman-teman penghuni presrum merasa sedih. Beliau bukan hanya sebagai menteri untuk kami. Beliau adalah seseorang yang kebapakan. Ketika kami mengikuti beliau rapat dengan DPR hingga pagi buta, beliau masih sempat bertanya, "Kalian sudah makan? Pasti capek ya mengikuti saya seharian,". Meski Pak Sofyan juga kelelahan, tetapi beliau meluangkan waktunya untuk berkenan kami wawancara. Padahal, kami sudah optimis, beliau akan naik lagi menjadi menteri BUMN. Bukan karena rasa simpati kami. Tetapi, karena beliau adalah orang cerdas yang dapat memperbaiki kondisi perusahaan plat merah yang sedang sakit.
Namun, sebelum pergantiannya, terdapat kabar tidak sedap bahwa Sofyan Djalil adalah salah satu menteri yang menjauh dari JK. Ketika tudingan itu digelontorkan, beliau kecewa namun tetap menjawab tudingan itu dengan sabar. Dalam beberapa kunjungan Wapres JK, Sofyan Djalil memang tidak hadir karena memang sedang mengurus sekolah anak ke Amerika. Saya percaya, Sofyan Djalil bukanlah orang bertipe kacang yang lupa kulitnya. Bukan pula orang yang gila jabatan.
Kemudian ketika terjadi gempa dengan kekuatan 7,3 SR berpusat di laut sekitar 140 km dari Tasikmalaya, mengguncang pulau Jawa, termasuk Gedung BUMN. Semua, pegawai BUMN berhamburan ke luar gedung. Tetapi Sofyan Djalil dan pengawalnya tidak terlihat ikut berhamburan, dia bertahan di ruang kerjanya. Lalu, berselang beberapa menit, dia dan pengawalnya melambaikan tangan dari jendela kantornya dan tak lupa senyumnya.
Medan Merdeka Selatan
Presroom Gedung Kementrian plat merah
18.22 WIB
11.10.2010
Itu Kursiku!!
Rabu (10/11) saya sungguh kesal sekali. Hari itu cuaca panas, Obama datang membuat jalanan macet, demo di bundaran HI semakin memperparah macetnya jalanan, kurang tidur (karena sedang menunggu kabar dari adik saya yang terjebak banjir bandang di Semarang) dan saya terserang flu. Tadinya memutuskan tidak akan masuk, namun dua pasukan desk bisnis juga tumbang membuat saya berpikir ulang. Toh, saya masih kuat untuk berdiri dan berjalan.
Setelah liputan di acara media gathering salah satu perusahaan plat merah, saya meluncur ke kantor. Kondisi badan yang tidak mendukung membuat saya pergi ke kantor karena sedang tidak ingin kemana-mana. Sampai di kantor, saya mendapatkan perhatian dari beberapa atasan, kolega kantor soal kondisi adik saya. Maklum, malam sebelumnya saya panik karena adik saya terjebak banjir bandang dan tidak bisa ditelp. Bercerita dengan mereka, cukup membuat saya terharu sekecil apapun perhatiannya. Karena, saya sangat mencintai dan menyayangi keluarga saya.
Namun, rasa senang itu hanya sebentar karena saya melihat seseorang telah menduduki kursi dan meja saya. Orang itu sebut saja dengan X. Mr. X ini sudah coba saya peringatkan bahwa itu kursi meja saya. Bahkan, salah seorang atasan saya juga pernah menegur dia. Kemudian, teman sebelah saya juga sudah memperingatkan. Tetapi seperti "Kanebo Kering" yang harus dibasahi terlebih dahulu baru basah. Saya tidak tahu apakah dia berpura-pura tidak tahu atau memang bandel. Yang jelas, hari itu saya sangat kesal sekali. Meski kesal, saya mencoba untuk berpikir positif.
Rasa kesal itu ditambah dengan ketika saya harus pindah. Oh, my God, saya terusir di meja kursi saya sendiri. What a damn shit!!! Memang, saya tidak mencoba untuk menegurnya tetapi, saya berpikir dia seharusnya tahu diri. Karena dia sudah diberitahu berkali-kali. Lain halnya jika dia sama sekali tidak diberitahu. Saya diam, karena saya tidak ingin membuat dia malu dengan mengusirnya. Jangankan mengalah, meminta ijin untuk menempati meja saya tidak pernah sekalipun terucap di mulutnya. Dimana letak sopan santunmu?
Teman sebelah meja saya, mengatakan," Dia sudah pernah tak kasih tau jangan duduk situ kalo Feni datang gimana," kata dia.
Jawaban dari Mr. X itu sontak membuat saya emosi. "Trus dia bilang, mbak Feni kan gak pernah ke kantor," tambah teman yang duduk di sebelah meja saya.
Ingin saya bilang kepada dia: "Hei lo itu anak baru. Anak baru mestinya turun lapangan dan nyari berita dan ga ngendon sendirian di belakang meja kaya orang kantoran. Kalo lo takut panas, jangan jadi wartawan!!"
Jelas saja saya tidak pernah di kantor, karena saya benar2 mencari berita. Menggali isu, bertemu dengan narasumber. Telepon boleh saja dilakukan, tetapi dalam kondisi tertentu. Bukan juga saya iri, karena saya dulu sebagai calon reporter banting setir ke sana ke sini. Liputan hingga Deptan, Ragunan dan kembali ke kantor saya tak pernah keberatan. Karena itu memang tugas saya dan saya bersyukur, redaktur-redaktur saya dahulu memberi tugas itu kepada saya. Sementara dia, dia enak2an di kantor dan selalu sms minta nomor ini dan minta nomor itu. Saya ingat, pertama kali dia mensms saya: "Mbak, aku minta semua nomor sumber migas, perusahaan migas dan tambang jadi kalau ada yang mau di fu lebih gampang. Kata mas M, aku suruh melengkapi beritamu," kata dia.
