3.18.2008

keunikan budaya jepang

Jepang merupakan negara kepulauan yang terbentang membentuk busur pada arah Barat Laut Samudera pasifik memiliki 4 pulau besar sebagai pulau utamanya yaitu Hokkaido, Honshu, Shikoku, Kyushu dan gugusan pulau-pulau kecil yang bernama Okinawa. Kebudayaan Jepang sangat unik dan beragam, seperti misalnya : para wanita Jepang yang diharuskan untuk mempelajari kebudayaan tradisional seperti upacara minum teh ( chadao ), merangkai bunga ( kadao ) dan tata cara menggunakan kimono dalam festival-festival daerah.
Menurut sejarah Jepang, sejak tahun 660 SM Jepang adalah sebuah kerajaan feodal yang dipimpin oleh Kaisar yang memerintah secara turun-temurun. Selama puluhan abad, Jepang hanya mengalami sedikit saja perubahan struktur sosialnya. Sehingga Jepang tidak banyak diketahui dunia luar, karena selain sebagai negara kepulauan, secara geografis, Jepang terisolir dari Asia daratan dan juga seluruh dunia. Budaya yang amat tertutup menyebabkan sepenuhnya terasing ( terisolasi ) dari arus sejarah dunia. Hal ini mengakibatkan Jepang mulai mengalami kemunduran.
Namun, keadaan ini mulai berubah ketika Mutsuhito (1852-1912) yang dikenal sebagai Meiji, mereformasi Jepang secara mendasar. Jepang kemudian berubah dari sebuah masyarakat yang tertutup menjadi suatu bangsa yang amat bersemangat untuk menjalin kerja sama dan berhubungan dengan pihak lain serta berusaha menyamai dunia luar yang lebih unggul terlebih dahulu. Sejak saat itu Kaisar menyuruh tunas-tunas muda Jepang yang cerdas untuk belajar ke Eropa dan Amerika. Hasilnya, Jepang mengalami kemajuan yang pesat dalam segala bidang. Dalam waktu kurang dari setengah abad, Jepang sudah menyusul dan berhasil menyetarakan kemajuan teknologinya dengan negara-negara Eropa.
Ada beberapa faktor penyebab mengapa Jepang berhasil melakukan modernisasinya, yakni : pertama, Jepang sadar bahwa di sekelilingnya terdapat kekuatan-kekuatan besar yang mengancam Jepang. Sehingga Jepang harus menjadi kuat baik secara militer ataupun ilmu pengetahuan. Selain itu adanya perasaan bahwa mereka itu satu bangsa dan dapat dikatakan orang Jepang adalah homogen. Kedua, Kaisar menjadi faktor penting dalam proses modernisasi. Di Jepang, posisi Kaisar sangat dihormati karena ia dianggap sebagai titisan dewa Matahari sehingga apabila Kaisar mengatakan harus menimba ilmu di luar negeri maka prosesnya akan mudah karena orang Jepang pasti akan melaksanakan perintah Kaisar tersebut. Sejak Reformasi Meiji, kaisar yang saat itu berkuasa mendorong rakyatnya agar belajar lebih tekun supaya dapat menyamai keunggulan bangsa lain. Namun, perintah Kaisar tesebut juga didukung dengan adanya keinginan dari dalam diri orang Jepang agar selalu tekun dalam menjalankan segala sesuatunya. Sehingga bangsa Jepang dapat “ duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi “ dengan bangsa-bangsa lain yang memiliki keunggulan dan kebesaran.
Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah faktor pendidikan. Di mana, ketika terjadi proses Reformasi Meiji, tingkat melek huruf orang Jepang tinggi. Sehingga ketika Jepang akan masuk proses industrialisasi mereka sudah mempunyai sumber daya manusia yang terampil dan terdidik. Sebelum reformasi Meiji, pendidikan di Jepang berdasarkan sistem masyarakat feodal yaitu pendidikan untuk samurai, petani, tukang, pedagang serta rakyat jelata. Kegiatan itu dilaksanakan di kuil dengan bimbingan para pendeta Budha yang disebut dengan Terakoya ( sekolah kuil ). Setelah Reformasi Meiji, sistem pendidikan berubah yaitu dengan cara mulai menerjemahkan dan menerbitkan pelbagai macam buku tentang ilmu pengetahuan, filsafat maupun sastra. Para pemuda banyak yang dikirim ke luar negeri untuk belajar dan mencari ilmu bagi kemajuan bangsa Jepang agar tidak kalah dengan bangsa lain. Kegiatan Jepang dalam rangka memajukan bangsanya telah memberikan hasil yang signifikan. Korelasi antara kemajuan pendidikan Jepang dan Industrinya benar-benar terwujud. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan bangsa Jepang tumbuh menjadi negara industri utama di Asia yang kedudukannya sejajar dengan bagsa barat lain seperti Inggris ataupun Perancis.
