6.17.2008

Autisme

Autisme: Kenali Gejalanya dan Bagaimana Cara Penanganannya?

Ketika seorang anak sibuk dengan dunianya sendiri. Ia tidak pernah menanggapi ketika diajak bicara. Kalaupun dia berbicara, hal itu dilakukan tidak tentu arah tanpa kejelasan. Selain itu sikapnya juga sering berubah-ubah, kadang tertawa, kemudian menangis bahkan menjerit keras tanpa alasan. Biasanya anak itu menunjukkan satu perilaku yang monoton selama berjam-jam. Misalnya menggerak-gerakkan tangannya dan meremas-remas kertas. Semua itu dilakukan tanpa tujuan jelas dan tidak terarah. Anda harus berhati-hati, karena bisa jadi anak anda menderita autisme?

Apa itu Autisme? Akhir-akhir ini banyak sekali diperbincangkan tentang penyakit autisme. Penyakit ini hampir terjadi di seluruh dunia, tidak memandang latar belakang, ras, etnis, agama, dan sosial budaya. Autisme dapat terjadi pada kelompok masyarakat kaya miskin, di desa di kota, berpendidikan maupun tidak berpendidikan, kalangan artis maupun bukan artis, serta pada semua kelompok etnis dan budaya dunia. Jumlah anak yang terkena penyakit ini semakin tahun semakin bertambah. Di negara maju seperti Kanada dan Jepang, pertambahan ini mencapai angka 40% sejak tahun 1980. Di Indonesia, penyakit ini mulai menjadi perhatian kalangan orang tua.

Secara garis besar, Autisme adalah ganguan keterlambatan perkembangan kemampuan komunikasi, bicara, emosi, kepandaian, perilaku, dan ketrampilan motorik yang bedampak luas kepada anak. Pada umumnya penyandang autisme mengacuhkan suara, pengelihatan ataupun kejadian yang ada di sekitar bahkan melibatkan mereka. Apabila ada reaksi, seringkali reaksi itu tidak sesuai dengan situasi. Penderita autisme selalu menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial.

Sebagai orang tua, tentunya akan timbul kekhawatiran pada diri anda jika sang buah hati terlambat bicara atau bahkan bertingkah laku tidak lazim. Anda pasti khawatir jika anak anda menderita penyakit gangguan perkembangan ini. Untuk itu, segera deteksi dini autisme pada anak. Karena banyak penyandang autisme terutama yang ringan masih tidak terdeteksi dan bahkan sering mendapatkan diagnosa yang salah. Hal tersebut tentu saja sangat merugikan anak.

Kenali Gejala Autisme

Gejala autisme mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia tiga tahun. Secara umum, gejala paling jelas terlihat ketika anak berusia antara 2-5 tahun. Pada beberapa kasus aneh, gejala bahkan terlihat ketika anak mulai sekolah. Berdasarkan penelitian, penyakit autisme ini lebih banyak didapatkan pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Beberapa tes untuk mendeteksi dini kecurigaan autisme hanya dapat dilakukan pada bayi berusia 18 bulan ke atas.

Gejala autisme berbeda-beda dalam kuantitas dan kualitas. Penyandang autisme infantile klasik mungkin mempelihatkan gejala dalam derajat yang berat, tetapi kelainan ringan hanya memperlihatkan sebagian gejala saja. Kesulitan akan timbul jika sebagian gejala tersebut dapat muncul pada anak normal, hanya dengan intensitas dan kualitas yang berbeda.

Penyakit ini berbeda dengan penyakit lainnya, karena autisme tidak dapat langsung diketahui pada saat anak lahir atau pada screening parental yaitu tes yang dilakukan ketika anak masih berada dalam kandungan. Gejala autisme infantile timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Sebagai seorang ibu, anda harus cermat memonitor perkembangan anak dengan melihat ada atau tidak adanya beberapa keganjilan sebelum anak mencapai 1 tahun. Salah satu yang paling menonjol dan mudah untuk dikenali adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.

Namun kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autisme ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autisme yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas. Sehingga untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autisme atau digunakan standar internasional tentang autisme yakni ICD-10 1993 dan DSM-IV 1994 yang sering digunakan oleh para dokter untuk merumuskan criteria diagnosis untuk autisme. Kedua metode diagnosis tersebut memiliki substansi yang sama dan digunakan di seluruh dunia. Harus ada sedikitnya enam gejala dari 3 indikator yang ada dengan minimal 2 gejala dari satu indikator pertama dan masing-masing satu gejala di indikator kedua dan ketiga.