Setidaknya, dia bisa meminta dengan sopan. Semua nomor narasumber. Oh, Holly shit. Satu yang terlintas dalam benak saya: Enak saja! saya mencari nomor-nomor itu setengah mati berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sehari. Berpanas ria, belum ketambahan diusir satpam karena takut diminta sumbangan, dan lain sebagainya. Dan kamu, sebagai anak baru cuma sebagai pelengkap berita dan menelpon. Kalau di awal sudah minta enak, gimana ke belakangnya. Saya tak pernah pelit untuk memberi nomor kontak, tapi sms dia membuat saya kesal. Emang dia siapa, sms seperti itu kepada saya? atasan saya juga bukan.
Kembali ke masalah kursi, kenapa saya ingin duduk di situ bukan karena saya arogan untuk membuktikan saya lebih senior. Bukan itu, karena kursi meja itu adalah rumah saya. Lantas, kenapa ketika saya jarang ke kantor, langsung dia tidak menganggap saya ada. Apakah saya siluman, alien atau jin yang tidak ada bekasnya. Saya memang jarang ke kantor tapi karena saya bekerja di sana, suatu saat nanti pasti saya kembali ke kantor itu. Saya tidak keberatan, jika dia mau duduk di kursi saya, tetapi jika itu tidak ada saya. Selama saya ada, carilah tempat duduk yang lain. Dan saya heran, hanya dia yang sulit untuk diberitahu. Lagipula mencari rumah sendiri kan lebih enak.
Memang, saya bisa duduk di mana saja. Karena pada Rabu itu karena investor summit, banyak yang tidak ke kantor. Tetapi aneh rasanya ketika menduduki kursi meja orang lain. Karena, memang itu bukan tempat saya. Apa yang saya alami seolah-olah, saya memiliki rumah namun saya tidak bisa menempati rumah itu sehingga saya harus pergi karena ada orang lain yang bukan pemilik rumah memaksa masuk dan tinggal di rumah itu. Sedangkan, si pemilik rumah harus mencari-cari rumah yang lain.
Lalu, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya mengusirnya secara terang-terangan ataukah saya harus menuliskan: Don't sit here except Feni. Ataukah, saya harus diam saja dan membiarkan dia merajalela. Sudah cukup saya mengalah. Lagi-lagi kata itu yang muncul "mengalah".
Fatmawati
10/11/2010
23.45
Setelah liputan di acara media gathering salah satu perusahaan plat merah, saya meluncur ke kantor. Kondisi badan yang tidak mendukung membuat saya pergi ke kantor karena sedang tidak ingin kemana-mana. Sampai di kantor, saya mendapatkan perhatian dari beberapa atasan, kolega kantor soal kondisi adik saya. Maklum, malam sebelumnya saya panik karena adik saya terjebak banjir bandang dan tidak bisa ditelp. Bercerita dengan mereka, cukup membuat saya terharu sekecil apapun perhatiannya. Karena, saya sangat mencintai dan menyayangi keluarga saya.
Namun, rasa senang itu hanya sebentar karena saya melihat seseorang telah menduduki kursi dan meja saya. Orang itu sebut saja dengan X. Mr. X ini sudah coba saya peringatkan bahwa itu kursi meja saya. Bahkan, salah seorang atasan saya juga pernah menegur dia. Kemudian, teman sebelah saya juga sudah memperingatkan. Tetapi seperti "Kanebo Kering" yang harus dibasahi terlebih dahulu baru basah. Saya tidak tahu apakah dia berpura-pura tidak tahu atau memang bandel. Yang jelas, hari itu saya sangat kesal sekali. Meski kesal, saya mencoba untuk berpikir positif.
Rasa kesal itu ditambah dengan ketika saya harus pindah. Oh, my God, saya terusir di meja kursi saya sendiri. What a damn shit!!! Memang, saya tidak mencoba untuk menegurnya tetapi, saya berpikir dia seharusnya tahu diri. Karena dia sudah diberitahu berkali-kali. Lain halnya jika dia sama sekali tidak diberitahu. Saya diam, karena saya tidak ingin membuat dia malu dengan mengusirnya. Jangankan mengalah, meminta ijin untuk menempati meja saya tidak pernah sekalipun terucap di mulutnya. Dimana letak sopan santunmu?
Teman sebelah meja saya, mengatakan," Dia sudah pernah tak kasih tau jangan duduk situ kalo Feni datang gimana," kata dia.
Jawaban dari Mr. X itu sontak membuat saya emosi. "Trus dia bilang, mbak Feni kan gak pernah ke kantor," tambah teman yang duduk di sebelah meja saya.
Ingin saya bilang kepada dia: "Hei lo itu anak baru. Anak baru mestinya turun lapangan dan nyari berita dan ga ngendon sendirian di belakang meja kaya orang kantoran. Kalo lo takut panas, jangan jadi wartawan!!"
