Empat jam sebelum pertandingan final piala AFF antara Indonesia dan Malaysia, pria berusia 57 tahun memasuki lobi gedung kementrian BUMN. Para kuli tinta yang asyik menulis dan berkutat dengan deadline di presrum tidak menyadari kedatangan pria yang akrab disebut dengan panggilan babe. Namun, salah seorang berteriak, "eh, itu ada pak Sofyan Djalil". Kemudian dengan sekejap para kuli tinta itu melupakan berita, melupakan ada deadline yang harus dikejar sebelum pertandingan sepak bola dimulai. Semua meletakkan notebook, berlari ke luar persrum dan menuju lobi gedung.
Ternyata, Beliau masih mengingat kami. Dengan senyuman dan keramahannya, beliau menyalami kami. Meski sudah tidak lagi menjadi menteri, Sofyan Djalil masih tidak berubah. Seperti dulu, selalu tersenyum, bersedia berjabat tangan, dan menanyakan kabar.
"Wah, kalian masih di BUMN ya," kata pria kelahiran Aceh ini.
Saya memang berdecak kagum dengan sosok Sofyan Djalil. Kesederhanaan, Ketegasan dan Keramahannya merupakan ciri khasnya. Ketika mengikuti beliau selama menjadi Menteri BUMN, saya sangat mengidolakannya dibandingkan dengan pejabat-pejabat yang lain. Terakhir kali saya bertemu dengan dia, ketika pelantikan menteri BUMN yang baru. Dalam suasana haru, kami penghuni presrum plat merah melepas kepergian beliau. Bahkan, ada salah satu teman penghuni presrum plat merah demi menghadiri pelantikan beliau, dia datang. Padahal ketika hari itu, teman kami sedang bertugas di tempat lain. Dia mampir sebentar ke gedung Kementrian BUMN, sebelum pergi ke tempat liputannya.
Beliau sederhana dalam menjawab dan bertutur kata. Beliau juga tegas dalam menyampaikan informasi, mana yang boleh dipublikasikan dan mana yang tidak boleh dipublikasikan. Ketika informasi itu masih rahasia, beliau pasti akan mengatakan tidak mau menjawab. Namun, ketika beliau tidak tahu, beliau pasti bilang tidak tahu. Beliau tidak pernah kucing-kucingan dengan kami yang berprofesi sebagai kuli tinta.
Satu ciri yang selalu melekat adalah keramahan. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Periode 2004-2007) dengan sabar dan ramah meladeni pertanyaan demi pertanyaan. Tak pernah ada intonasi keras yang keluar darinya.
Saya sempat berinteraksi dengan beliau. Meski cuma sebentar, hanya beberapa bulan. Namun, pak Sofyan sudah memberikan kesan yang mendalam untuk saya. Dia akan selalu menjadi salah satu pejabat favorit saya. Apalagi, dia juga termasuk orang yang bersih. Meski dia maju ke kursi menteri karena dekat dengan JK. Namun, yang saya dengar, dia tidak suka berpolitik. Selama masa kepemimpinannya di BUMN, beliau telah mencapai banyak hal yang menguntungkan plat merah. Tak sekalipun, saya mendengar sentimen negatif tentang beliau. Bahkan, dia berani memecat sekretarisnya ketika sekretaris tersebut ketahuan mendapat hadiah mobil dari salah satu perusahaan plat merah.
Ketika membaca biografinya, saya semakin kagum dengan beliau. Dari kecil, beliau sudah bekerja keras. Beliau tidak pasrah terhadap nasibnya. Ayahnya hanyalah seorang tukang cukur dan ibunya guru ngaji. Sedari kecil, beliau sudah mencari uang dengan menjual telur itik. Sebelum sukses seperti sekarang, Beliau pernah menjadi penjaga masjid dan kondektur metromini. Ia bisa kuliah di Universitas Indonesia karena memperoleh beasiswa. Kemudian melanjutkan studi ke Amerika.
Jalan hidup pak Sofyan seperti metamorfosis kupu-kupu. Ulat berubah menjadi kepompong kemudian kupu-kupu. Pelajaran yang saya ambil dari biografi beliau adalah berani bermimpi dan jangan pernah menyerah dengan kondisi. Menyerah hanya kata untuk mereka yang tidak berani menghadapi kenyataan.
Ketika, Presiden SBY memutuskan untuk mengganti beliau, saya dengan teman-teman penghuni presrum merasa sedih. Beliau bukan hanya sebagai menteri untuk kami. Beliau adalah seseorang yang kebapakan. Ketika kami mengikuti beliau rapat dengan DPR hingga pagi buta, beliau masih sempat bertanya, "Kalian sudah makan? Pasti capek ya mengikuti saya seharian,". Meski Pak Sofyan juga kelelahan, tetapi beliau meluangkan waktunya untuk berkenan kami wawancara. Padahal, kami sudah optimis, beliau akan naik lagi menjadi menteri BUMN. Bukan karena rasa simpati kami. Tetapi, karena beliau adalah orang cerdas yang dapat memperbaiki kondisi perusahaan plat merah yang sedang sakit.
Namun, sebelum pergantiannya, terdapat kabar tidak sedap bahwa Sofyan Djalil adalah salah satu menteri yang menjauh dari JK. Ketika tudingan itu digelontorkan, beliau kecewa namun tetap menjawab tudingan itu dengan sabar. Dalam beberapa kunjungan Wapres JK, Sofyan Djalil memang tidak hadir karena memang sedang mengurus sekolah anak ke Amerika. Saya percaya, Sofyan Djalil bukanlah orang bertipe kacang yang lupa kulitnya. Bukan pula orang yang gila jabatan.
Kemudian ketika terjadi gempa dengan kekuatan 7,3 SR berpusat di laut sekitar 140 km dari Tasikmalaya, mengguncang pulau Jawa, termasuk Gedung BUMN. Semua, pegawai BUMN berhamburan ke luar gedung. Tetapi Sofyan Djalil dan pengawalnya tidak terlihat ikut berhamburan, dia bertahan di ruang kerjanya. Lalu, berselang beberapa menit, dia dan pengawalnya melambaikan tangan dari jendela kantornya dan tak lupa senyumnya.
Medan Merdeka Selatan
Presroom Gedung Kementrian plat merah
18.22 WIB
12.29.2010
Reuni dengan mantan pejabat
12.28.2010
Luv my 2010
Tahun 2010 sebentar lagi usai. Tinggal dua hari lagi sebelum memasuki tahun 2011. Namun, belum juga menyusun rencana-rencana di tahun depan. Seperti biasa, saya memiliki target tetapi belum memiliki rencana strategi menghadapi 2011. Go with the flow...
Sepanjang tahun ini merupakan tahun pembelajaran untuk saya. Tahun 2010 merupakan tahun buat saya untuk berjuang dalam menghadapi segala sesuatu meski itu sulit. Sehingga akhirnya saya bisa keluar dari kesulitan itu sendiri. Meski bukan tahun yang sempurna, tapi tahun 2010 ini membuat saya untuk selalu bersyukur dan bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan untuk saya.
Mengenang kembali di tahun 2010 ini, Tuhan tidak memberikan apa yang selalu saya minta. Namun, Tuhan memberikan semua apa yang menjadi kebutuhan saya. Tuhan tidak secara langsung memberikan apa yang selalu saya minta. Namun, Tuhan memberikan jalan supaya saya dapat meraih permintaan saya tersebut.
