"Hei mana laporan listingan kamis malam dong. Sedang nulis ya. Saya tunggu,"
isi pesan singkat itu berhasil menggaggu tidur siang saya. Ini adalah hari minggu, hari di mana saya libur. Berdasarkan jadwal libur yang disusun bulan Maret 2011, saya mendapatkan 3 hari jatah libur di hari Minggu. Damn! itu berarti sama saja, saya tidak mendapatkan libur. Karena, libur hari Minggu mereka beranggapan saya memiliki stok berita Jumat. Itu berarti saya masih bekerja. Lagi-lagi libur yang sudah menjadi hak seorang karyawan harus diperkosa lagi.
Dengan langkah gontai, saya mengambil netbook. Kemudian, memukul-mukul keyboard untuk menyusun kata-kata demi sebuah berita. Seperti robot, saya mengerjakan perintah yang ada di pesan singkat itu. Kalau boleh memilih, saya ingin libur di hari biasa (senin-jumat).
Teringat percakapan saya dengan pengirim sms beberapa waktu lalu.
"Loh mas, itu kan hari libur seharusnya tidak ada berita kan," kata saya.
"Iya tapi kamu harus nyetok berita. Ini sudah sesuai dengan kesepakatan," kata dia.
"Kesepakatan siapa? saya tidak merasa sepakat hari libur harus nyetok berita," tanya saya balik.
"Ini sudah menjadi kebijakan kompartemen," tegas dia.
Setelah dia menutup sambungan telepon itu, mood saya menjadi hilang. Saya marah dan kesal. Dia selalu saja mengganggu libur saya. Bukan kali ini saja dia mengganggu libur saya. Apakah saya tidak boleh libur? Kekesalan saya sudah memuncak, apalagi sebelumnya ketika cuti, mendadak dia membatalkan satu hari jatah cuti saya. Dalam surat pengajuan cuti, saya mengajukan cuti mulai tanggal 7 hingga 13. Tanggal 14 Februari baru masuk. Namun, entah apa yang terjadi di jadwal libur bulan Februari, tanggal 13 Februari saya sudah masuk. Ketika itu saya berdebat dengan dia karena saya protes soal cuti ini.
"Ya sudah saya lihat cuti kamu di hrd," kata dia.
Sayapun mengecek hrd dan disitupun tertera tanggal 14 Februari saya baru masuk.
"Solusinya, kamu bisa tidak masuk ke kantor tanggal 13 Februari itu tetapi kamu harus kirim berita," kata dia.
Saya kesal luar biasa ketika itu. Solusinya sama saja masih bekerja. Tidak masuk kantor tetapi harus setor berita. Buat saya libur adalah libur. Libur adalah hari di mana saya tidak ingin memikirkan berita. Jangankan menulis berita, di hari libur saya mencegah untuk membuka portal berita atau nonton tv yang berbau berita. Yah, saya masih bekerja tetapi di catatan hrd, cuti saya tidak terpangkas satu hari. Sama saja, dia mengkorupsi jatah cuti saya. OMG, saya sudah tidak tahan dengan dia!!
Di rapat kompartemen saya yang terakhir, saya memintanya kepada dia supaya ketika kita libur, jangan lagi ada stok berita. Namun, dia tetap saja menolak usulan saya. Ini tidak adil, Ini baru akan adil ketika redaktur atau asisten redaktur libur juga harus menyetok untuk mengedit berita? tapi apakah itu bisa berlaku di harian? Seharusnya jika reporter nyetok berita, maka redaktur harus nyetok ngedit berita. Aih, kebijakan ini menurut saya hanya untuk mengamankan posisi redaktur. Karena dia selalu bilang: jika salah seorang libur berita bisa kurang. Duh, menurut saya tugas reporter adalah mengamankan berita sedangkan tugas redaktur adalah mengamankan halaman. Saya kemudian teringat kepada salah seorang teman yang mengatakan, "Enaknya jadi redaktur di *****, bisanya hanya listing tanpa ada solusi untuk ide. Kalau berita kurang, tinggal nelpon reporter buat nambah,".