Jelas saja saya tidak pernah di kantor, karena saya benar2 mencari berita. Menggali isu, bertemu dengan narasumber. Telepon boleh saja dilakukan, tetapi dalam kondisi tertentu. Bukan juga saya iri, karena saya dulu sebagai calon reporter banting setir ke sana ke sini. Liputan hingga Deptan, Ragunan dan kembali ke kantor saya tak pernah keberatan. Karena itu memang tugas saya dan saya bersyukur, redaktur-redaktur saya dahulu memberi tugas itu kepada saya. Sementara dia, dia enak2an di kantor dan selalu sms minta nomor ini dan minta nomor itu. Saya ingat, pertama kali dia mensms saya: "Mbak, aku minta semua nomor sumber migas, perusahaan migas dan tambang jadi kalau ada yang mau di fu lebih gampang. Kata mas M, aku suruh melengkapi beritamu," kata dia.
Setidaknya, dia bisa meminta dengan sopan. Semua nomor narasumber. Oh, Holly shit. Satu yang terlintas dalam benak saya: Enak saja! saya mencari nomor-nomor itu setengah mati berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sehari. Berpanas ria, belum ketambahan diusir satpam karena takut diminta sumbangan, dan lain sebagainya. Dan kamu, sebagai anak baru cuma sebagai pelengkap berita dan menelpon. Kalau di awal sudah minta enak, gimana ke belakangnya. Saya tak pernah pelit untuk memberi nomor kontak, tapi sms dia membuat saya kesal. Emang dia siapa, sms seperti itu kepada saya? atasan saya juga bukan.
Kembali ke masalah kursi, kenapa saya ingin duduk di situ bukan karena saya arogan untuk membuktikan saya lebih senior. Bukan itu, karena kursi meja itu adalah rumah saya. Lantas, kenapa ketika saya jarang ke kantor, langsung dia tidak menganggap saya ada. Apakah saya siluman, alien atau jin yang tidak ada bekasnya. Saya memang jarang ke kantor tapi karena saya bekerja di sana, suatu saat nanti pasti saya kembali ke kantor itu. Saya tidak keberatan, jika dia mau duduk di kursi saya, tetapi jika itu tidak ada saya. Selama saya ada, carilah tempat duduk yang lain. Dan saya heran, hanya dia yang sulit untuk diberitahu. Lagipula mencari rumah sendiri kan lebih enak.
Memang, saya bisa duduk di mana saja. Karena pada Rabu itu karena investor summit, banyak yang tidak ke kantor. Tetapi aneh rasanya ketika menduduki kursi meja orang lain. Karena, memang itu bukan tempat saya. Apa yang saya alami seolah-olah, saya memiliki rumah namun saya tidak bisa menempati rumah itu sehingga saya harus pergi karena ada orang lain yang bukan pemilik rumah memaksa masuk dan tinggal di rumah itu. Sedangkan, si pemilik rumah harus mencari-cari rumah yang lain.
Lalu, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya mengusirnya secara terang-terangan ataukah saya harus menuliskan: Don't sit here except Feni. Ataukah, saya harus diam saja dan membiarkan dia merajalela. Sudah cukup saya mengalah. Lagi-lagi kata itu yang muncul "mengalah".
Fatmawati
10/11/2010
23.45
11.04.2010
Itu adalah rumahku
Aku tak pernah membayangkan akan ada badai besar yang akan menghantam rumahku. Kali ini, badai itu tidak hanya merusak bangunan rumah, tetapi badai itu juga telah membuat penghuni rumah pergi satu persatu. Tapi, aku tak pernah menyalahkan badai itu. Karena memang, rumahku itu dari awal sudah rapuh.
Seandainya saja, rumahku itu kokoh, sedahsyat apapun badai itu, rumahku pasti bisa bertahan. Tapi, itu semua adalah pilihan setiap penghuni rumah, apakah memutuskan untuk bertahan dalam badai atau keluar dalam badai demi sebuah kenyamanan. Setiap pilihan dan keputusan itulah yang harus aku hormati.
Aku memang mempertanyakan, kenapa mereka pergi? tetapi aku tidak menyalahkan mereka pergi. Aku juga tidak membenarkan mereka pergi. Karena memang tidak ada benar dan salah. Alasan mereka pergi, adalah hal yang harus segera diperbaiki untuk membuat rumahku kokoh lagi.
Meski banyak orang yang meninggalkan rumahku, aku yakin rumah itu akan berdiri tegak lagi. Karena, rumah yang dibangun bertahun-tahun dengan keringat dan kerja keras, tak mungkin dibiarkan ambruk begitu saja. Aku yakin, masih ada cara untuk memperbaiki rumah itu.
Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena rumah itu yang bersedia untuk menampungku ketika aku terlantar. Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena aku percaya masih bisa diperbaiki. Walaupun, ada rumah baru yang tersedia untukku, tapi aku merasa masih bisa bertahan. Semoga, pertahananku di rumahku itu tidak akan sia-sia.
Medan Merdeka Selatan
04 November 2010
18.15 WIB
Sedih dan miris melihat status FB teman-teman
**pilihan adalah pilihan yang harus dihormati**
Seandainya saja, rumahku itu kokoh, sedahsyat apapun badai itu, rumahku pasti bisa bertahan. Tapi, itu semua adalah pilihan setiap penghuni rumah, apakah memutuskan untuk bertahan dalam badai atau keluar dalam badai demi sebuah kenyamanan. Setiap pilihan dan keputusan itulah yang harus aku hormati.
Aku memang mempertanyakan, kenapa mereka pergi? tetapi aku tidak menyalahkan mereka pergi. Aku juga tidak membenarkan mereka pergi. Karena memang tidak ada benar dan salah. Alasan mereka pergi, adalah hal yang harus segera diperbaiki untuk membuat rumahku kokoh lagi.