Seperti telah dijelaskan bahwa tingkat melek huruf di Jepang sangat tinggi, hal ini mengindikasikan bahwa bangsa Jepang tidak akan pernah bosan dengan pengetahuan. Sebagai bangsa literal dan mempunyai minat baca yang tinggi tentu saja menjadikan bangsa ini maju dalam bidang pendidikan. Membaca bagi kebanyakan orang Jepang bukan merupakan kegiatan yang dipaksakan tetapi karena dalam diri mereka telah tertanam kabutuhan akan membaca. Lambat laun membaca menjadi tradisi orang Jepang. Tentu saja tradisi membaca dapat membawa Jepang sebagai bangsa yang maju dalam segala hal baik ekonomi, teknologi, dan budaya. Karena dengan membaca, pengetahuan manusia akan bertambah. Karakteristik orang Jepang yang menyukai pendidikan diakibatkan oleh beberapa hal, yaitu : perhatian pendidikan datang dari pelbagai macam pihak. Ini berarti kesadaran untuk belajar berasal dari dalam diri sendiri. Selain itu juga karena faktor-faktor teknis lainnya, seperti : sekolah di Jepang tidak mahal, harga buku di Jepang dapat dijangkau oleh semua kalangan dan kurikulum pendidikan yang berkualitas baik.
Proses modernisasi yang sukses dilakukan oleh Jepang pada akhirnya mampu menjadi contoh bagi negara-negara lain untuk meniru Jepang. Namun, kemudian timbul suatu pertanyaan apakah modernisasi yang dilakukan Jepang tetap memegang teguh dan mempertahankan unsur-unsur tradisinya mengingat bahwa hal penting yang menjadi ciri orang Jepang adalah menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dan komitmennya dalam mengembangkan perasaan simpati, penghargaan, dan semangat.
Tradisi yang melekat kuat pada bangsa Jepang ternyata tidak menghambat proses modernisasi, bahkan nilai-nilai tradisi yang ada menjadi suatu faktor pendorong bagi kemajuan Jepang. Dengan kata lain bangsa Jepang dapat melakukan modernisasi tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisi yang ada di masyarakat Jepang. Misalnya: semangat samurai yang digunakan untuk belajar dan menyerap ide-ide baru.
Apabila kita sekarang melihat bagaimana proses modernisasi yang dapat mengakibatkan budaya global ( identik dengan budaya barat ) masuk ke Jepang, kita akan meragukan pendapat bahwa orang Jepang masih berpegang teguh pada tradisi adalah hal yang wajar karena kita akan melihat mode pakaian yang aneh ala barat, rambut di cat warna-warni, bagian tubuh ditindik, dan bukannya kimono serta berambut panjang. Namun, tradisi di Jepang tidak merujuk pada hal-hal yang bersifat fisik ataupun lambing-lambang tertentu dan lebih kepada spirit untuk memadukan antara keinginan untuk maju dengan spirit mempertahankan budaya. Lambang-lambang tradisi bisa hilang, tetapi spirit selalu ada dan tertanam dalam hati mereka.
Salah satu implementasi dari spirit ( semangat ) budaya Jepang adalah semangat samurai yang mana di dalamnya terdapat nilai-nilai etos kerja yang tinggi, jujur, dan ulet. Nilai-nilai tersebut telah menyatu dengan sendirinya dalam pribadi orang Jepang dan menjadi suatu karakterisitik orang Jepang. Nilai-nilai semangat samurai akan memicu bangsa Jepang untuk giat bekerja bahkan mereka tidak akan mengeluh ketika mereka bekerja keras sehingga mereka akan memperoleh hasil yang memuaskan dari kerja keras mereka. Hasil itulah yang akan membawa bangsa Jepang menuju ke tingkat yang lebih tinggi lagi dan lebih maju dari bangsa-bangsa lainnya.
Karakteristik lainnya yang dimiliki oleh bangsa Jepang yang lahir dari tradisi orang Jepang yang mana dapat mendorong bangsa ini maju adalah : pertama, orang Jepang menghargai jasa orang lain. Hal ini dibuktikan dengan mudahnya mereka dalam mengucapkan terima kasih ( arigato ) atas bantuan orang lain. Kedua, orang Jepang menghargai hasil pekerjaan orang lain yang dilambangkan dengan ucapan otsukaresamadeshita ( maaf, anda telah bersusah payah ) Ketiga, perlunya setiap orang harus berusaha yang dilambangkan dengan ucapan ganbotte kudasai ( berusahalah! ). Keempat, orang Jepang memiliki semangat yang pantang menyerah yang dikenal dengan semangat bushido ( semangat kesatria ).