Ketika saya meminta untuk diberikan kesabaran, Tuhan tidak langsung memberikan saya kesabaran. Tuhan memberikan saya berbagai cobaan, musibah, konflik yang membuat saya lebih bersabar lagi.
Ketika saya meminta kebahagiaan, Tuhan memberikan saya sahabat-sahabat baru yang memberikan banyak warna dan tawa dalam kehidupan saya. Tuhan juga mempertemukan saya dengan sahabat lama yang sudah tujuh tahun lamanya tidak berjumpa. Ketika menemukan dia, seperti keajaiban. Sebab, saya menyangka, sejak kehilangan dia, tak akan pernah menemukannya kembali.
Ketika saya meminta keutuhan keluarga, Tuhan memberikan saya sebuah cobaan yang mampu membuat keluarga saya untuk lebih dekat lagi, lebih saling percaya, lebih saling menguatkan. Terima kasih karena Tuhan telah menjaga keluarga saya.
Ketika saya meminta keberanian untuk bangkit dari Trauma, Tuhan selalu membuat saya jatuh berkali-kali. Seolah-olah Tuhan mempermainkan saya dengan jarinya. Seperti belajar bersepeda, saya berusaha untuk berdiri ketika jatuh dari sepeda walaupun terdapat luka di sekujur tubuh saya. Hingga akhirnya, saya memiliki keberanian untuk bersepeda hingga akhirnya dari awalnya belajar menjadi mahir.
Ketika saya meminta kesehatan, Tuhan bahkan memberi saya sakit. Awal Ramadhan lalu, saya sempat menjalani perawatan di RS selama beberapa hari. Namun, saya kemudian mengerti, Tuhan memberikan saya sakit supaya saya belajar untuk menjaga tubuh. Maklum, saya seringkali menghiraukan alarm tubuh. Ketika tubuh meminta untuk istirahat, saya justru masih bekerja. Dengan pelajaran yang saya peroleh, ke depannya saya lebih berhati-hati dengan kesehatan tubuh.
Cara Tuhan memang unik untuk saya. Dia selalu saja berbuat baik untuk saya meski saya belum berbuat seperti umat yang baik.
Sepanjang tahun ini merupakan tahun pembelajaran untuk saya. Tahun 2010 merupakan tahun buat saya untuk berjuang dalam menghadapi segala sesuatu meski itu sulit. Sehingga akhirnya saya bisa keluar dari kesulitan itu sendiri. Meski bukan tahun yang sempurna, tapi tahun 2010 ini membuat saya untuk selalu bersyukur dan bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan untuk saya.
Mengenang kembali di tahun 2010 ini, Tuhan tidak memberikan apa yang selalu saya minta. Namun, Tuhan memberikan semua apa yang menjadi kebutuhan saya. Tuhan tidak secara langsung memberikan apa yang selalu saya minta. Namun, Tuhan memberikan jalan supaya saya dapat meraih permintaan saya tersebut.
Ketika saya meminta untuk diberikan kesabaran, Tuhan tidak langsung memberikan saya kesabaran. Tuhan memberikan saya berbagai cobaan, musibah, konflik yang membuat saya lebih bersabar lagi.
Ketika saya meminta kebahagiaan, Tuhan memberikan saya sahabat-sahabat baru yang memberikan banyak warna dan tawa dalam kehidupan saya. Tuhan juga mempertemukan saya dengan sahabat lama yang sudah tujuh tahun lamanya tidak berjumpa. Ketika menemukan dia, seperti keajaiban. Sebab, saya menyangka, sejak kehilangan dia, tak akan pernah menemukannya kembali.
Ketika saya meminta keutuhan keluarga, Tuhan memberikan saya sebuah cobaan yang mampu membuat keluarga saya untuk lebih dekat lagi, lebih saling percaya, lebih saling menguatkan. Terima kasih karena Tuhan telah menjaga keluarga saya.
Ketika saya meminta keberanian untuk bangkit dari Trauma, Tuhan selalu membuat saya jatuh berkali-kali. Seolah-olah Tuhan mempermainkan saya dengan jarinya. Seperti belajar bersepeda, saya berusaha untuk berdiri ketika jatuh dari sepeda walaupun terdapat luka di sekujur tubuh saya. Hingga akhirnya, saya memiliki keberanian untuk bersepeda hingga akhirnya dari awalnya belajar menjadi mahir.
Ketika saya meminta kesehatan, Tuhan bahkan memberi saya sakit. Awal Ramadhan lalu, saya sempat menjalani perawatan di RS selama beberapa hari. Namun, saya kemudian mengerti, Tuhan memberikan saya sakit supaya saya belajar untuk menjaga tubuh. Maklum, saya seringkali menghiraukan alarm tubuh. Ketika tubuh meminta untuk istirahat, saya justru masih bekerja. Dengan pelajaran yang saya peroleh, ke depannya saya lebih berhati-hati dengan kesehatan tubuh.
Cara Tuhan memang unik untuk saya. Dia selalu saja berbuat baik untuk saya meski saya belum berbuat seperti umat yang baik.
12.02.2010
Demi rating dan oplah, profesionalisme dipinggirkan
Ketika Wartawan Berlagak Pialang, salah satu judul berita di Majalah Tempo yang terbit tanggal 29 Nopember 2010. Kisruh Initial Public Offering (IPO) perusahaan baja plat merah, PT Krakatau Steel (KS) berujung kepada pemberitaan soal pemerasan wartawan kepada manajemen KS. Bahkan beberapa hari ini terakhir, nama empat orang wartawan yang saat ini sedang tenar namanya k
arena ikut-ikutan membeli saham KS ramai diberitakan. Salah satu media, Tempo yang sering mengungkap kasus ini, menurut saya terkesan terlalu berlebihan. Mulai dari segi pemberitaan hingga kepada penulisan. Sayang sekali, ketika media yang pernah meraih penghargaan terbaik dalam segi penulisan, ketika menulis soal pemerasan tersebut seperti koran lampu merah.
Proses IPO KS memang cukup alot, nuansa politis tidak mampu terhindarkan lagi. Awal mulanya ketika harga KS ditetapkan dengan harga yang terbilang murah sekitar Rp 850 per lembar saham. Padahal, banyak kalangan menilai, harga saham KS sepantasnya berada di level di atas Rp 1.000 per lembar sahamnya. Banyak wartawan berusaha menulis soal harga KS yang kemurahan itu. Ulasan-ulasan negatif soal IPO KS tidak berhenti ketika sebelum IPO hingga sesudah IPO berlangsung.
Maklum, ketika privatisasi BUMN selalu saja melibatkan unsur politis karena ada anggota dewan pemeras ribuan (a.k.a dpr) orang yang terlibat di dalamnya. Saya tak menuduh, tapi gosip yang beredar para anggota dewan pemeras ribuan orang ini ikut-ikutan meminta jatah. Karena harga yang murah itu, tentu saja makin menarik minat masyarakat untuk memperoleh gain yang tinggi khususnya investor. Banyak orang berburu saham perusahaan baja plat merah ini. Mulai dari institusi hingga masyarakat ritel. Bahkan, salah seorang gubernur juga ikut-ikutan meminta jatah saham kepada Menteri BUMN. Tak tanggung-tanggung, gubernur tersebut meminta jatah saham yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.