Meski banyak orang yang meninggalkan rumahku, aku yakin rumah itu akan berdiri tegak lagi. Karena, rumah yang dibangun bertahun-tahun dengan keringat dan kerja keras, tak mungkin dibiarkan ambruk begitu saja. Aku yakin, masih ada cara untuk memperbaiki rumah itu.
Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena rumah itu yang bersedia untuk menampungku ketika aku terlantar. Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena aku percaya masih bisa diperbaiki. Walaupun, ada rumah baru yang tersedia untukku, tapi aku merasa masih bisa bertahan. Semoga, pertahananku di rumahku itu tidak akan sia-sia.
Medan Merdeka Selatan
04 November 2010
18.15 WIB
Sedih dan miris melihat status FB teman-teman
**pilihan adalah pilihan yang harus dihormati**
5.14.2010
Percakapan 5 menit
Suatu sore, usai sholat dan mandi, saya melihat hp. Opppsss...ada 6 mised call, dan semuanya dari nomor kantor. ow...ow...ow....ada apa ini? Hari itu adalah tanggal merah, dan karena saya sedang tidak ingin ke kantor, saya mengerjakan berita dari kos. Kemudian ada pesan masuk: "Fen, tlg angkat telpnya...beritamu soal **** ga jelas semua,"
Segera saja, saya membalas sms redaktur. Tak berapa lama ia menelpon saya. Awalnya saya tak mengerti mengapa dan kenapa berita saya tidak jelas. Toh, saya sudah berusaha menulis sebaik mungkin. Ternyata, ada beberapa kesalahan angka dan nama jabatan. Akurasi saya masih banyak yang meleset. Well, bukankah tugas redaktur yang membetulkan tulisan reporternya.
Redaktur saya yang suka dengan detail ini, mulai menanyakan dari A hingga Z. Kemudian, ia mengkaitkannya antara fakta, tulisan dan logika. Memang, saya akui agak sedikit ribet bekerja sama dengan dia. Tapi tak bisa dipungkiri juga, bahwa saya memang banyak belajar dari redaktur saya yang satu ini. Saya banyak belajar bahwa tidak hanya menerima omongan narasumber mentah-mentah melainkan juga harus memastikan apakah omongan tersebut sesuai dengan alur logika. Dan saya juga mulai belajar soal detail. Saya menikmati bekerja sama dengan dia, meskipun kadang telinga ini agak merah menerima penjelasannya yang bertubi-tubi.
"Tulisan kamu akurasinya gak pas, berantakan semua. Dan ini bukan yang pertama, tapi akhir-akhir ini tulisan kamu berbeda," kata dia.
Sayapun hanya diam.
"Kamu kenapa, apa ada masalah? Atau memang sedang capek?" tanya dia.
Saya akui, saya memang ada masalah. Tapi bukan berarti semua orang tahu permasalahan saya. Saya hanya diam tak menjawab pertanyaan itu. Diam sebagai bentuk pengakuan saya bahwa saya memang bersalah.
"Kalau ada masalah, bilang aja. Dulu pas kamu jadi carep ga kaya gini tulisannya. Kenapa setelah jadi reporter malah berantakan?"
Saya masih diam.
"Bukannya apa, tapi akurasimu banyak yang meleset terutama soal angka. Dan ini berkali-kali, aku pikir kamu akan belajar setelah membaca tulisan yang diedit,".
Lima menit kemudian percakapan itu berakhir. Apa yang dikatakan oleh redaktur saya itu memang benar. Saya memang ada masalah pribadi, tapi sejauh ini saya mencoba untuk bersikap profesional. Saya tak pernah berusaha menjadikan masalah pribadi sebagai alasan untuk saya menjadi malas bekerja. Bahkan, saya masih bisa berusaha tertawa dalam keadaan yang tidak baik. Yah, mungkin secara tidak sadar, itu berpengaruh kepada cara menulis saya.
Selain itu juga, saya capek. Saya capek dengan tekanan kebijakan kantor yang baru. Saya capek dengan tuntutan yang saya terima tiap hari. Saya manusia, saya juga memiliki batas. Saya capek ketika harus berpikir secara sendirian, mencoba mencari isu sendiri. Sementara di luar sana, hanya ada yang mengembangkan berita dari rilis ataupun isu dari atasan, jarang ke lapangan justru tidak mendapatkan tekanan, yang ada malah pujian. Saya tidak minta untuk dipuji, tetapi saya hanya minta perlakuan yang adil.
Selama ini saya diam, ketika saya mendapatkan perintah untuk mencari berita untuk mengamankan halaman meskipun saya sudah menyetor beberapa berita. Dan hal itu tetap saya lakukan. Saya diam, meski terdapat beberapa kali berita yang tidak mencantumkan nama saya padahal itu materi berita saya. Bahkan, saya masih diam, ketika saya mendapatkan tugas-tugas ajaib (tugas yang berada di luar job desk saya).
Percakapan selama 5 menit itu, ternyata bisa membuat saya tahu kenapa saya merasa kinerja saya turun. Alasannya cuma satu, saya capek. Saya capek mendapatkan tuntutan terus menerus. "Saya ini manusia bukan malaikat,". Dan saya capek karena saya mendapat protes terus menerus padahal saya sudah berusaha untuk berbuat sebaik mungkin. Protes yang datangnya bisa dari siapa saja. Ketika bos besar minta neraca gas, saya berusaha mendapatkan itu. Dan memang saya mendapatkannya satu hari setelah perintah itu. Tapi tetap saja berita saya diprotes kenapa berita migas terus. Saya capek, ketika semua tindakan yang saya lakukan selalu salah.