Terogong
06 Maret 2011
Tampilkan postingan dengan label kantor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kantor. Tampilkan semua postingan
3.06.2011
1.15.2011
Titik Nadir
Yes, it's friday. Senangnya sudah hari jumat. ini berarti besok libur. Selama seminggu terakhir, saya sudah sibuk bermalam di RS selama tiga hari, cucian seabrek, harus kerja bakti membersihkan kamar kosan yang sudah berdebu, lemari baju yang harus ditata ulang ditambah dengan setrikaan yang menggunung. Pekerjaan menumpuk di sana sini. Belum lagi dengan adanya deadline tulisan lifestyle yang mendadak. Oh, I hate my life but I'm enjoy it.
Jumat siang ini tak ada agenda. Hanya menunggu janji wawancara dengan salah satu pejabat panas bumi setelah sholat jumat di kantornya. Tulisan life style sudah hampir jadi, hanya tinggal menunggu balasan email dari salah satu dokter di rscm. Eh, tak disangka, di kantor itu ada menteri esdm yang sedang rapat antara DEN dan bappenas. Wah, bisa ditanya soal capping listrik.
Asyik mendengarkan narasumber, tiba-tiba ada email masuk. "Ada conpres di kementrian esdm jam 15.30". Ah, conpres apa lagi ini. Toh, soal TDL dan capping, Menteri ESDM ngomongnya hanya itu mulu. Semakin malas, ketika mengetahui informasi bahwa yang akan mengadakan conpres adalah salah satu staf menteri.
Namun, saya memilih untuk melanjutkan sesi wawancara dengan pejabat panas bumi. Karena ada beberapa data yang ingin saya kejar. Tiba-tiba saja ada sms. Saya juga meninggalkan acara pelantikan direksi djakarta llyold di kantor kementrian BUMN.
15:27
Fen, ada konpres di esdm jam 16.00 soal listrik apa bisa liput?
15:46
maaf mas, kayaknya ga bisa. Skg aku msh janjian ama direktur panas bumi soal ppa pln ama wkp panas bumi. Kasih aja ke anak nasional mas, biasanya kalo tarif listrik kan mereka.
15:49
Ini karena semua anak nasional tidak ada yang bisa sehingga redex minta feni bisa bantu
15:56
tp aku masih ngobrol ama direktur panas bumi mas. Lagian yang conpres juga kardaya, staf menteri bukan menterinya. Yawda ntar deh mas kalo nutut aku ke sana. Soalnya ga enak motong wwcr ama direktur panas bumi. aku udah janjian
15:55
Feni, akhirnya anak nasional bisa.
Oke, beres. berarti saya tetap meneruskan perbincangan dengan direktur panas bumi tersebut. Terus terang saja, saya tertarik dengan persoalan panas bumi ini. Pengembangannya begitu lambat. Padahal kontribusinya cukup dibutuhkan untuk menjaga ketahanan energi. Bahkan Presiden SBY menggunakan daya tarik panas bumi untuk mendongkrak citranya di kancah internasional. Ah, memang presiden yang satu itu, takut sekali jika citranya jelek.
16:13
Feni, yang life style kurang. Harus ada konsumennya. Karena ini rubrik gaya hidup bukan trend atau rubrik kesehatan. Jadi harus ada ceritera dari beberapa wanita yang keranjingan ke spa vagina ini. namanya boleh samaran. kalau angle trend atau kesehatan pernah ditulis.
Duh, mau cari di mana narasumber itu. Tuing-tuing kepala saya pening. Saya memang baru mengerjakan tulisan life style itu hari Kamis. Karena, saya baru tau saya mendapat giliran life style hari selasa. Sedangkan hari Rabu itu, saya sibuk mengurus saudara saya yang sedang tertimpa kecelakaan. Belum lagi mengurus berita harian.
Okey, tanpa banyak mengeluh saya akan ke rumah spa. Tapi ternyata, ketika sampai di sana, rumah spa yang berlokasi di jakarta selatan itu sudah tutup. Maklum sudah jam 5.00 sore. Karena, saya baru kelar wawancara sekitar jam 4.30 sore.