Isu panas mulai bergulir, ketika salah satu anggota partai membeberkan fakta-fakta soal harga KS tersebut. Sejak itupula, pemberitaan KS tak ada satupun yang positif. Semuanya n egatif. Pembeberan fakta itu, kabarnya juga karena tidak semua partai politik kebagian jatah yang sama untuk IPO KS. Hanya dua partai politik yang mendapat jatah paling besar di IPO KS tersebut. Entah, bagaimana kebenaran isu ini. Namun, ini adalah kabar angin yang berhembus di sana sini, dari mulut ke mulut. Kebenaran yang tadinya off the record ini, tak mampu masuk ke pojok berita hanya menjadi buah bibir pembicaraan di kalangan wartawan secara terbatas.
Puncaknya, ketika Tempo menulis soal pemerasan empat orang wartawan yang berasal dari media ternama terhadap manajemen KS. Empat orang wartawan ini mewakili 30 wartawan lainnya, meminta jatah saham kepada KS dan meminta uang sebesar Rp 400 juta supaya pemberitaan soal KS ini berhenti. Seperti bom meledak, pemberitaan itu membuat saya kaget setengah mati. Jatuh sudah kredibilitas saya sebagai wartawan. Meski, saya tak terlibat tapi orang akan menilai profesi wartawan sebagai tukang peras.
Saya tak membela keempat wartawan itu. Memang, harus diakui empat wartawan itu salah. Karena bermain saham hanya akan membawa conflict of interest. Investor di Indonesia masih sensitif terhadap berita, sehingga bisa saja wartawan membuat berita untuk keuntungannya pribadi yakni demi naik turunnya saham. Kasus empat wartawan itu memang perlu ditelusuri lebih jauh, tanpa harus membuatnya semakin besar. Tapi Tempo lupa menelusuri jejak siapa dan apa sebenarnya di balik IPO KS.
Isu tentang empat wartawan itu hanyalah tumbal untuk menutupi isu sebenarnya yakni kenapa harga KS bisa semurah itu? siapa yang menikmati harga KS itu dan siapa yang menetapkan harga KS? Isu inilah yang belum terkuak, siapa dalang di balik ini dan berapa besar kerugian negara dengan murahnya harga IPO KS ini? Saya jadi ingin tahu apakah Tempo bisa mengungkap soal penjatahan saham ini tidak hanya soal pemerasan wartawan? bisakah Tempo mengetahui ke mana sebenarnya jalan cerita akan dibawa?
Kegegeran ini tak hanya terjadi di Dewan Pers, di lapangan tempat saya meliput, topik ini juga menjadi perbincangan hangat di kami kalangan wartawan. Karena saya dan teman-teman bertugas di plat merah. Saya sungguh menyesalkan sikap Tempo yang seperti ini. Membuat isu cethek ini berkembang menjadi besar, sedangkan isu besarnya justru tertutupi. Media sekaliber Tempo ternyata tak mampu menguak tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Saya menduga, keagresifan Tempo ini tidak lain untuk menjatuhkan nama Kompas. Karena empat wartawan yang terlibat itu, salah satunya berasal dari Kompas. Tak cuma di media cetak, di media elektronikpun seperti TV yakni TVone juga berusaha menjatuhkan metrotv dengan pemberitaan ini. Lantas, apakah kedua media itu pernah berpikir perang media demi mendapatkan sebuah rating tertinggi, profesionalitas wartawan akan jatuh? Masyarakat akan berpikir, wartawan TVone juga tak ubahnya seperti empat wartawan itu yakni tukang peras. Masyarakat juga akan memberikan stigma, wartawan Tempo juga tak ubahnya seperti empat wartawan itu yakni tukang palak?
Cerita di balik layar, yang mengadukan empat wartawan ini adalah salah satu PR yang memang menangani plat merah. sang PR ini ternyata berusaha mencari kambing hitam atas pemberitaan negatif yang beredar. Karena, sang PR telah ditelpon oleh petinggi plat merah karena pemberitaan yang makin lama makin memojokkan KS. Padahal, plat merah telah merogoh kocek yang cukup banyak untuk menyewa PR ini supaya dapat mengontrol berita yang berkembang.
PR ini kemudian panik dan mengambil jalan pintas menyalahkan wartawan. Lagi-lagi kabar burung, empat nama yang dicatut ini karena empat nama ini berada dalam daftar bbm messenger PR. Bahkan 30 daftar nama itu adalah daftar nama pemain futsal wartawan pasar modal. Dan sebenarnya, di pasar modal, wartawan yang meliput tidak sebanyak itu. PR ini juga tidak selamanya bersih, karena berdasarkan penuturan teman-teman, PR yang menjadi pionir dalam gerakan memberi wartawan sogokan uang ini juga pernah menawari wartawan pasar modal jatah saham KS.
Belajar dari kejadian ini, tak ada yang menang. Semuanya kalah. Tempo tak hanya merusak nama wartawan Kompas tapi keseluruhan wartawan. Khususnya wartawan dalam bidang ekonomi. Nama wartawan Indonesia tak hanya jatuh di kalangan masyarakat domestik tetapi juga internasional. Saya pernah berbincang dengan Kepala atase kebudayaan kedutaan Jerman di Indonesia soal wartawan KS ini. Si bule Jerman ini ternyata tahu banyak soal insiden ini. Bahkan, teman-temannya yang berada di Jerman juga menanyakan kebenaran berita ini. Kalau sudah begini siapa yang akan rugi? Hanya rasa malu yang akan didapatkan.
Untuk Dewan Pers, jika ingin memangkas wartawan jalean ini tak cukup hanya dengan memecat. Keseluruhan sistem ini harus dipangkas habis. Mulai dari tingkah laku narasumber yang tidak mencoba memberi uang ataupun PR yang berusaha untuk menawari mengirim lewat nomor rekening. Tidak hanya itu, harus ada peraturan yang mengatur gaji wartawan dengan cukup besar. Karena, terdapat beberapa pengusaha media yang pelit terhadap gaji wartawan. Tak heran, jika wartawanpun mencari sesuatu di luar.
Hasil akhirnya terhadap kisruh KS ini, wartawan yang akan menjadi korban. Sedangkan pejabat dan partai politik yang terlibat melenggang dengan tenang begitu saja. Misteri di balik harga KS yang murah ini juga tak akan terungkap.
Proses IPO KS memang cukup alot, nuansa politis tidak mampu terhindarkan lagi. Awal mulanya ketika harga KS ditetapkan dengan harga yang terbilang murah sekitar Rp 850 per lembar saham. Padahal, banyak kalangan menilai, harga saham KS sepantasnya berada di level di atas Rp 1.000 per lembar sahamnya. Banyak wartawan berusaha menulis soal harga KS yang kemurahan itu. Ulasan-ulasan negatif soal IPO KS tidak berhenti ketika sebelum IPO hingga sesudah IPO berlangsung.
Maklum, ketika privatisasi BUMN selalu saja melibatkan unsur politis karena ada anggota dewan pemeras ribuan (a.k.a dpr) orang yang terlibat di dalamnya. Saya tak menuduh, tapi gosip yang beredar para anggota dewan pemeras ribuan orang ini ikut-ikutan meminta jatah. Karena harga yang murah itu, tentu saja makin menarik minat masyarakat untuk memperoleh gain yang tinggi khususnya investor. Banyak orang berburu saham perusahaan baja plat merah ini. Mulai dari institusi hingga masyarakat ritel. Bahkan, salah seorang gubernur juga ikut-ikutan meminta jatah saham kepada Menteri BUMN. Tak tanggung-tanggung, gubernur tersebut meminta jatah saham yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.