Saya juga capek dengan rasa permusuhan dengan beberapa kolega di kantor. Mereka merasa bahwa saya selalu mengambil semua berita yang ada. Yah, BUMN selalu menjadi pos rebutan. semua kompartemen boleh masuk baik nasional, investasi, keuangan dan bisnis. Saya tidak pernah melarang siapapun untuk masuk dalam BUMN. Saya persilahkan kepada mereka semua yang ingin mencari berita di sana.
"Mereka segan ke BUMN karena lo ambil semua beritanya," kata sumber.
"Tapi kan aku gak pernah kaya gitu. Mana pernah aku melarang anak Kontan gak boleh masuk BUMN. Itu cuma alasan mereka aja yang ga mau nongkrong. Selama ini, kan selalu bagi berita," kata saya.
Bahkan, ketika ada acara Pertamina-PGN, saya hanya mengambil Pertamina. Sedangkan PGN, sudah diambil anak kompartemen investasi. Begitupun juga ketika ada acara PGN, Pertamina dan PLN di komisi VI, sayapun memberitahu anak investasi Kontan bahwa ada PGN di sana. Kalau memang saya egois, untuk apa saya memberitahu ada PGN. Begitupun juga dengan ketika ada acara di komisi VII ada ptba, antam, freeport, bhp, saya juga memberitahu mereka. Bahkan ketika ada acara bank di BUMN, saya juga sempat memberitahu mereka yang ada di desk keuangan tapi mereka tidak pernah datang.
Kemudian ketika ada acara breakfast meeting, biasanya 141 direktur utama BUMN pasti hadir karena ada bapak menteri BUMN. Ketika acara itu, bahkan saya hanya mengambil BUMN yang bukan tbk, BUMN yang bukan Keuangan. Lalu sekarang, saya menjadi kambing hitam lantaran mereka tidak pernah ke sana. Saya capek dengan itu semua, saya capek disalahkan terus.
Bahkan, ketika itu ada kejadian, ada berita yang saya transkrip dan saya masukkan milis ke plat merah. Namun, karena saya tahu itu bukan untuk halaman saya, saya tidak mengambil berita tersebut. Dan herannya, besok berita itu keluar oleh salah satu kawan saya di Kontan padahal nama yang tercantum disitu tidak pernah hadir. Saya diam saja, saya tidak melapor.
Namun, ada juga peristiwa ketika itu wawancara dengan menteri BUMN, saya terlambat datang. kemudian kawan saya yang itu datang terlebih dahulu. Dia pulang setelah mengira tidak ada proyeksi berita di sana yang berkaitan dengan halamannya. Kemudian saya hadir dan saya melisting berita soal halaman saya. Di kantor di hadapan beberapa kawan saya dan redaktur dia mengatakan.
"Lo ke mana koq bisa dapat berita itu. Kan tadi gw yang ada disitu?"
"Gw juga ada koq tapi gw telat," kata saya
"Itu pertanyaan gw, kenapa lo yg listing. Gw yang nanya. jadi siapa nih yang kloning. Yang jelas bukan gw karena gw ada di sana,"
"Gw ga kloning, gw ada di situ. Dan lagian gw memang listing berita soal itu tapi litnya bukan itu. Gw baru listing sore, dan yg lo listing itu sama kaya mba *****, dia dapatnya di deperin karena paginya menteri BUMN ke deperin buat ngomongin soal itu,"
Well, dari kejadian itu saya sedikit sakit hati. Saya kira kalau dia marah bisa menyelesaikan secara baik-baik tanpa harus melapor ke redaktur. Saya juga marah dengan dia yang saya pikir mau menjilat redaktur supaya dia tidak salah. Tapi, saya selalu berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan dia. Saya selalu berusaha bahwa dia adalah teman saya satu kantor. Kita adalah satu tim, karena buat saya, untuk apa berkompetisi dengan teman sekantor, melainkan berkompetisi dengan koran yang berbeda. Kita tidak akan pernah menang jika dalam tubuh kantor kita sendiri tidak sehat. Dan sekarang muncul tuduhan-tuduhan seperti itu. saya capek dan lelah, karena ketika saya berusaha untuk berbuat baik, mereka justru menjadikan saya ancaman.
Kalau mau diungkit-ungkit, banyak hal-hal yang saya lakukan untuk mereka. Saya selalu mengalah tetapi ketika mereka mengalah sekali saya untuk saya, mereka menganggap bahwa saya adalah raja untuk mengambil semuanya.
Belum lagi, ketika saya ke kantor saya mendapatkan bahwa kursi meja saya sudah ada yang menempati. Padahal masih banyak ruang kosong yang bisa ditempati. Apalagi anak yang menempati itu adalah sudah memiliki kursi meja sendiri. Saya memang jarang ke kantor tapi bukan berarti orang berhak untuk menempati meja kursi itu. Saya masih pegawai Kontan dan saya berhak disitu. Saya sedikit kesal karena dalam komputer itu, banyak file-file pribadi saya. Belum lagi saya mensettingnya ketika komputer nyala langsung menyambung dengan gmail dan ym saya. Itu berarti, orang yang menduduki meja kursi saya bisa membuka file-file saya. Saya tidak suka itu, ketika seseorang membuka privasi saya. orang tua, adik bahkan sahabat saya akan saya marahi apabila mereka berani melanggar privasi saya.