Indikator pertama. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada dua dari gejala di bawah ini: Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai, kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya. Tak ada empati atau tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik. Gangguan perasaan dan emosi dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali, terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sering mengamuk tak terkendali bila keinginannya tidak didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.

Indikator kedua. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, terlambat bicara atau sama sekali tak berkembang. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara nonverbal. Bila anak dapat bicara, bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru.

Indikator ketiga. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan. misalnya menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai atau benda lainnya. Sebelum umur tiga tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam interaksi sosial, bicara dan berbahasa, serta cara bermain yang monoton, kurang variatif.

Mengetahui kebenaran diagnosis autis memang tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Diagnosis Autis hanyalah dapat dilakukan melalui diagnosis klinis bukan dengan pemeriksaan laboratorium. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autis yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Sehingga diperlukan pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut. Selain itu orang tua yang paling berperan untuk ikut memonitor jalannya perkembangan anak dan memberikan laporan yang akurat berkaitan dengan perilaku anak.

Belum Pasti Mengenai Penyebab Autisme

Sejauh ini masih belum terdapat kejelasan secara pasti tentang penyebab autisme ini. Karena penyebab penyakit gangguan yang dipengaruhi oleh multifaktorial ini masih menjadi bahan perdebatan di antara para ahli dan dokter di dunia. Dalam keadaan seperti ini, strategi pencegahan yang dilakukan masih belum optimal. Sehingga saat ini, tujuan pencegahan hanya sebatas untuk mencegah agar gangguan yang terjadi tidak lebih berat lagi, bukan untuk menghindari kejadian autis.

Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.

Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autism. Hal ini mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Beberapa penelitian anak autism tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan netabolisme metalotionin. Metalotionon adalah merupakan sistem yang utama yang dimiliki oleh tubuh dalam mendetoksifikasi air raksa, timbal dan logam berat lainnya. Setiap logam berat memiliki afinitas yang berbeda terhada metalotionin. Berdasarkan afinitas tersebut air raksa memiliki afinitas yang paling kuar dengan terhadam metalotianin dibandingkan logam berat lainnya seperti tembaga, perak atau zinc. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaporkan para ahli menunjukkan bahwa gangguan metalotianin disebabkan oleh beberapa hal di antaranya adalah : defisiensi Zinc, jumlah logam berat yang berlebihan, defisiensi sistein, malfungsi regulasi element Logam dan kelainan genetik, antara lain pada gen pembentuk netalotianin.

Perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada kemungkinan penyebab autis yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme. Banyak penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang lebih besar dan luas memastikan bahwa imunisasi MMR tidak menyebabkan Autis. Beberapa orang tua anak penyandang autisme tidak puas dengan bantahan tersebut. Bahkan Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis di negara ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autis disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi.

Banyak pula ahli melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autis telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan bahkan sebelum vaksinasi dilakukan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil dari pada anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat kelahiran bayi.

Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan menyelidiki terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autis terjadi sebelum kelahiran bayi.

Saat ini, para pakar kesehatan di negara besar semakin menaruh perhatian terhadap kelainan autis pada anak. Sehingga penelitian terhadap autism semakin pesat dan berkembang. Sebelumnya, kelainan autis hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orang tua yang otoriter terhadap anaknya. Kemajuan teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab autis secara genetik, neuroimunologi dan metabolik. Pada bulan Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autis. Temuan ini mungkin dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autis sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.

Ketidakjelasan mengenai penyebab autis ini, seyogyanya orang tua khususnya kaum ibu harus benar-benar memperhatikan ketika masa kehamilan untuk mengurangi resiko terjadinya gangguan perkembangan sejak dalam masa kehamilan. Adapun cara untuk mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang sejak dalam kehamilan tersebut diantaranya adalah periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan lebih awal, kalau perlu berkonsultasi sejak merencanakan kehamilan. Melakukan pemeriksaan screening secara lengkap terutama infeksi virus TORCH (Toxoplasma, Rubela, Citomegalovirus, herpes atau hepatitis). Periksa dan konsultasi ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan secara rutin dan berkala, dan selalu mengikuti nasehat dan petunjuk dokter dengan baik.