Isu panas mulai bergulir, ketika salah satu anggota partai membeberkan fakta-fakta soal harga KS tersebut. Sejak itupula, pemberitaan KS tak ada satupun yang positif. Semuanya n egatif. Pembeberan fakta itu, kabarnya juga karena tidak semua partai politik kebagian jatah yang sama untuk IPO KS. Hanya dua partai politik yang mendapat jatah paling besar di IPO KS tersebut. Entah, bagaimana kebenaran isu ini. Namun, ini adalah kabar angin yang berhembus di sana sini, dari mulut ke mulut. Kebenaran yang tadinya off the record ini, tak mampu masuk ke pojok berita hanya menjadi buah bibir pembicaraan di kalangan wartawan secara terbatas.
Puncaknya, ketika Tempo menulis soal pemerasan empat orang wartawan yang berasal dari media ternama terhadap manajemen KS. Empat orang wartawan ini mewakili 30 wartawan lainnya, meminta jatah saham kepada KS dan meminta uang sebesar Rp 400 juta supaya pemberitaan soal KS ini berhenti. Seperti bom meledak, pemberitaan itu membuat saya kaget setengah mati. Jatuh sudah kredibilitas saya sebagai wartawan. Meski, saya tak terlibat tapi orang akan menilai profesi wartawan sebagai tukang peras.
Saya tak membela keempat wartawan itu. Memang, harus diakui empat wartawan itu salah. Karena bermain saham hanya akan membawa conflict of interest. Investor di Indonesia masih sensitif terhadap berita, sehingga bisa saja wartawan membuat berita untuk keuntungannya pribadi yakni demi naik turunnya saham. Kasus empat wartawan itu memang perlu ditelusuri lebih jauh, tanpa harus membuatnya semakin besar. Tapi Tempo lupa menelusuri jejak siapa dan apa sebenarnya di balik IPO KS.
Isu tentang empat wartawan itu hanyalah tumbal untuk menutupi isu sebenarnya yakni kenapa harga KS bisa semurah itu? siapa yang menikmati harga KS itu dan siapa yang menetapkan harga KS? Isu inilah yang belum terkuak, siapa dalang di balik ini dan berapa besar kerugian negara dengan murahnya harga IPO KS ini? Saya jadi ingin tahu apakah Tempo bisa mengungkap soal penjatahan saham ini tidak hanya soal pemerasan wartawan? bisakah Tempo mengetahui ke mana sebenarnya jalan cerita akan dibawa?
Kegegeran ini tak hanya terjadi di Dewan Pers, di lapangan tempat saya meliput, topik ini juga menjadi perbincangan hangat di kami kalangan wartawan. Karena saya dan teman-teman bertugas di plat merah. Saya sungguh menyesalkan sikap Tempo yang seperti ini. Membuat isu cethek ini berkembang menjadi besar, sedangkan isu besarnya justru tertutupi. Media sekaliber Tempo ternyata tak mampu menguak tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Saya menduga, keagresifan Tempo ini tidak lain untuk menjatuhkan nama Kompas. Karena empat wartawan yang terlibat itu, salah satunya berasal dari Kompas. Tak cuma di media cetak, di media elektronikpun seperti TV yakni TVone juga berusaha menjatuhkan metrotv dengan pemberitaan ini. Lantas, apakah kedua media itu pernah berpikir perang media demi mendapatkan sebuah rating tertinggi, profesionalitas wartawan akan jatuh? Masyarakat akan berpikir, wartawan TVone juga tak ubahnya seperti empat wartawan itu yakni tukang peras. Masyarakat juga akan memberikan stigma, wartawan Tempo juga tak ubahnya seperti empat wartawan itu yakni tukang palak?
Cerita di balik layar, yang mengadukan empat wartawan ini adalah salah satu PR yang memang menangani plat merah. sang PR ini ternyata berusaha mencari kambing hitam atas pemberitaan negatif yang beredar. Karena, sang PR telah ditelpon oleh petinggi plat merah karena pemberitaan yang makin lama makin memojokkan KS. Padahal, plat merah telah merogoh kocek yang cukup banyak untuk menyewa PR ini supaya dapat mengontrol berita yang berkembang.
PR ini kemudian panik dan mengambil jalan pintas menyalahkan wartawan. Lagi-lagi kabar burung, empat nama yang dicatut ini karena empat nama ini berada dalam daftar bbm messenger PR. Bahkan 30 daftar nama itu adalah daftar nama pemain futsal wartawan pasar modal. Dan sebenarnya, di pasar modal, wartawan yang meliput tidak sebanyak itu. PR ini juga tidak selamanya bersih, karena berdasarkan penuturan teman-teman, PR yang menjadi pionir dalam gerakan memberi wartawan sogokan uang ini juga pernah menawari wartawan pasar modal jatah saham KS.
Belajar dari kejadian ini, tak ada yang menang. Semuanya kalah. Tempo tak hanya merusak nama wartawan Kompas tapi keseluruhan wartawan. Khususnya wartawan dalam bidang ekonomi. Nama wartawan Indonesia tak hanya jatuh di kalangan masyarakat domestik tetapi juga internasional. Saya pernah berbincang dengan Kepala atase kebudayaan kedutaan Jerman di Indonesia soal wartawan KS ini. Si bule Jerman ini ternyata tahu banyak soal insiden ini. Bahkan, teman-temannya yang berada di Jerman juga menanyakan kebenaran berita ini. Kalau sudah begini siapa yang akan rugi? Hanya rasa malu yang akan didapatkan.
Untuk Dewan Pers, jika ingin memangkas wartawan jalean ini tak cukup hanya dengan memecat. Keseluruhan sistem ini harus dipangkas habis. Mulai dari tingkah laku narasumber yang tidak mencoba memberi uang ataupun PR yang berusaha untuk menawari mengirim lewat nomor rekening. Tidak hanya itu, harus ada peraturan yang mengatur gaji wartawan dengan cukup besar. Karena, terdapat beberapa pengusaha media yang pelit terhadap gaji wartawan. Tak heran, jika wartawanpun mencari sesuatu di luar.
Hasil akhirnya terhadap kisruh KS ini, wartawan yang akan menjadi korban. Sedangkan pejabat dan partai politik yang terlibat melenggang dengan tenang begitu saja. Misteri di balik harga KS yang murah ini juga tak akan terungkap.
11.26.2010
Kwetiau Goreng dan Es Leci
Dua menu favoritku ketika mengunjungi warung pojok (wapo) yang lokasinya persis di depan kampus B Universitas Airlangga. Memang terkesan tidak kreatif tetapi dua menu itulah yang selalu kupesan ketika aku berkunjung ke wapo. Padahal masih banyak menu-menu lainnya seperti nasi goreng, bebek goreng, gurami terbang goreng, steak, salad, es Alpukat, es melon, es blewah, juice alpukat, cappucino dan lain-lain.
Terakhir aku berkunjung ke sana setelah menghadiri pesta pernikahan salah seorang teman beberapa hari lalu. Maklum, karena datang terlambat, akupun tidak kebagian makanan, karena makanan sudah disapu bersih oleh tamu yang hadir terlebih dahulu. Sedangkan naga-naga di perut ini sudah berteriak, menggeliat ke sana ke sini untuk meminta jatah malam. Alhasil, akupun pergi ke wapo bersama adikku. Kami memutuskan ke sana, karena lokasinya tak jauh dari lokasi resepsi pernikahan temanku.