Kemajuan atas modernisasi yang dilakukan oleh Jepang yang mana tidak pernah lepas dari lekatnya nilai-nilai tradisi kemudian akan membawa Jepang kepada suatu fenomena bahwa modernisasi tidak akan membuat nilai-nilai itu hilang. Atau dengan kata lain, nilai-nilai tradisi Jepang tidak akan menghambat modernisasi dan tidak akan hilang karena akibat pengaruh modernisasi itu sendiri. Misalnya saja fenomena budaya malu yang sampai saat ini masih melekat dan telah mendarah daging dalam sikap dan budaya masyarakat Jepang. Hal ini menjadi bukti bahwa nilai tradisi itu tidak akan hilang walaupun telah masuk budaya global yang bertransformasi dengan budaya lokal karena seperti kita tahu bahwa budaya global identik dengan budaya barat, sementara di dalam budaya barat rasa malu itu tidak ada. Bagi orang Jepang, mereka akan malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar norma dan peraturan yang telah menjadi kesepakatan umum. Bahkan seringkali budaya malu berakibat pada tindakan bunuh diri orang Jepang. Di Jepang, bunuh diri merupakan lambang dari tindakan pertanggungjawaban mereka. Mereka malu karena tidak dapat berbuat yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya atau mereka malu atas tindakan yang mereka lakukan.
Selain masih melekatnya fenomena budaya malu dalam masyarakat Jepang, budaya sopan santun juga masih dimiliki oleh bangsa ini. Di zaman yang serba menggunakan teknologi ini, bangsa Jepang tetap tidak melupakan sikap sopan santunnya. Hal ini dicirikan dengan sikap membungkukkan separuh badan ke muka ketika mereka bertemu dengan orang lain. Budaya ini memang aneh jika kita melihat dari kacamata orang Indonesia karena budaya seperti ini hanya dijumpai di Jepang. Sikap membungkukkan separuh badan ke muka merupakan lambang dari menghormati orang lain. Sikap santun bangsa Jepang yang lain adalah bagaimana mereka dengan refleks mengucapkan kata maaf ( gomennasai ) dalam setiap kondisi yang dianggap merugikan orang lain.
Salah satu yang menarik dari Jepang adalah keindahan bunga Sakura yang apabila dilihat dari jauh warnanya putih, padahal warna aslinya adalah merah namun sedikit muda. Mayoritas orang Jepang tidak akan melewatkan satu waktu dalam satu tahun ketika bunga itu mekar dimana banyak orang Jepang berpiknik bersama keluarga atau orang yang dikasihi di bawah pohon Sakura. Tradisi seperti ini disebut dengan Hanami ( menonton bunga ). Bunga Sakura adalah identitas bangsa Jepang, lambang kelahiran dan awal dimulainya suatu kehidupan. Bunga Sakura yang sangat dibanggakan oleh bangsa Jepang menjadi simbol nasional bangsa ini. Penghargaan terhadap bunga Sakura juga dilakukan oleh para petinggi negara dengan cara pemakaian lambang sakura sebagai label pin pada jas para petinggi negara tersebut.
Dengan melihat kondisi di Jepang sekarang menunjukkan bahwa Jepang dapat mengalami kemajuan karena banyak meniru dunia barat termasuk juga sistem pemerintahannya yang banyak meniru sistem pemerintahan di Eropa ( sehingga muncul Diet, sebuah parlemen yang meniru parlemen Inggris), tetapi pada hakikatnya Jepang tidak akan kehilangan jati diri dan identitas kolektifnya sebagai bangsa Asia. Sehingga dalam era globalisasi ini, budaya dan tradisi Jepang tidak akan luntur termakan oleh budaya global yang ada.
Jepang yang sekarang adalah perpaduan yang harmonis antara kemajuan teknologi dengan kebudayaan kuno yang masih mengakar di dalam persendian bangsa Jepang. Dengan belajar dari bangsa ini maka dapat diambil pelajaran bahwa teknologi yang canggih dan kemajuan ilmu pengetahuan tidak cukup membawa suatu bangsa menjadi bangsa yang besar dan dihormati oleh bangsa lain, tetapi juga harus diimbangi dengan tetap memelihara sikap, prinsip dan nilai-nilai tradisi luhur yang menjadi ciri khas dan identitas bangsa tersebut.

1 komentar:

dhilaa mengatakan...

udah pernah ke jepang?