O,iya saya lupa. Saya masih memiliki tanggungan berita capping tdl yang belum saya kerjakan. Akhirnya, saya menepi dan mampir di sebuah rumah makan. Sambil makan (akhirnya!!! karena seharian belum terisi nasi), saya mengerjakan tulisan itu. Butuh kerja keras, pasalnya omongan menteri yang satu itu tidak ngelit sama sekali. Terpaksa harus menghubungi PLN dan narasumber lainnya. Alhamdulillah, narasumber itu baik hati sekali. Mereka mau menjawab meski seadanya.
18:18
Mas, aku kirim soal tdl dari PLN ama menteri esdm. Tadi siang sempat ketemu doorstop jumatan, Siapa tau buat tambahan. Soal spa v, ga nemu konsumennya. Tadi sore aku mampir di wilayah jaksel udah tutup. wwcr ama panas bumi baru kelar jam 4 sorean. thanks
sepi. tak ada balasan. Tumben dia tak membalas. Oh, mungkin dia sedang ngambek karena tidak mendapatkan dari konsumen. Toh, saya sedang sibuk mengejar berita untuk hari senin. Ah, sudahlah. saya sudah capek dan lelah menghadapinya. Berpikir saja positif bahwa dia sedang sibuk.
Saya sudah menuruti semua yang menjadi keinginannya. Disuruh ke sana, saya ke sana. Disuruh ke sini, saya mengikutinya. Bahkan, ketika hari libur yang seharusnya menjadi hak saya, saya disuruh masuk karena kurang orang, saya masih masuk. Ketika halaman masih kurang berita, saya turuti dia mencari berita lain. Padahal waktu itu, saya sudah menyetor jumlah berita yang lumayan.
Bahkan, ketika itu baru pulang dari Cirebon, besok paginya sudah harus ke Cilegon. Rasanya seperti tak ada orang lain saja. Saya sudah berusaha sabar menghadapinya. Tahun lalu, saya sudah menghanguskan tujuh jatah cuti saya karena tak boleh libur olehnya. Alasannya banyak yang cuti dan kurang orang. Duh gusti, harus apa lagi bisa membuat dia puas. Semuanya terasa tak ada yang sempurna di matanya meski sudah ke sana sini. Saya juga tak peduli dengan KPI, penilaian. Pengaruhnya hanya ada kepada bonus. Uang bukan ukuran segalanya buat saya. Saya hanya ingin ketenangan dan kebahagiaan. Saya tak peduli dengan ketidakadilan. Toh, dunia ini memang sudah tidak adil.
Terogong
0:33
15/1/2011
Jumat siang ini tak ada agenda. Hanya menunggu janji wawancara dengan salah satu pejabat panas bumi setelah sholat jumat di kantornya. Tulisan life style sudah hampir jadi, hanya tinggal menunggu balasan email dari salah satu dokter di rscm. Eh, tak disangka, di kantor itu ada menteri esdm yang sedang rapat antara DEN dan bappenas. Wah, bisa ditanya soal capping listrik.
Asyik mendengarkan narasumber, tiba-tiba ada email masuk. "Ada conpres di kementrian esdm jam 15.30". Ah, conpres apa lagi ini. Toh, soal TDL dan capping, Menteri ESDM ngomongnya hanya itu mulu. Semakin malas, ketika mengetahui informasi bahwa yang akan mengadakan conpres adalah salah satu staf menteri.
Namun, saya memilih untuk melanjutkan sesi wawancara dengan pejabat panas bumi. Karena ada beberapa data yang ingin saya kejar. Tiba-tiba saja ada sms. Saya juga meninggalkan acara pelantikan direksi djakarta llyold di kantor kementrian BUMN.
15:27
Fen, ada konpres di esdm jam 16.00 soal listrik apa bisa liput?
15:46
maaf mas, kayaknya ga bisa. Skg aku msh janjian ama direktur panas bumi soal ppa pln ama wkp panas bumi. Kasih aja ke anak nasional mas, biasanya kalo tarif listrik kan mereka.