Wapo berubah!! Tampilan luarnya berubah, lebih memukau ketimbang terakhir kali aku ke sana ketika kuliah, beberapa tahun lalu. Bahkan, pengunjungnyapun lebih ramai daripada dulu. Dulu memang ramai, tapi malam minggu itu, aku harus masuk dalam daftar tunggu karena semua meja fully booked. Satu hal yang tidak berubah adalah tukang parkirnya judes sekali, ibu-ibu yang usianya sekitar 40 tahun. Ibu-ibu itu masih setia menjadi tukang parkir di wapo padahal sudah lewat beberapa tahun lalu. Eits, tapi jangan salah, si ibu-ibu itu yang menerima uang. Ia memiliki beberapa anak muda sebagai anak buahnya untuk mengatur parkir di wapo.
Menu yang disajikan oleh wapo juga semakin berkembang. Ada menu-menu baru yang siap untuk dicoba. Namun, menu-menu lama juga masih setia ada dalam daftar untuk dinikmati.
"Mbak kita pesan satu saja ya untuk makanannya?" kata adikku.
"Kamu mau apa?"
"Aku pesen nasi goreng aja mbak,"
Ah, pesanan yang berbeda. Karena sudah di wapo, aku ingin sekali makan menu kwetiau goreng favoritku. Dan kamipun pesan satu-satu. Aku memesan kwetiau goreng dan es leci, sedangkan adikku memesan nasi goreng wapo dan es serut melon.
Oh my God, ada satu lagi yang tidak berubah dari wapo adalah porsi makanannya yang masih tetap banyak sejak dahulu. Sepiring nasi goreng dan kwetiau goreng bisa dinikmati oleh tiga orang. Haduh, bagaimana caranya menghabiskan satu porsi makanan ini. Perutku memang lapar, tapi aku juga tak sanggup menghabiskan makanan untuk porsi tiga orang.
"Mestinya tadi kita pesan satu aja mbak,"
"Iya, mbak lupa kalau porsinya jumbo. Kita minta piring aja satu lagi, kemudian pisahkan yang mau dibungkus supaya bukan makanan sisa yang dibungkus,"
Nyam, rasa kwetiau goreng itu sama seperti rasa kwetiau goreng lainnya. Entah, aku lupa rasanya, ataukah memang kwetiau goreng wapo sudah tidak selezat seperti dahulu. Yeah, seandainya aku tidak merindukan kwetiau goreng wapo itu, mungkin aku memesan menu lainnya. Satu sisi, aku kecewa karena rasanya tak seenak yang kubayangkan. Sisi lainnya, aku merasa lega karena bisa menutup rasa rinduku terhadap kwetiau goreng itu.
Wapo bukan hanya tempat makan biasa. Bagi anak muda Surabaya, wapo adalah salah tempat nongkrong. Meski namanya warung pojok, wapo jauh sekali dari kesan warung pojok. Bahkan, nak muda yang tidak tahu wapo bukan termasuk anak gaul surabaya. Wapo tidak hanya tempat untuk nongkrong bersama dengan teman, bukan hanya tempat untuk anak muda mudi yang sedang dimabuk cinta, tetapi juga tempat makan untuk keluarga.
Untukku, wapo ini banyak sekali kenangan di dalamnya. Aku pernah berpacaran di wapo. Usai nonton di Delta Plaza, aku dan pacarku makan di wapo itu. Ah, indahnya masa-masa SMU. Di wapo, aku juga pernah bersama dengan keluarga. Kemudian bersama dengan teman-teman. Di wapo ini juga, aku pernah bermimpi untuk kuliah di Universitas Airlangga. Namun, aku tak pernah menyesal kuliah di Universitas Jember dan tidak mendapatkan mimpiku.
Berada di wapo, sekilas membuatku kembali mengingat masa lalu. Masa yang indah tetapi juga pahit. Di Wapo, aku pernah mendapatkan pernyataan cinta dari seorang pria, dan di wapo juga, aku pernah mendapatkan pernyataan "putus" dari seorang pria.
Sudah cukup untukku melihat masa lalu dan merasakan kwetiau goreng itu, aku mengajak adikku untuk menyudahi malam itu dan pulang. Tak lupa meminta sebagian nasi goreng dan kwetiau goreng yang sengaja dipisahkan untuk dibungkus dan membungkus satu porsi salad buah wapo yang menjadi favorit adik bungsuku.
Kwetiau Goreng dan Es Leci, dulu memang kamu enak dan menjadi favoritku. Kini, mungkin ketika aku mengunjungi wapo kembali aku akan memesan dan mencoba menu yang lain.
Fatmawati
26 Nopember 2010
**seperti kwetiau goreng dan es leci itu, kamu adalah masa lalu. Pergilah dariku dan jangan mengangguku lagi. Aku sudah membuangmu jauh. Dan kini aku siap untuk mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih baik dan lebih enak**
Terakhir aku berkunjung ke sana setelah menghadiri pesta pernikahan salah seorang teman beberapa hari lalu. Maklum, karena datang terlambat, akupun tidak kebagian makanan, karena makanan sudah disapu bersih oleh tamu yang hadir terlebih dahulu. Sedangkan naga-naga di perut ini sudah berteriak, menggeliat ke sana ke sini untuk meminta jatah malam. Alhasil, akupun pergi ke wapo bersama adikku. Kami memutuskan ke sana, karena lokasinya tak jauh dari lokasi resepsi pernikahan temanku.
Wapo berubah!! Tampilan luarnya berubah, lebih memukau ketimbang terakhir kali aku ke sana ketika kuliah, beberapa tahun lalu. Bahkan, pengunjungnyapun lebih ramai daripada dulu. Dulu memang ramai, tapi malam minggu itu, aku harus masuk dalam daftar tunggu karena semua meja fully booked. Satu hal yang tidak berubah adalah tukang parkirnya judes sekali, ibu-ibu yang usianya sekitar 40 tahun. Ibu-ibu itu masih setia menjadi tukang parkir di wapo padahal sudah lewat beberapa tahun lalu. Eits, tapi jangan salah, si ibu-ibu itu yang menerima uang. Ia memiliki beberapa anak muda sebagai anak buahnya untuk mengatur parkir di wapo.
Menu yang disajikan oleh wapo juga semakin berkembang. Ada menu-menu baru yang siap untuk dicoba. Namun, menu-menu lama juga masih setia ada dalam daftar untuk dinikmati.
"Mbak kita pesan satu saja ya untuk makanannya?" kata adikku.
"Kamu mau apa?"
"Aku pesen nasi goreng aja mbak,"
Ah, pesanan yang berbeda. Karena sudah di wapo, aku ingin sekali makan menu kwetiau goreng favoritku. Dan kamipun pesan satu-satu. Aku memesan kwetiau goreng dan es leci, sedangkan adikku memesan nasi goreng wapo dan es serut melon.
Oh my God, ada satu lagi yang tidak berubah dari wapo adalah porsi makanannya yang masih tetap banyak sejak dahulu. Sepiring nasi goreng dan kwetiau goreng bisa dinikmati oleh tiga orang. Haduh, bagaimana caranya menghabiskan satu porsi makanan ini. Perutku memang lapar, tapi aku juga tak sanggup menghabiskan makanan untuk porsi tiga orang.