Apabila terjadi pendarahan selama kehamilan segera periksa ke dokter kandungan. Perdarahan selama kehamilan paling sering disebabkan karena kelainan plasenta. Kondisi tersebut mengakibatkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang mengakibatkan gangguan pada otak janin. Pendarahan pada awal kehamilan juga berhubungan dengan kelahiran prematur dan bayi lahir berat rendah. Prematur dan berat bayi lahir rendah juga merupakan resiko tinggi terjadinya autism dan gangguan bahasa lainnya.

Bagi kaum ibu harus berhati-hati minum obat selama kehamilan, bila perlu harus konsultasi ke dokter terlebih dahulu. Obat-obatan yang diminum selama kehamilan terutama trimester pertama. Peneliti di Swedia melaporkan pemberian obat Thaliodomide pada awal kehamilan dapat mengganggu pembentukan sistem susunan saraf pusat yang mengakibatkan autisme dan gangguan perkembangan lainnya termasuk gangguan berbicara. Bila bayi beresiko alergi sebaiknya ibu mulai menghindari paparan alergi berupa asap rokok, debu atau makanan penyebab alergi sejak usia di atas 3 bulan. Hindari paparan makanan atau bahan kimiawi atau toksik lainnya selama kehamilan. Jaga higiene, sanitasi dan kebersihan diri dan lingkungan. Konsumsilah makanan yang bergizi baik dan dalam jumlah yang cukup. Sekaligus konsumsi vitamin dan mineral tertentu sesuai anjuran dokter secara teratur.

Harus Lebih Sabar dalam Menghadapi Anak Pengidap Autisme

Sebelum menentukan apakah anak anda mengidap penyakit autis atau tidak diperlukan konsultasi dengan dokter. Sebagai orang tua, anda jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika mencurigai adanya satu / lebih gejala pada anak anda. Hal yang paling penting adalah jangan cepat-cepat menyatakan anak anda sebagai penderita autis. Diagnosis akhir dan evaluasi keadaan anak sebaiknya ditangani oleh suatu tim dokter yang berpengalaman , terdiri dari ; dokter anak , ahli saraf anak, psikolog, ahli perkembangan anak, psikiater anak, ahli terapi wicara.

Pengetahuan orang tua terhadap autisme sangat berperan untuk meminimalisasi gejala gangguan perkembangan tersebut jika autisme ditemukan pada diri anak. Orang tua sebaiknya sadar bahwa autisme merupakan kelainan yang membuat seorang anak sulit untuk merespon komunikasi. Hal ini penting untuk disadari orang tua, karena terkadang sikap yang diperlihatkan sang anak menunjukkan ketidakpatuhan yang menyebabkan orang tua menganggapnya sebagai pembangkangan. Padahal sikap tersebut disebabkan suatu gangguan interaksi social yang dimiliki sang anak.

Anak yang menderita autisme memerlukan perhatian ekstra dari orang tua. Para orang tua harus bersikap lebih sabar untuk membimbing anak dalam berkomunikasi. Diantara mereka ada yang mengalami kesulitan untuk berkomunikasi, ada yang hiperaktif, dan ada yang pula hipoaktif. Karena itulah orang tua harus menyadari dan paham betul tentang apa yang tengah terjadi pada anak mereka yang ternyata menderita autisme.

Salah satu hal yang bisa dilakukan orang tua adalah memupuk kemampuan mereka untuk mengadakan pertukaran dengan orang lain, tapi kemajuan yang diperoleh anak-anak autisme memerlukan banyak waktu, misalnya membedakan semacam warna mungkin perlu beberapa pekan bahkan waktu yang lebih panjang. Sebagai orang tua harus mempunyai kesabaran yang lebih banyak. Bersamaan dengan itu, karena penderita autisme anak-anak kurang mempunyai daya kendali sendiri, maka, peristiwa melukai orang lain hampir terjadi setiap hari. Suatu tuntutan lain terhadap latihan tingkah laku mereka berikut, harus menampilkan seperti tidak terjadi hal tersebut ketika anak autisme muncul perilaku yang tidak baik, dengan demikian anak autisme merasa tingkah lakunya tidak berarti, sehingga kejadian itu semakin sedikit.