15:49
Ini karena semua anak nasional tidak ada yang bisa sehingga redex minta feni bisa bantu
15:56
tp aku masih ngobrol ama direktur panas bumi mas. Lagian yang conpres juga kardaya, staf menteri bukan menterinya. Yawda ntar deh mas kalo nutut aku ke sana. Soalnya ga enak motong wwcr ama direktur panas bumi. aku udah janjian
15:55
Feni, akhirnya anak nasional bisa.
Oke, beres. berarti saya tetap meneruskan perbincangan dengan direktur panas bumi tersebut. Terus terang saja, saya tertarik dengan persoalan panas bumi ini. Pengembangannya begitu lambat. Padahal kontribusinya cukup dibutuhkan untuk menjaga ketahanan energi. Bahkan Presiden SBY menggunakan daya tarik panas bumi untuk mendongkrak citranya di kancah internasional. Ah, memang presiden yang satu itu, takut sekali jika citranya jelek.
16:13
Feni, yang life style kurang. Harus ada konsumennya. Karena ini rubrik gaya hidup bukan trend atau rubrik kesehatan. Jadi harus ada ceritera dari beberapa wanita yang keranjingan ke spa vagina ini. namanya boleh samaran. kalau angle trend atau kesehatan pernah ditulis.
Duh, mau cari di mana narasumber itu. Tuing-tuing kepala saya pening. Saya memang baru mengerjakan tulisan life style itu hari Kamis. Karena, saya baru tau saya mendapat giliran life style hari selasa. Sedangkan hari Rabu itu, saya sibuk mengurus saudara saya yang sedang tertimpa kecelakaan. Belum lagi mengurus berita harian.
Okey, tanpa banyak mengeluh saya akan ke rumah spa. Tapi ternyata, ketika sampai di sana, rumah spa yang berlokasi di jakarta selatan itu sudah tutup. Maklum sudah jam 5.00 sore. Karena, saya baru kelar wawancara sekitar jam 4.30 sore.
O,iya saya lupa. Saya masih memiliki tanggungan berita capping tdl yang belum saya kerjakan. Akhirnya, saya menepi dan mampir di sebuah rumah makan. Sambil makan (akhirnya!!! karena seharian belum terisi nasi), saya mengerjakan tulisan itu. Butuh kerja keras, pasalnya omongan menteri yang satu itu tidak ngelit sama sekali. Terpaksa harus menghubungi PLN dan narasumber lainnya. Alhamdulillah, narasumber itu baik hati sekali. Mereka mau menjawab meski seadanya.
18:18
Mas, aku kirim soal tdl dari PLN ama menteri esdm. Tadi siang sempat ketemu doorstop jumatan, Siapa tau buat tambahan. Soal spa v, ga nemu konsumennya. Tadi sore aku mampir di wilayah jaksel udah tutup. wwcr ama panas bumi baru kelar jam 4 sorean. thanks
sepi. tak ada balasan. Tumben dia tak membalas. Oh, mungkin dia sedang ngambek karena tidak mendapatkan dari konsumen. Toh, saya sedang sibuk mengejar berita untuk hari senin. Ah, sudahlah. saya sudah capek dan lelah menghadapinya. Berpikir saja positif bahwa dia sedang sibuk.
Saya sudah menuruti semua yang menjadi keinginannya. Disuruh ke sana, saya ke sana. Disuruh ke sini, saya mengikutinya. Bahkan, ketika hari libur yang seharusnya menjadi hak saya, saya disuruh masuk karena kurang orang, saya masih masuk. Ketika halaman masih kurang berita, saya turuti dia mencari berita lain. Padahal waktu itu, saya sudah menyetor jumlah berita yang lumayan.