"Mestinya tadi kita pesan satu aja mbak,"
"Iya, mbak lupa kalau porsinya jumbo. Kita minta piring aja satu lagi, kemudian pisahkan yang mau dibungkus supaya bukan makanan sisa yang dibungkus,"
Nyam, rasa kwetiau goreng itu sama seperti rasa kwetiau goreng lainnya. Entah, aku lupa rasanya, ataukah memang kwetiau goreng wapo sudah tidak selezat seperti dahulu. Yeah, seandainya aku tidak merindukan kwetiau goreng wapo itu, mungkin aku memesan menu lainnya. Satu sisi, aku kecewa karena rasanya tak seenak yang kubayangkan. Sisi lainnya, aku merasa lega karena bisa menutup rasa rinduku terhadap kwetiau goreng itu.
Wapo bukan hanya tempat makan biasa. Bagi anak muda Surabaya, wapo adalah salah tempat nongkrong. Meski namanya warung pojok, wapo jauh sekali dari kesan warung pojok. Bahkan, nak muda yang tidak tahu wapo bukan termasuk anak gaul surabaya. Wapo tidak hanya tempat untuk nongkrong bersama dengan teman, bukan hanya tempat untuk anak muda mudi yang sedang dimabuk cinta, tetapi juga tempat makan untuk keluarga.
Untukku, wapo ini banyak sekali kenangan di dalamnya. Aku pernah berpacaran di wapo. Usai nonton di Delta Plaza, aku dan pacarku makan di wapo itu. Ah, indahnya masa-masa SMU. Di wapo, aku juga pernah bersama dengan keluarga. Kemudian bersama dengan teman-teman. Di wapo ini juga, aku pernah bermimpi untuk kuliah di Universitas Airlangga. Namun, aku tak pernah menyesal kuliah di Universitas Jember dan tidak mendapatkan mimpiku.
Berada di wapo, sekilas membuatku kembali mengingat masa lalu. Masa yang indah tetapi juga pahit. Di Wapo, aku pernah mendapatkan pernyataan cinta dari seorang pria, dan di wapo juga, aku pernah mendapatkan pernyataan "putus" dari seorang pria.
Sudah cukup untukku melihat masa lalu dan merasakan kwetiau goreng itu, aku mengajak adikku untuk menyudahi malam itu dan pulang. Tak lupa meminta sebagian nasi goreng dan kwetiau goreng yang sengaja dipisahkan untuk dibungkus dan membungkus satu porsi salad buah wapo yang menjadi favorit adik bungsuku.
Kwetiau Goreng dan Es Leci, dulu memang kamu enak dan menjadi favoritku. Kini, mungkin ketika aku mengunjungi wapo kembali aku akan memesan dan mencoba menu yang lain.
Fatmawati
26 Nopember 2010
**seperti kwetiau goreng dan es leci itu, kamu adalah masa lalu. Pergilah dariku dan jangan mengangguku lagi. Aku sudah membuangmu jauh. Dan kini aku siap untuk mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih baik dan lebih enak**
11.10.2010
Itu Kursiku!!
Rabu (10/11) saya sungguh kesal sekali. Hari itu cuaca panas, Obama datang membuat jalanan macet, demo di bundaran HI semakin memperparah macetnya jalanan, kurang tidur (karena sedang menunggu kabar dari adik saya yang terjebak banjir bandang di Semarang) dan saya terserang flu. Tadinya memutuskan tidak akan masuk, namun dua pasukan desk bisnis juga tumbang membuat saya berpikir ulang. Toh, saya masih kuat untuk berdiri dan berjalan.
Setelah liputan di acara media gathering salah satu perusahaan plat merah, saya meluncur ke kantor. Kondisi badan yang tidak mendukung membuat saya pergi ke kantor karena sedang tidak ingin kemana-mana. Sampai di kantor, saya mendapatkan perhatian dari beberapa atasan, kolega kantor soal kondisi adik saya. Maklum, malam sebelumnya saya panik karena adik saya terjebak banjir bandang dan tidak bisa ditelp. Bercerita dengan mereka, cukup membuat saya terharu sekecil apapun perhatiannya. Karena, saya sangat mencintai dan menyayangi keluarga saya.
Namun, rasa senang itu hanya sebentar karena saya melihat seseorang telah menduduki kursi dan meja saya. Orang itu sebut saja dengan X. Mr. X ini sudah coba saya peringatkan bahwa itu kursi meja saya. Bahkan, salah seorang atasan saya juga pernah menegur dia. Kemudian, teman sebelah saya juga sudah memperingatkan. Tetapi seperti "Kanebo Kering" yang harus dibasahi terlebih dahulu baru basah. Saya tidak tahu apakah dia berpura-pura tidak tahu atau memang bandel. Yang jelas, hari itu saya sangat kesal sekali. Meski kesal, saya mencoba untuk berpikir positif.
Rasa kesal itu ditambah dengan ketika saya harus pindah. Oh, my God, saya terusir di meja kursi saya sendiri. What a damn shit!!! Memang, saya tidak mencoba untuk menegurnya tetapi, saya berpikir dia seharusnya tahu diri. Karena dia sudah diberitahu berkali-kali. Lain halnya jika dia sama sekali tidak diberitahu. Saya diam, karena saya tidak ingin membuat dia malu dengan mengusirnya. Jangankan mengalah, meminta ijin untuk menempati meja saya tidak pernah sekalipun terucap di mulutnya. Dimana letak sopan santunmu?
Teman sebelah meja saya, mengatakan," Dia sudah pernah tak kasih tau jangan duduk situ kalo Feni datang gimana," kata dia.
Jawaban dari Mr. X itu sontak membuat saya emosi. "Trus dia bilang, mbak Feni kan gak pernah ke kantor," tambah teman yang duduk di sebelah meja saya.
Ingin saya bilang kepada dia: "Hei lo itu anak baru. Anak baru mestinya turun lapangan dan nyari berita dan ga ngendon sendirian di belakang meja kaya orang kantoran. Kalo lo takut panas, jangan jadi wartawan!!"
Jelas saja saya tidak pernah di kantor, karena saya benar2 mencari berita. Menggali isu, bertemu dengan narasumber. Telepon boleh saja dilakukan, tetapi dalam kondisi tertentu. Bukan juga saya iri, karena saya dulu sebagai calon reporter banting setir ke sana ke sini. Liputan hingga Deptan, Ragunan dan kembali ke kantor saya tak pernah keberatan. Karena itu memang tugas saya dan saya bersyukur, redaktur-redaktur saya dahulu memberi tugas itu kepada saya. Sementara dia, dia enak2an di kantor dan selalu sms minta nomor ini dan minta nomor itu. Saya ingat, pertama kali dia mensms saya: "Mbak, aku minta semua nomor sumber migas, perusahaan migas dan tambang jadi kalau ada yang mau di fu lebih gampang. Kata mas M, aku suruh melengkapi beritamu," kata dia.
Setidaknya, dia bisa meminta dengan sopan. Semua nomor narasumber. Oh, Holly shit. Satu yang terlintas dalam benak saya: Enak saja! saya mencari nomor-nomor itu setengah mati berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sehari. Berpanas ria, belum ketambahan diusir satpam karena takut diminta sumbangan, dan lain sebagainya. Dan kamu, sebagai anak baru cuma sebagai pelengkap berita dan menelpon. Kalau di awal sudah minta enak, gimana ke belakangnya. Saya tak pernah pelit untuk memberi nomor kontak, tapi sms dia membuat saya kesal. Emang dia siapa, sms seperti itu kepada saya? atasan saya juga bukan.