Percakapan 5 menit itu menyadarkan saya bahwa saya capek dengan kondisi ini. Mungkin saya harus mulai menata diri terlebih dahulu, memprioritaskan apa yang menjadi tujuan hidup saya. Mengevaluasi kembali, apakah hal ini yang memang yang paling cocok untuk saya. Mungkin, sudah saatnya saya menciptakan kesempatan-kesempatan yang membuat saya lebih berkembang lagi.
Segera saja, saya membalas sms redaktur. Tak berapa lama ia menelpon saya. Awalnya saya tak mengerti mengapa dan kenapa berita saya tidak jelas. Toh, saya sudah berusaha menulis sebaik mungkin. Ternyata, ada beberapa kesalahan angka dan nama jabatan. Akurasi saya masih banyak yang meleset. Well, bukankah tugas redaktur yang membetulkan tulisan reporternya.
Redaktur saya yang suka dengan detail ini, mulai menanyakan dari A hingga Z. Kemudian, ia mengkaitkannya antara fakta, tulisan dan logika. Memang, saya akui agak sedikit ribet bekerja sama dengan dia. Tapi tak bisa dipungkiri juga, bahwa saya memang banyak belajar dari redaktur saya yang satu ini. Saya banyak belajar bahwa tidak hanya menerima omongan narasumber mentah-mentah melainkan juga harus memastikan apakah omongan tersebut sesuai dengan alur logika. Dan saya juga mulai belajar soal detail. Saya menikmati bekerja sama dengan dia, meskipun kadang telinga ini agak merah menerima penjelasannya yang bertubi-tubi.
"Tulisan kamu akurasinya gak pas, berantakan semua. Dan ini bukan yang pertama, tapi akhir-akhir ini tulisan kamu berbeda," kata dia.
Sayapun hanya diam.
"Kamu kenapa, apa ada masalah? Atau memang sedang capek?" tanya dia.
Saya akui, saya memang ada masalah. Tapi bukan berarti semua orang tahu permasalahan saya. Saya hanya diam tak menjawab pertanyaan itu. Diam sebagai bentuk pengakuan saya bahwa saya memang bersalah.
"Kalau ada masalah, bilang aja. Dulu pas kamu jadi carep ga kaya gini tulisannya. Kenapa setelah jadi reporter malah berantakan?"
Saya masih diam.
"Bukannya apa, tapi akurasimu banyak yang meleset terutama soal angka. Dan ini berkali-kali, aku pikir kamu akan belajar setelah membaca tulisan yang diedit,".
Lima menit kemudian percakapan itu berakhir. Apa yang dikatakan oleh redaktur saya itu memang benar. Saya memang ada masalah pribadi, tapi sejauh ini saya mencoba untuk bersikap profesional. Saya tak pernah berusaha menjadikan masalah pribadi sebagai alasan untuk saya menjadi malas bekerja. Bahkan, saya masih bisa berusaha tertawa dalam keadaan yang tidak baik. Yah, mungkin secara tidak sadar, itu berpengaruh kepada cara menulis saya.
Selain itu juga, saya capek. Saya capek dengan tekanan kebijakan kantor yang baru. Saya capek dengan tuntutan yang saya terima tiap hari. Saya manusia, saya juga memiliki batas. Saya capek ketika harus berpikir secara sendirian, mencoba mencari isu sendiri. Sementara di luar sana, hanya ada yang mengembangkan berita dari rilis ataupun isu dari atasan, jarang ke lapangan justru tidak mendapatkan tekanan, yang ada malah pujian. Saya tidak minta untuk dipuji, tetapi saya hanya minta perlakuan yang adil.
Selama ini saya diam, ketika saya mendapatkan perintah untuk mencari berita untuk mengamankan halaman meskipun saya sudah menyetor beberapa berita. Dan hal itu tetap saya lakukan. Saya diam, meski terdapat beberapa kali berita yang tidak mencantumkan nama saya padahal itu materi berita saya. Bahkan, saya masih diam, ketika saya mendapatkan tugas-tugas ajaib (tugas yang berada di luar job desk saya).
Percakapan selama 5 menit itu, ternyata bisa membuat saya tahu kenapa saya merasa kinerja saya turun. Alasannya cuma satu, saya capek. Saya capek mendapatkan tuntutan terus menerus. "Saya ini manusia bukan malaikat,". Dan saya capek karena saya mendapat protes terus menerus padahal saya sudah berusaha untuk berbuat sebaik mungkin. Protes yang datangnya bisa dari siapa saja. Ketika bos besar minta neraca gas, saya berusaha mendapatkan itu. Dan memang saya mendapatkannya satu hari setelah perintah itu. Tapi tetap saja berita saya diprotes kenapa berita migas terus. Saya capek, ketika semua tindakan yang saya lakukan selalu salah.
Saya juga capek dengan rasa permusuhan dengan beberapa kolega di kantor. Mereka merasa bahwa saya selalu mengambil semua berita yang ada. Yah, BUMN selalu menjadi pos rebutan. semua kompartemen boleh masuk baik nasional, investasi, keuangan dan bisnis. Saya tidak pernah melarang siapapun untuk masuk dalam BUMN. Saya persilahkan kepada mereka semua yang ingin mencari berita di sana.
"Mereka segan ke BUMN karena lo ambil semua beritanya," kata sumber.