Bahkan, ketika itu baru pulang dari Cirebon, besok paginya sudah harus ke Cilegon. Rasanya seperti tak ada orang lain saja. Saya sudah berusaha sabar menghadapinya. Tahun lalu, saya sudah menghanguskan tujuh jatah cuti saya karena tak boleh libur olehnya. Alasannya banyak yang cuti dan kurang orang. Duh gusti, harus apa lagi bisa membuat dia puas. Semuanya terasa tak ada yang sempurna di matanya meski sudah ke sana sini. Saya juga tak peduli dengan KPI, penilaian. Pengaruhnya hanya ada kepada bonus. Uang bukan ukuran segalanya buat saya. Saya hanya ingin ketenangan dan kebahagiaan. Saya tak peduli dengan ketidakadilan. Toh, dunia ini memang sudah tidak adil.
Terogong
0:33
15/1/2011
11.10.2010
Itu Kursiku!!
Rabu (10/11) saya sungguh kesal sekali. Hari itu cuaca panas, Obama datang membuat jalanan macet, demo di bundaran HI semakin memperparah macetnya jalanan, kurang tidur (karena sedang menunggu kabar dari adik saya yang terjebak banjir bandang di Semarang) dan saya terserang flu. Tadinya memutuskan tidak akan masuk, namun dua pasukan desk bisnis juga tumbang membuat saya berpikir ulang. Toh, saya masih kuat untuk berdiri dan berjalan.
Setelah liputan di acara media gathering salah satu perusahaan plat merah, saya meluncur ke kantor. Kondisi badan yang tidak mendukung membuat saya pergi ke kantor karena sedang tidak ingin kemana-mana. Sampai di kantor, saya mendapatkan perhatian dari beberapa atasan, kolega kantor soal kondisi adik saya. Maklum, malam sebelumnya saya panik karena adik saya terjebak banjir bandang dan tidak bisa ditelp. Bercerita dengan mereka, cukup membuat saya terharu sekecil apapun perhatiannya. Karena, saya sangat mencintai dan menyayangi keluarga saya.
Namun, rasa senang itu hanya sebentar karena saya melihat seseorang telah menduduki kursi dan meja saya. Orang itu sebut saja dengan X. Mr. X ini sudah coba saya peringatkan bahwa itu kursi meja saya. Bahkan, salah seorang atasan saya juga pernah menegur dia. Kemudian, teman sebelah saya juga sudah memperingatkan. Tetapi seperti "Kanebo Kering" yang harus dibasahi terlebih dahulu baru basah. Saya tidak tahu apakah dia berpura-pura tidak tahu atau memang bandel. Yang jelas, hari itu saya sangat kesal sekali. Meski kesal, saya mencoba untuk berpikir positif.
Rasa kesal itu ditambah dengan ketika saya harus pindah. Oh, my God, saya terusir di meja kursi saya sendiri. What a damn shit!!! Memang, saya tidak mencoba untuk menegurnya tetapi, saya berpikir dia seharusnya tahu diri. Karena dia sudah diberitahu berkali-kali. Lain halnya jika dia sama sekali tidak diberitahu. Saya diam, karena saya tidak ingin membuat dia malu dengan mengusirnya. Jangankan mengalah, meminta ijin untuk menempati meja saya tidak pernah sekalipun terucap di mulutnya. Dimana letak sopan santunmu?
Teman sebelah meja saya, mengatakan," Dia sudah pernah tak kasih tau jangan duduk situ kalo Feni datang gimana," kata dia.
Jawaban dari Mr. X itu sontak membuat saya emosi. "Trus dia bilang, mbak Feni kan gak pernah ke kantor," tambah teman yang duduk di sebelah meja saya.
Ingin saya bilang kepada dia: "Hei lo itu anak baru. Anak baru mestinya turun lapangan dan nyari berita dan ga ngendon sendirian di belakang meja kaya orang kantoran. Kalo lo takut panas, jangan jadi wartawan!!"