Kembali ke masalah kursi, kenapa saya ingin duduk di situ bukan karena saya arogan untuk membuktikan saya lebih senior. Bukan itu, karena kursi meja itu adalah rumah saya. Lantas, kenapa ketika saya jarang ke kantor, langsung dia tidak menganggap saya ada. Apakah saya siluman, alien atau jin yang tidak ada bekasnya. Saya memang jarang ke kantor tapi karena saya bekerja di sana, suatu saat nanti pasti saya kembali ke kantor itu. Saya tidak keberatan, jika dia mau duduk di kursi saya, tetapi jika itu tidak ada saya. Selama saya ada, carilah tempat duduk yang lain. Dan saya heran, hanya dia yang sulit untuk diberitahu. Lagipula mencari rumah sendiri kan lebih enak.
Memang, saya bisa duduk di mana saja. Karena pada Rabu itu karena investor summit, banyak yang tidak ke kantor. Tetapi aneh rasanya ketika menduduki kursi meja orang lain. Karena, memang itu bukan tempat saya. Apa yang saya alami seolah-olah, saya memiliki rumah namun saya tidak bisa menempati rumah itu sehingga saya harus pergi karena ada orang lain yang bukan pemilik rumah memaksa masuk dan tinggal di rumah itu. Sedangkan, si pemilik rumah harus mencari-cari rumah yang lain.
Lalu, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya mengusirnya secara terang-terangan ataukah saya harus menuliskan: Don't sit here except Feni. Ataukah, saya harus diam saja dan membiarkan dia merajalela. Sudah cukup saya mengalah. Lagi-lagi kata itu yang muncul "mengalah".
Fatmawati
10/11/2010
23.45
Setelah liputan di acara media gathering salah satu perusahaan plat merah, saya meluncur ke kantor. Kondisi badan yang tidak mendukung membuat saya pergi ke kantor karena sedang tidak ingin kemana-mana. Sampai di kantor, saya mendapatkan perhatian dari beberapa atasan, kolega kantor soal kondisi adik saya. Maklum, malam sebelumnya saya panik karena adik saya terjebak banjir bandang dan tidak bisa ditelp. Bercerita dengan mereka, cukup membuat saya terharu sekecil apapun perhatiannya. Karena, saya sangat mencintai dan menyayangi keluarga saya.
Namun, rasa senang itu hanya sebentar karena saya melihat seseorang telah menduduki kursi dan meja saya. Orang itu sebut saja dengan X. Mr. X ini sudah coba saya peringatkan bahwa itu kursi meja saya. Bahkan, salah seorang atasan saya juga pernah menegur dia. Kemudian, teman sebelah saya juga sudah memperingatkan. Tetapi seperti "Kanebo Kering" yang harus dibasahi terlebih dahulu baru basah. Saya tidak tahu apakah dia berpura-pura tidak tahu atau memang bandel. Yang jelas, hari itu saya sangat kesal sekali. Meski kesal, saya mencoba untuk berpikir positif.
Rasa kesal itu ditambah dengan ketika saya harus pindah. Oh, my God, saya terusir di meja kursi saya sendiri. What a damn shit!!! Memang, saya tidak mencoba untuk menegurnya tetapi, saya berpikir dia seharusnya tahu diri. Karena dia sudah diberitahu berkali-kali. Lain halnya jika dia sama sekali tidak diberitahu. Saya diam, karena saya tidak ingin membuat dia malu dengan mengusirnya. Jangankan mengalah, meminta ijin untuk menempati meja saya tidak pernah sekalipun terucap di mulutnya. Dimana letak sopan santunmu?
Teman sebelah meja saya, mengatakan," Dia sudah pernah tak kasih tau jangan duduk situ kalo Feni datang gimana," kata dia.
Jawaban dari Mr. X itu sontak membuat saya emosi. "Trus dia bilang, mbak Feni kan gak pernah ke kantor," tambah teman yang duduk di sebelah meja saya.
Ingin saya bilang kepada dia: "Hei lo itu anak baru. Anak baru mestinya turun lapangan dan nyari berita dan ga ngendon sendirian di belakang meja kaya orang kantoran. Kalo lo takut panas, jangan jadi wartawan!!"
Jelas saja saya tidak pernah di kantor, karena saya benar2 mencari berita. Menggali isu, bertemu dengan narasumber. Telepon boleh saja dilakukan, tetapi dalam kondisi tertentu. Bukan juga saya iri, karena saya dulu sebagai calon reporter banting setir ke sana ke sini. Liputan hingga Deptan, Ragunan dan kembali ke kantor saya tak pernah keberatan. Karena itu memang tugas saya dan saya bersyukur, redaktur-redaktur saya dahulu memberi tugas itu kepada saya. Sementara dia, dia enak2an di kantor dan selalu sms minta nomor ini dan minta nomor itu. Saya ingat, pertama kali dia mensms saya: "Mbak, aku minta semua nomor sumber migas, perusahaan migas dan tambang jadi kalau ada yang mau di fu lebih gampang. Kata mas M, aku suruh melengkapi beritamu," kata dia.
Setidaknya, dia bisa meminta dengan sopan. Semua nomor narasumber. Oh, Holly shit. Satu yang terlintas dalam benak saya: Enak saja! saya mencari nomor-nomor itu setengah mati berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sehari. Berpanas ria, belum ketambahan diusir satpam karena takut diminta sumbangan, dan lain sebagainya. Dan kamu, sebagai anak baru cuma sebagai pelengkap berita dan menelpon. Kalau di awal sudah minta enak, gimana ke belakangnya. Saya tak pernah pelit untuk memberi nomor kontak, tapi sms dia membuat saya kesal. Emang dia siapa, sms seperti itu kepada saya? atasan saya juga bukan.
Kembali ke masalah kursi, kenapa saya ingin duduk di situ bukan karena saya arogan untuk membuktikan saya lebih senior. Bukan itu, karena kursi meja itu adalah rumah saya. Lantas, kenapa ketika saya jarang ke kantor, langsung dia tidak menganggap saya ada. Apakah saya siluman, alien atau jin yang tidak ada bekasnya. Saya memang jarang ke kantor tapi karena saya bekerja di sana, suatu saat nanti pasti saya kembali ke kantor itu. Saya tidak keberatan, jika dia mau duduk di kursi saya, tetapi jika itu tidak ada saya. Selama saya ada, carilah tempat duduk yang lain. Dan saya heran, hanya dia yang sulit untuk diberitahu. Lagipula mencari rumah sendiri kan lebih enak.
Memang, saya bisa duduk di mana saja. Karena pada Rabu itu karena investor summit, banyak yang tidak ke kantor. Tetapi aneh rasanya ketika menduduki kursi meja orang lain. Karena, memang itu bukan tempat saya. Apa yang saya alami seolah-olah, saya memiliki rumah namun saya tidak bisa menempati rumah itu sehingga saya harus pergi karena ada orang lain yang bukan pemilik rumah memaksa masuk dan tinggal di rumah itu. Sedangkan, si pemilik rumah harus mencari-cari rumah yang lain.
Lalu, apa yang harus saya lakukan. Apakah saya mengusirnya secara terang-terangan ataukah saya harus menuliskan: Don't sit here except Feni. Ataukah, saya harus diam saja dan membiarkan dia merajalela. Sudah cukup saya mengalah. Lagi-lagi kata itu yang muncul "mengalah".
Fatmawati
10/11/2010
23.45
11.08.2010
Plat nomorku kemana kamu?