"Tapi kan aku gak pernah kaya gitu. Mana pernah aku melarang anak Kontan gak boleh masuk BUMN. Itu cuma alasan mereka aja yang ga mau nongkrong. Selama ini, kan selalu bagi berita," kata saya.
Bahkan, ketika ada acara Pertamina-PGN, saya hanya mengambil Pertamina. Sedangkan PGN, sudah diambil anak kompartemen investasi. Begitupun juga ketika ada acara PGN, Pertamina dan PLN di komisi VI, sayapun memberitahu anak investasi Kontan bahwa ada PGN di sana. Kalau memang saya egois, untuk apa saya memberitahu ada PGN. Begitupun juga dengan ketika ada acara di komisi VII ada ptba, antam, freeport, bhp, saya juga memberitahu mereka. Bahkan ketika ada acara bank di BUMN, saya juga sempat memberitahu mereka yang ada di desk keuangan tapi mereka tidak pernah datang.
Kemudian ketika ada acara breakfast meeting, biasanya 141 direktur utama BUMN pasti hadir karena ada bapak menteri BUMN. Ketika acara itu, bahkan saya hanya mengambil BUMN yang bukan tbk, BUMN yang bukan Keuangan. Lalu sekarang, saya menjadi kambing hitam lantaran mereka tidak pernah ke sana. Saya capek dengan itu semua, saya capek disalahkan terus.
Bahkan, ketika itu ada kejadian, ada berita yang saya transkrip dan saya masukkan milis ke plat merah. Namun, karena saya tahu itu bukan untuk halaman saya, saya tidak mengambil berita tersebut. Dan herannya, besok berita itu keluar oleh salah satu kawan saya di Kontan padahal nama yang tercantum disitu tidak pernah hadir. Saya diam saja, saya tidak melapor.
Namun, ada juga peristiwa ketika itu wawancara dengan menteri BUMN, saya terlambat datang. kemudian kawan saya yang itu datang terlebih dahulu. Dia pulang setelah mengira tidak ada proyeksi berita di sana yang berkaitan dengan halamannya. Kemudian saya hadir dan saya melisting berita soal halaman saya. Di kantor di hadapan beberapa kawan saya dan redaktur dia mengatakan.
"Lo ke mana koq bisa dapat berita itu. Kan tadi gw yang ada disitu?"
"Gw juga ada koq tapi gw telat," kata saya
"Itu pertanyaan gw, kenapa lo yg listing. Gw yang nanya. jadi siapa nih yang kloning. Yang jelas bukan gw karena gw ada di sana,"
"Gw ga kloning, gw ada di situ. Dan lagian gw memang listing berita soal itu tapi litnya bukan itu. Gw baru listing sore, dan yg lo listing itu sama kaya mba *****, dia dapatnya di deperin karena paginya menteri BUMN ke deperin buat ngomongin soal itu,"
Well, dari kejadian itu saya sedikit sakit hati. Saya kira kalau dia marah bisa menyelesaikan secara baik-baik tanpa harus melapor ke redaktur. Saya juga marah dengan dia yang saya pikir mau menjilat redaktur supaya dia tidak salah. Tapi, saya selalu berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan dia. Saya selalu berusaha bahwa dia adalah teman saya satu kantor. Kita adalah satu tim, karena buat saya, untuk apa berkompetisi dengan teman sekantor, melainkan berkompetisi dengan koran yang berbeda. Kita tidak akan pernah menang jika dalam tubuh kantor kita sendiri tidak sehat. Dan sekarang muncul tuduhan-tuduhan seperti itu. saya capek dan lelah, karena ketika saya berusaha untuk berbuat baik, mereka justru menjadikan saya ancaman.
Kalau mau diungkit-ungkit, banyak hal-hal yang saya lakukan untuk mereka. Saya selalu mengalah tetapi ketika mereka mengalah sekali saya untuk saya, mereka menganggap bahwa saya adalah raja untuk mengambil semuanya.
Belum lagi, ketika saya ke kantor saya mendapatkan bahwa kursi meja saya sudah ada yang menempati. Padahal masih banyak ruang kosong yang bisa ditempati. Apalagi anak yang menempati itu adalah sudah memiliki kursi meja sendiri. Saya memang jarang ke kantor tapi bukan berarti orang berhak untuk menempati meja kursi itu. Saya masih pegawai Kontan dan saya berhak disitu. Saya sedikit kesal karena dalam komputer itu, banyak file-file pribadi saya. Belum lagi saya mensettingnya ketika komputer nyala langsung menyambung dengan gmail dan ym saya. Itu berarti, orang yang menduduki meja kursi saya bisa membuka file-file saya. Saya tidak suka itu, ketika seseorang membuka privasi saya. orang tua, adik bahkan sahabat saya akan saya marahi apabila mereka berani melanggar privasi saya.
Percakapan 5 menit itu menyadarkan saya bahwa saya capek dengan kondisi ini. Mungkin saya harus mulai menata diri terlebih dahulu, memprioritaskan apa yang menjadi tujuan hidup saya. Mengevaluasi kembali, apakah hal ini yang memang yang paling cocok untuk saya. Mungkin, sudah saatnya saya menciptakan kesempatan-kesempatan yang membuat saya lebih berkembang lagi.
3.24.2010
kotak hitam
Fiuh, hari ini sungguh tidak bergairah sekali. Saya merasakan apa yang dinamakan dengan titik jenuh. Ingin rasanya keluar dari kotak hitam yang bernama rutinitas. Namun, untuk melepaskan rutinitas itu bukanlah hal yang mudah untuk saya. Karena terbiasa dengan apa yang namanya rutinitas itulah membuat saya ketika tak beraktivitas seperti mati suri. Sebenarnya, saya bingung dengan tujuan apalagi yang ingin saya dapatkan?