Jelas saja saya tidak pernah di kantor, karena saya benar2 mencari berita. Menggali isu, bertemu dengan narasumber. Telepon boleh saja dilakukan, tetapi dalam kondisi tertentu. Bukan juga saya iri, karena saya dulu sebagai calon reporter banting setir ke sana ke sini. Liputan hingga Deptan, Ragunan dan kembali ke kantor saya tak pernah keberatan. Karena itu memang tugas saya dan saya bersyukur, redaktur-redaktur saya dahulu memberi tugas itu kepada saya. Sementara dia, dia enak2an di kantor dan selalu sms minta nomor ini dan minta nomor itu. Saya ingat, pertama kali dia mensms saya: "Mbak, aku minta semua nomor sumber migas, perusahaan migas dan tambang jadi kalau ada yang mau di fu lebih gampang. Kata mas M, aku suruh melengkapi beritamu," kata dia.
Setidaknya, dia bisa meminta dengan sopan. Semua nomor narasumber. Oh, Holly shit. Satu yang terlintas dalam benak saya: Enak saja! saya mencari nomor-nomor itu setengah mati berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sehari. Berpanas ria, belum ketambahan diusir satpam karena takut diminta sumbangan, dan lain sebagainya. Dan kamu, sebagai anak baru cuma sebagai pelengkap berita dan menelpon. Kalau di awal sudah minta enak, gimana ke belakangnya. Saya tak pernah pelit untuk memberi nomor kontak, tapi sms dia membuat saya kesal. Emang dia siapa, sms seperti itu kepada saya? atasan saya juga bukan.
Kembali ke masalah kursi, kenapa saya ingin duduk di situ bukan karena saya arogan untuk membuktikan saya lebih senior. Bukan itu, karena kursi meja itu adalah rumah saya. Lantas, kenapa ketika saya jarang ke kantor, langsung dia tidak menganggap saya ada. Apakah saya siluman, alien atau jin yang tidak ada bekasnya. Saya memang jarang ke kantor tapi karena saya bekerja di sana, suatu saat nanti pasti saya kembali ke kantor itu. Saya tidak keberatan, jika dia mau duduk di kursi saya, tetapi jika itu tidak ada saya. Selama saya ada, carilah tempat duduk yang lain. Dan saya heran, hanya dia yang sulit untuk diberitahu. Lagipula mencari rumah sendiri kan lebih enak.
Memang, saya bisa duduk di mana saja. Karena pada Rabu itu karena investor summit, banyak yang tidak ke kantor. Tetapi aneh rasanya ketika menduduki kursi meja orang lain. Karena, memang itu bukan tempat saya. Apa yang saya alami seolah-olah, saya memiliki rumah namun saya tidak bisa menempati rumah itu sehingga saya harus pergi karena ada orang lain yang bukan pemilik rumah memaksa masuk dan tinggal di rumah itu. Sedangkan, si pemilik rumah harus mencari-cari rumah yang lain.
Lalu, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya mengusirnya secara terang-terangan ataukah saya harus menuliskan: Don't sit here except Feni. Ataukah, saya harus diam saja dan membiarkan dia merajalela. Sudah cukup saya mengalah. Lagi-lagi kata itu yang muncul "mengalah".
Fatmawati
10/11/2010
23.45
Setelah liputan di acara media gathering salah satu perusahaan plat merah, saya meluncur ke kantor. Kondisi badan yang tidak mendukung membuat saya pergi ke kantor karena sedang tidak ingin kemana-mana. Sampai di kantor, saya mendapatkan perhatian dari beberapa atasan, kolega kantor soal kondisi adik saya. Maklum, malam sebelumnya saya panik karena adik saya terjebak banjir bandang dan tidak bisa ditelp. Bercerita dengan mereka, cukup membuat saya terharu sekecil apapun perhatiannya. Karena, saya sangat mencintai dan menyayangi keluarga saya.
Namun, rasa senang itu hanya sebentar karena saya melihat seseorang telah menduduki kursi dan meja saya. Orang itu sebut saja dengan X. Mr. X ini sudah coba saya peringatkan bahwa itu kursi meja saya. Bahkan, salah seorang atasan saya juga pernah menegur dia. Kemudian, teman sebelah saya juga sudah memperingatkan. Tetapi seperti "Kanebo Kering" yang harus dibasahi terlebih dahulu baru basah. Saya tidak tahu apakah dia berpura-pura tidak tahu atau memang bandel. Yang jelas, hari itu saya sangat kesal sekali. Meski kesal, saya mencoba untuk berpikir positif.