Kali pertama selalu ada dalam kehidupan semua orang, misalnya saja pertama kali menikah, pertama kali melahirkan, pertama kali jatuh cinta atau pertama kali kehilangan. Pertama kali selalu meninggalkan kesan terdalam dalam setiap kenangan.
Sepanjang sejarah aku bergelut dengan sepeda motor, ada pertama kalinya aku mengalami kecelakaan. Tetapi ada juga pertama kalinya aku mengalami hal yang menggelikan yakni kehilangan plat nomor motor kesayanganku. Motor yang kubeli dengan kerja kerasku.
Tragedi itu terjadi di sabtu siang di pelataran parkir kampus terkenal di Indonesia Raya ini. Seperti biasa, setiap hari sabtu, aku pergi les dengan salah seorang kawan di kampus itu. Seperti biasa, aku juga parkir di tempat biasa, di bawah pohon.
Sebelum keluar dari tempat parkir tersebut, aku melakukan pengecekan ulang terhadap plat nomor belakang. Karena, aku baru saja mengganti bautnya dengan yang baru. Kuperiksa, plat nomor itu masih bertengger di bagian belakang motorku dalam kondisi masih kencang.
Puas dengan hasil kerjaku sendiri mengganti mur baut, akupun masuk ke dalam kelas. Mengikuti pelajaran seperti biasa tanpa ada bayangan sekalipun kehilangan plat nomor. Selesai mengikuti kelas, alangkah terkejutnya, ketika aku melihat plat nomor motorku yang belakang raib entah ke mana.
Ada dua pertanyaan yang saat itu menggantung di pikiranku. Pertama kemana perginya plat nomorku? Kedua siapa yang mengambil dan untuk apa? Ughhh....sungguh-sungguh menyebalkan hari itu. Hari itu yang kurencanakan setelah pulang les, langsung pulang dan beristirahat jadi urung karena aku harus mencari tukang pelat untuk membuat nomor pelat imitasi supaya tidak ditangkap polisi. Entah kenapa saat itu aku merasa beruntung, bahwa orang Indonesia sangat kreatif untuk membuat barang tiruan. Hanya membutuhkan waktu 30 menit, aku sudah mendapatkan plat nomor tiruan.
Sepanjang sejarah aku bergelut dengan sepeda motor, ada pertama kalinya aku mengalami kecelakaan. Tetapi ada juga pertama kalinya aku mengalami hal yang menggelikan yakni kehilangan plat nomor motor kesayanganku. Motor yang kubeli dengan kerja kerasku.
Tragedi itu terjadi di sabtu siang di pelataran parkir kampus terkenal di Indonesia Raya ini. Seperti biasa, setiap hari sabtu, aku pergi les dengan salah seorang kawan di kampus itu. Seperti biasa, aku juga parkir di tempat biasa, di bawah pohon.
Sebelum keluar dari tempat parkir tersebut, aku melakukan pengecekan ulang terhadap plat nomor belakang. Karena, aku baru saja mengganti bautnya dengan yang baru. Kuperiksa, plat nomor itu masih bertengger di bagian belakang motorku dalam kondisi masih kencang.
Puas dengan hasil kerjaku sendiri mengganti mur baut, akupun masuk ke dalam kelas. Mengikuti pelajaran seperti biasa tanpa ada bayangan sekalipun kehilangan plat nomor. Selesai mengikuti kelas, alangkah terkejutnya, ketika aku melihat plat nomor motorku yang belakang raib entah ke mana.
Ada dua pertanyaan yang saat itu menggantung di pikiranku. Pertama kemana perginya plat nomorku? Kedua siapa yang mengambil dan untuk apa? Ughhh....sungguh-sungguh menyebalkan hari itu. Hari itu yang kurencanakan setelah pulang les, langsung pulang dan beristirahat jadi urung karena aku harus mencari tukang pelat untuk membuat nomor pelat imitasi supaya tidak ditangkap polisi. Entah kenapa saat itu aku merasa beruntung, bahwa orang Indonesia sangat kreatif untuk membuat barang tiruan. Hanya membutuhkan waktu 30 menit, aku sudah mendapatkan plat nomor tiruan.
11.04.2010
Itu adalah rumahku
Aku tak pernah membayangkan akan ada badai besar yang akan menghantam rumahku. Kali ini, badai itu tidak hanya merusak bangunan rumah, tetapi badai itu juga telah membuat penghuni rumah pergi satu persatu. Tapi, aku tak pernah menyalahkan badai itu. Karena memang, rumahku itu dari awal sudah rapuh.
Seandainya saja, rumahku itu kokoh, sedahsyat apapun badai itu, rumahku pasti bisa bertahan. Tapi, itu semua adalah pilihan setiap penghuni rumah, apakah memutuskan untuk bertahan dalam badai atau keluar dalam badai demi sebuah kenyamanan. Setiap pilihan dan keputusan itulah yang harus aku hormati.
Aku memang mempertanyakan, kenapa mereka pergi? tetapi aku tidak menyalahkan mereka pergi. Aku juga tidak membenarkan mereka pergi. Karena memang tidak ada benar dan salah. Alasan mereka pergi, adalah hal yang harus segera diperbaiki untuk membuat rumahku kokoh lagi.
Meski banyak orang yang meninggalkan rumahku, aku yakin rumah itu akan berdiri tegak lagi. Karena, rumah yang dibangun bertahun-tahun dengan keringat dan kerja keras, tak mungkin dibiarkan ambruk begitu saja. Aku yakin, masih ada cara untuk memperbaiki rumah itu.
Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena rumah itu yang bersedia untuk menampungku ketika aku terlantar. Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena aku percaya masih bisa diperbaiki. Walaupun, ada rumah baru yang tersedia untukku, tapi aku merasa masih bisa bertahan. Semoga, pertahananku di rumahku itu tidak akan sia-sia.
Medan Merdeka Selatan
04 November 2010
18.15 WIB
Sedih dan miris melihat status FB teman-teman
**pilihan adalah pilihan yang harus dihormati**
Seandainya saja, rumahku itu kokoh, sedahsyat apapun badai itu, rumahku pasti bisa bertahan. Tapi, itu semua adalah pilihan setiap penghuni rumah, apakah memutuskan untuk bertahan dalam badai atau keluar dalam badai demi sebuah kenyamanan. Setiap pilihan dan keputusan itulah yang harus aku hormati.
Aku memang mempertanyakan, kenapa mereka pergi? tetapi aku tidak menyalahkan mereka pergi. Aku juga tidak membenarkan mereka pergi. Karena memang tidak ada benar dan salah. Alasan mereka pergi, adalah hal yang harus segera diperbaiki untuk membuat rumahku kokoh lagi.
Meski banyak orang yang meninggalkan rumahku, aku yakin rumah itu akan berdiri tegak lagi. Karena, rumah yang dibangun bertahun-tahun dengan keringat dan kerja keras, tak mungkin dibiarkan ambruk begitu saja. Aku yakin, masih ada cara untuk memperbaiki rumah itu.
Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena rumah itu yang bersedia untuk menampungku ketika aku terlantar. Aku masih bertahan di rumahku yang hampir ambruk itu, karena aku percaya masih bisa diperbaiki. Walaupun, ada rumah baru yang tersedia untukku, tapi aku merasa masih bisa bertahan. Semoga, pertahananku di rumahku itu tidak akan sia-sia.
Medan Merdeka Selatan
04 November 2010
18.15 WIB
Sedih dan miris melihat status FB teman-teman
**pilihan adalah pilihan yang harus dihormati**
Langganan:
Postingan (Atom)