Bermula dari tekanan yang bertubi-tubi, kebijakan kantor yang aneh bin ajaib, kehidupan yang hampa, terisolasi dengan apa yang namanya pertemanan, dan selalu berkutat dengan deadline. Awalnya saya sungguh menyukai aktivitas seperti itu, Lalu ketika saya melihat kehidupan lain di luar sana, ada rasa iri. Wah, enak sekali mereka. Dalam pekerjaan, hanya merasakan 20% tekanan, 30% kerja keras dan 50% bersenang-senang.
Saat ini saya seperti berada dalam kotak hitam yang entah apapun caranya saya ingin keluar dari kotak hitam itu. Dalam kotak itu berisi 50% tekanan dan 40% kerja keras sedangkan 10% bersenang-senang. Hari ini ingin saya membeli gergaji untuk memotong-motong kotak hitam itu dan menjadikannya beberapa bagian sehingga saya memiliki jalan keluar untuk terbebas dari kotak hitam itu.
Tapi, kotak hitam itu terbuat dari baja. Satu gergaji tidak akan cukup untuk meluluhlantakkan kontak hitam itu. Saya lelah dan saya capek terjebak di dalam kotak hitam itu hanya penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan. Kotak hitam itu tembus pandang, jika kita melihat ke dalamnya kita bisa melihat ada istana emas dengan makanan lezat, perhiasan, kereta kuda mewah dan lain-lain yang bisa membuat mata silau akan kenyamanannya.
Pada kenyataannya, kotak hitam itu hanya penjara karena saya tidak bisa keluar melihat dunia lain. Saya terkukung dalam istana emas yang terasa nyaman di luar namun di dalamnya hanya berisi tekanan karena saya harus bersikap sempurna seperti seorang putri. Padahal, lewat kotak yang tembus pandang itu saya bisa melihat ke luar. Saya bisa melihat bahwa banyak hal yang bisa saya dapatkan dan saya capai untuk melihat keindahan dunia. Saya ingin berpetualang, menyusuri kotak-kotak lainnya yang tidak hanya berwarna hitam tapi ada merah, kuning, biru, hijau bahkan pink. Saya ingin bebas keluar masuk untuk mengunjungi kotak-kotak itu satu persatu.
Kotak hitam, bagaimana caranya untuk keluar dari cengkramanmu? kenapa kotak hitam selalu membuat saya terkukung dan tidak membuat saya nyaman. Saya tahu masih banyak kotak-kotak lainnya yang mampu menarik hati saya tapi kenapa kotak hitam selalu menjadikan saya milikmu seorang. Saya bosan denganmu kotak hitam.
Bermula dari tekanan yang bertubi-tubi, kebijakan kantor yang aneh bin ajaib, kehidupan yang hampa, terisolasi dengan apa yang namanya pertemanan, dan selalu berkutat dengan deadline. Awalnya saya sungguh menyukai aktivitas seperti itu, Lalu ketika saya melihat kehidupan lain di luar sana, ada rasa iri. Wah, enak sekali mereka. Dalam pekerjaan, hanya merasakan 20% tekanan, 30% kerja keras dan 50% bersenang-senang.
Saat ini saya seperti berada dalam kotak hitam yang entah apapun caranya saya ingin keluar dari kotak hitam itu. Dalam kotak itu berisi 50% tekanan dan 40% kerja keras sedangkan 10% bersenang-senang. Hari ini ingin saya membeli gergaji untuk memotong-motong kotak hitam itu dan menjadikannya beberapa bagian sehingga saya memiliki jalan keluar untuk terbebas dari kotak hitam itu.
Tapi, kotak hitam itu terbuat dari baja. Satu gergaji tidak akan cukup untuk meluluhlantakkan kontak hitam itu. Saya lelah dan saya capek terjebak di dalam kotak hitam itu hanya penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan. Kotak hitam itu tembus pandang, jika kita melihat ke dalamnya kita bisa melihat ada istana emas dengan makanan lezat, perhiasan, kereta kuda mewah dan lain-lain yang bisa membuat mata silau akan kenyamanannya.
Pada kenyataannya, kotak hitam itu hanya penjara karena saya tidak bisa keluar melihat dunia lain. Saya terkukung dalam istana emas yang terasa nyaman di luar namun di dalamnya hanya berisi tekanan karena saya harus bersikap sempurna seperti seorang putri. Padahal, lewat kotak yang tembus pandang itu saya bisa melihat ke luar. Saya bisa melihat bahwa banyak hal yang bisa saya dapatkan dan saya capai untuk melihat keindahan dunia. Saya ingin berpetualang, menyusuri kotak-kotak lainnya yang tidak hanya berwarna hitam tapi ada merah, kuning, biru, hijau bahkan pink. Saya ingin bebas keluar masuk untuk mengunjungi kotak-kotak itu satu persatu.
Kotak hitam, bagaimana caranya untuk keluar dari cengkramanmu? kenapa kotak hitam selalu membuat saya terkukung dan tidak membuat saya nyaman. Saya tahu masih banyak kotak-kotak lainnya yang mampu menarik hati saya tapi kenapa kotak hitam selalu menjadikan saya milikmu seorang. Saya bosan denganmu kotak hitam.
Langganan:
Postingan (Atom)