Rasa kesal itu ditambah dengan ketika saya harus pindah. Oh, my God, saya terusir di meja kursi saya sendiri. What a damn shit!!! Memang, saya tidak mencoba untuk menegurnya tetapi, saya berpikir dia seharusnya tahu diri. Karena dia sudah diberitahu berkali-kali. Lain halnya jika dia sama sekali tidak diberitahu. Saya diam, karena saya tidak ingin membuat dia malu dengan mengusirnya. Jangankan mengalah, meminta ijin untuk menempati meja saya tidak pernah sekalipun terucap di mulutnya. Dimana letak sopan santunmu?
Teman sebelah meja saya, mengatakan," Dia sudah pernah tak kasih tau jangan duduk situ kalo Feni datang gimana," kata dia.
Jawaban dari Mr. X itu sontak membuat saya emosi. "Trus dia bilang, mbak Feni kan gak pernah ke kantor," tambah teman yang duduk di sebelah meja saya.
Ingin saya bilang kepada dia: "Hei lo itu anak baru. Anak baru mestinya turun lapangan dan nyari berita dan ga ngendon sendirian di belakang meja kaya orang kantoran. Kalo lo takut panas, jangan jadi wartawan!!"
Jelas saja saya tidak pernah di kantor, karena saya benar2 mencari berita. Menggali isu, bertemu dengan narasumber. Telepon boleh saja dilakukan, tetapi dalam kondisi tertentu. Bukan juga saya iri, karena saya dulu sebagai calon reporter banting setir ke sana ke sini. Liputan hingga Deptan, Ragunan dan kembali ke kantor saya tak pernah keberatan. Karena itu memang tugas saya dan saya bersyukur, redaktur-redaktur saya dahulu memberi tugas itu kepada saya. Sementara dia, dia enak2an di kantor dan selalu sms minta nomor ini dan minta nomor itu. Saya ingat, pertama kali dia mensms saya: "Mbak, aku minta semua nomor sumber migas, perusahaan migas dan tambang jadi kalau ada yang mau di fu lebih gampang. Kata mas M, aku suruh melengkapi beritamu," kata dia.
Setidaknya, dia bisa meminta dengan sopan. Semua nomor narasumber. Oh, Holly shit. Satu yang terlintas dalam benak saya: Enak saja! saya mencari nomor-nomor itu setengah mati berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sehari. Berpanas ria, belum ketambahan diusir satpam karena takut diminta sumbangan, dan lain sebagainya. Dan kamu, sebagai anak baru cuma sebagai pelengkap berita dan menelpon. Kalau di awal sudah minta enak, gimana ke belakangnya. Saya tak pernah pelit untuk memberi nomor kontak, tapi sms dia membuat saya kesal. Emang dia siapa, sms seperti itu kepada saya? atasan saya juga bukan.
Kembali ke masalah kursi, kenapa saya ingin duduk di situ bukan karena saya arogan untuk membuktikan saya lebih senior. Bukan itu, karena kursi meja itu adalah rumah saya. Lantas, kenapa ketika saya jarang ke kantor, langsung dia tidak menganggap saya ada. Apakah saya siluman, alien atau jin yang tidak ada bekasnya. Saya memang jarang ke kantor tapi karena saya bekerja di sana, suatu saat nanti pasti saya kembali ke kantor itu. Saya tidak keberatan, jika dia mau duduk di kursi saya, tetapi jika itu tidak ada saya. Selama saya ada, carilah tempat duduk yang lain. Dan saya heran, hanya dia yang sulit untuk diberitahu. Lagipula mencari rumah sendiri kan lebih enak.
Memang, saya bisa duduk di mana saja. Karena pada Rabu itu karena investor summit, banyak yang tidak ke kantor. Tetapi aneh rasanya ketika menduduki kursi meja orang lain. Karena, memang itu bukan tempat saya. Apa yang saya alami seolah-olah, saya memiliki rumah namun saya tidak bisa menempati rumah itu sehingga saya harus pergi karena ada orang lain yang bukan pemilik rumah memaksa masuk dan tinggal di rumah itu. Sedangkan, si pemilik rumah harus mencari-cari rumah yang lain.