Orang tua memainkan peran yang sangat penting dalam membantu perkembangan anak. Seperti anak-anak lainnya, anak autisme mampu belajar melalui permainan.
Bergabunglah dengan anak ketika dia sedang bermain, tariklah anak dari perilaku dan ritualnya yang sering diulang-ulang, dan tuntunlah mereka menuju kegiatan yang lebih beragam. Tujuan dari pengobatan tersebut untuk membuat anak autisme berbicara. Tetapi sebagian anak autis tidak dapat bermain dengan baik, padahal anak umumnya mempelajari kata-kata baru melalui permainan. Sebaiknya orang tua tetap berbicara kepada anak yang autisme, sambil menggunakan semua alat komunikasi dengan mereka, baik berupa isyarat tangan, gambar, foto, lambang, bahasa tubuh maupun teknologi.

Para orang tua yang tidak memiliki cukup waktu untuk membimbing anaknya, dapat menghubungi konsultan terapi autisme. Hal ini diperlukan mengingat orang tua selalu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Terapi autis dilakukan dengan dua cara yakni terapi bicara dan terapi perilaku. Terapi ini harus dilakukan secara rutin dan berkala. Penanganan anak autis tidak dapat dilakukan secara singkat. Paling cepat dalam kurun waktu satu tahun penderita autisme mengalami banyak kemajuan. Bila tidak ditangani intensif, autisme bisa muncul lagi dalam bentuk lain pada waktu remaja. Gangguan tersebut menjelma jadi gangguan perilaku, kurang percaya diri dan introvert (pribadi tertutup).

Apa yang dikerjakan seorang terapis autisme memang tidak ubahnya seorang guru mendidik muridnya. Tetapi, terapis autisme harus berhadapan dengan murid yang cukup sulit untuk ditangani dengan pendekatan biasa. Karena itu, seorang terapis autisme mesti menyesuaikan pola pengajarannya untuk tiap anak. Terapi untuk tiap anak yang menderita autis berbeda-beda. Di klinik autisme biasanya anak akan diperiksa fisiknya terlebih dahulu oleh dokter. Lalu, perkembangan kejiwaannya dianalisis oleh psikolog.

Nah, tugas terapis autisme itu memberikan terapi sesuai dengan kurikulum atau program yang disusun berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut. Saat bekerja, terapis autisme membutuhkan seorang pendamping yang dapat membantu jalannya terapi. Pendamping ini lazimnya adalah orang yang dekat dengan sang anak, entah ibunya, baby sitter, atau pembantu. Karena, anak akan lebih mudah menyerap materi belajar kala ia merasa nyaman. Untuk anak yang mengalami gangguan bicara, terapis autisme atau terapis wicara akan mengajarkannya bicara. Mulai dari mengenal huruf, melafalkan kata-kata, hingga membentuk kalimat. Dengan begitu, pelan-pelan anak akan mengerti cara menyampaikan sesuatu yang ada di dalam pikirannya.

Sementara itu untuk anak yang hiperaktif, terapis autisme berusaha membuatnya bisa mengendalikan diri. Caranya bisa berupa pengalihan perhatian atau bahkan dipegangi. Sebaliknya, untuk anak yang hipoaktif, terapi yang dilakukan tentunya lebih banyak memberikan rangsangan agar si anak banyak beraktivitas. Mengajaknya bermain menjadi sarana paling ampuh.

Selain terapi, para orang tua juga harus memperhatikan makanan yang dikonsumsi oleh penderita autis. Karena ini sangat penting untuk menjaga perkembangan anak autis. Anak penderita autis memiliki alergi pada makanan tertentu, alergi ini juga dapat memicu gangguan otak yang sangat parah. Cara mengatur pola makanan seimbang pada penderita autis adalah:

  1. Makanan sumber karbohidrat yang tidak mengandung glutein seperti:beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioka, maizena, bihun dan soun.
  2. Makanan sumber protein yang tidak mengandung kasein: daging, telur, kerang, tahu, tempe dan kacang-kacangan.
  3. Cukup mengkonsumsi serat khususnya berasal dari buah-buahan dan sayuran.
  4. Menghindari makanan yang mengandung glutein seperti: terigu, havermouth, roti, mie, kue-kue, makaroni, spageti, cake dan biscuit
  5. Menghindari makanan sumber kasein seperti: susu, ice cream, keju, mentega dan yogurt
  6. Memilih makanan yang tidak menggunakan food additive.
  7. Hindari makanan yang mengandung phenol seperti: tomat, jeruk, pisang, anggur merah, apel, cocoa dan susu.
  8. Pemberian suplement, vitamin dan mineral seperti: vit B, vit C,z ink dan magnesium.