Lalu, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya mengusirnya secara terang-terangan ataukah saya harus menuliskan: Don't sit here except Feni. Ataukah, saya harus diam saja dan membiarkan dia merajalela. Sudah cukup saya mengalah. Lagi-lagi kata itu yang muncul "mengalah".
Fatmawati
10/11/2010
23.45
11.04.2010
Itu adalah rumahku
Aku tak pernah membayangkan akan ada badai besar yang akan menghantam rumahku. Kali ini, badai itu tidak hanya merusak bangunan rumah, tetapi badai itu juga telah membuat penghuni rumah pergi satu persatu. Tapi, aku tak pernah menyalahkan badai itu. Karena memang, rumahku itu dari awal sudah rapuh.
Seandainya saja, rumahku itu kokoh, sedahsyat apapun badai itu, rumahku pasti bisa bertahan. Tapi, itu semua adalah pilihan setiap penghuni rumah, apakah memutuskan untuk bertahan dalam badai atau keluar dalam badai demi sebuah kenyamanan. Setiap pilihan dan keputusan itulah yang harus aku hormati.
Aku memang mempertanyakan, kenapa mereka pergi? tetapi aku tidak menyalahkan mereka pergi. Aku juga tidak membenarkan mereka pergi. Karena memang tidak ada benar dan salah. Alasan mereka pergi, adalah hal yang harus segera diperbaiki untuk membuat rumahku kokoh lagi.
Meski banyak orang yang meninggalkan rumahku, aku yakin rumah itu akan berdiri tegak lagi. Karena, rumah yang dibangun bertahun-tahun dengan keringat dan kerja keras, tak mungkin dibiarkan ambruk begitu saja. Aku yakin, masih ada cara untuk memperbaiki rumah itu.
Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena rumah itu yang bersedia untuk menampungku ketika aku terlantar. Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena aku percaya masih bisa diperbaiki. Walaupun, ada rumah baru yang tersedia untukku, tapi aku merasa masih bisa bertahan. Semoga, pertahananku di rumahku itu tidak akan sia-sia.
Medan Merdeka Selatan
04 November 2010
18.15 WIB
Sedih dan miris melihat status FB teman-teman
**pilihan adalah pilihan yang harus dihormati**
Seandainya saja, rumahku itu kokoh, sedahsyat apapun badai itu, rumahku pasti bisa bertahan. Tapi, itu semua adalah pilihan setiap penghuni rumah, apakah memutuskan untuk bertahan dalam badai atau keluar dalam badai demi sebuah kenyamanan. Setiap pilihan dan keputusan itulah yang harus aku hormati.
Aku memang mempertanyakan, kenapa mereka pergi? tetapi aku tidak menyalahkan mereka pergi. Aku juga tidak membenarkan mereka pergi. Karena memang tidak ada benar dan salah. Alasan mereka pergi, adalah hal yang harus segera diperbaiki untuk membuat rumahku kokoh lagi.
Meski banyak orang yang meninggalkan rumahku, aku yakin rumah itu akan berdiri tegak lagi. Karena, rumah yang dibangun bertahun-tahun dengan keringat dan kerja keras, tak mungkin dibiarkan ambruk begitu saja. Aku yakin, masih ada cara untuk memperbaiki rumah itu.
Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena rumah itu yang bersedia untuk menampungku ketika aku terlantar. Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena aku percaya masih bisa diperbaiki. Walaupun, ada rumah baru yang tersedia untukku, tapi aku merasa masih bisa bertahan. Semoga, pertahananku di rumahku itu tidak akan sia-sia.
Medan Merdeka Selatan
04 November 2010
18.15 WIB
Sedih dan miris melihat status FB teman-teman
**pilihan adalah pilihan yang harus dihormati**
Langganan:
Postingan (Atom)