Dari kesemua terapi yang dilakukan dan menjaga makanan untuk penderita autisme, rasa pantang menyerah harus juga dimiliki oleh kaum orang tua. Selain kesabaran, anda para orang tua harus optimis dan tidak boleh kehilangan harapan bahwa anak penderita autisme dapat disembuhkan. Autisme memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan data terakhir, di Indonesia ada dua penyandang autisme yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup normal dan berprestasi.

Siapa yang tidak ingin anak autisnya dapat hidup mandiri, dapat berkarya & berprestasi baik serta dapat diterima di masyarakat? Kunci terpenting bagi para orang tua adalah dengan terus berdoa kepada Tuhan agar anak dapat diberi kesembuhan dan keluarga diberi kemampuan, kekuatan, kesabaran serta ketabahan dalam membesarkan dan mendampingi si anak penderita autis. Juga agar diberi jalan terbaik dalam kehidupan ini agar dapat membantu dan mendukung proses perbaikan perkembangan penderita.

10 FAKTA AUTISME:

  1. Autis bukan karena keluarga (terutama ibu yg paling sering dituduh) yang tidak dapat mendidik penderita. Anak autis tidak memiliki minat bersosialisasi, dia seolah hidup didunianya sendiri. Dia tidak peduli dengan orang lain. Orang lain (biasanya ibunya) yang dekat dengannya hanya dianggap sebagai penyedia kebutuhan hidupnya. (Baca: Teory of Mind, yang ditulis oleh seorang autis).
  2. Jarang sekali anak autis yang benar-benar diakibatkan oleh faktor genetis. Alergi memang bisa saja diturunkan, namun alergi turunan tidak berkembang menjadi autoimun seperti pada penderita autis.
  3. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak yang diakibatkan oleh keracunan logam berat seperti mercury yang banyak terdapat dalam vaksin imunisasi atau pada makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang tinggi.
  4. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya.
  5. Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan tubuhnya sendiri karena zat-zat yang bermanfaat justru dihancurkan oleh tubuhnya sendiri. Imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri pembawa penyakit. Sedangkan autoimun adalah kekebalan yang dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri yang justru kebal terhadap zat-zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya.
  6. Tubuh penderita menjadi alergi terhadap banyak zat yang sebenarnya sangat diperlukan dalam perkembangan tubuhnya. Dan penderita harus diet ekstra ketat dengan pola makan yang dirotasi setiap minggu. Karena jika terlalu sering dan lama makan sesuatu bisa menjadikan penderita alergi terhadap sesuatu itu.
  7. Autis memiliki spektrum yang lebar. Dari yang autis ringan sampai yg terberat. Termasuk di dalamnya adalah hyper-active, attention disorder, dll.
  8. Kebanyakan anak autis adalah laki-laki karena tidak adanya hormon estrogen yg dapat menetralisir autismenya. Sedang hormon testoteronnya justru memperparah keadaannya. Sedikit sekali penderitanya perempuan karena memiliki hormon estrogen yang dapat memperbaikinya.
  9. Penderita autis sebagian dapat sembuh dengan beberapa kondisi, yaitu: ditangani dan terapi sejak dini; masih dalam spektrum ringan; mengeluarkan racun atau logam berat dalam tubuh penderita (detoxinasi).
  10. Perlu pemahaman dan pengetahuan tentang autis dan ditunjang oleh kesabaran dan rasa kasih sayang dalam keluarga penderita. Terutama bagi suami-istri karena banyak kasus anak autis menjadi penyebab hancurnya rumah tangga.

1 komentar:

espito mengatakan...

wah, peduli autis juga ya.. menarik nih fen.. btw, ini tulisanmu sendiri ato repro, fen?

oh ya, ada novel tetralogi memoarik bagus soal autisme, karya Donna Williams, seorang autis dari Aussie. Judulnya "Dunia di Balik Kaca". mungkin kmu pernah baca?

...