6.17.2008

PENGARUH INSIDE DAN OUTSIDE PATRIOTISME TERHADAP KEAMANAN WILAYAH GEOPOLITIK AS ( Studi Kasus Pengeboman Oklahoma)


Berakhirnya perang dingin belum menjamin bagi terwujudnya keamanan dan perdamaian dunia. Hal ini disebabkan karena semakin berkembangnya ancaman yang bersifat non tradisional seperti, konflik antar etnis/ras, terorisme. Ancaman non tradisional tetap menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat internasional karena merupakan bentuk ancaman terhadap perdamaian dunia yang dapat berkembang menjadi ancaman yang berskala besar. Perkembangan dan kecenderungan dalam konteks strategis memberi indikasi bahwa ancaman tradisional berupa agresi atau invasi sesuatu negara terhadap negara lain sangat kecil kemungkinannya. Sedangkan kecenderungan keamanan global memunculkan ancaman baru, yakni ancaman keamanan yang bersifat non tradisonal yang dilakukan oleh aktor non-negara. Ancaman keamanan non tradisional tersebut pada awalnya merupakan ancaman terhadap keamanan dan ketertiban publik. Namun pada tingkat eskalasi tertentu, ancaman dapat berkembang sampai pada taraf yang membahayakan keselamatan bangsa.

Studi kasus yang diambil adalah peristiwa pengeboman di kota Oklahoma, AS yang mana dianggap sebagai teror yang membahayakan keselamatan bangsa AS. Hal inilah yang menimbulkan goncangan pemerintah Amerika Serikat. Pengeboman Oklahoma City adalah sebuah serangan teroris di mana gedung Federal Alfred P. Murrah, sebuah kompleks perkantoran pemerintah AS di pusat kota Oklahoma City, Oklahoma dihancurkan dengan menewaskan 168 orang. Kasus ini adalah serangan teroris domestik terbesar kedua dalam sejarah Amerika Serikat.

Bom tersebut, diletakkan dalam sebuah truk sewaan, diledakkan di jalan gedung tersebut pada 19 April 1995 pukul 09.02 pagi waktu setempat. 2.300 kg bahan peledak, dibuat dari Amonia nitrat, sejenis pupuk yang digunakan dalam pertanian, nitrometan, sejenis bahan bakar untuk mobil balap. Pelakunya adalah Timothy McVeigh, seorang veteran Perang Teluk, yang ditangkap sejam setelah kejadian tersebut setelah secara kebetulan ditangkap polisi karena mobilnya tidak mempunyai plat kendaraan dan Terry Nichols, seorang simpatisan yang anti-pemerintah.

Tujuan McVeigh melakukan peledakan ini adalah karena dia menganggap bahwa perlawanan yang dilakukannya dinilai sah apabila bertujuan untuk melawan peradaban yang dianggapnya salah sehingga arena itu patut untuk dihancurkan. Banyak pihak yang berpendapat bahwa McVeigh memang seorang aktivis anti-pemerintahan yang ekstrim. Dia seringkali mengutip dan menyinggung sebuah novel kontoversial yang berjudul The Turner Diaries yang menggambarkan aksi terorisme untuk menyerang ibukota AS, Washington sama dengan tindak kejahatan biasa yang telah ia lakukan. Sikap anti-pemerintah McVeigh ini juga disebabkan karena kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah Amerika setelah terjadinya Perang Teluk untuk mengeksekusi tawanan perang yang telah menyerah dan banyaknya pembunuhan yang dilakukan oleh tentara Amerika sepanjang rute yang dilalui ketika meninggalkan Kuwait. Sehingga dapat dikatakan bahwa unsur inside patriotisme sangat berpengaruh dalam menyebabkan munculnya gerakan teroris domestik seperti yang dipelopori oleh McVeigh.

Akibat langsung dari pengeboman Oklahoma City adalah diluncurkannya RUU Antiterorisme (Omnibus Counterterrorism Act) tahun 1995, yang disetujui oleh Kongres dan Senat, kemudian disahkan oleh Presiden Clinton. Salah satu klausulnya mengizinkan pemerintah AS untuk menggunakan bukti-bukti dari sumber-sumber rahasia dalam proses pendeportasian orang asing yang dicurigai terlibat terorisme, tanpa harus mengungkap sumber rahasia tersebut. Sehingga McVeigh akhirnya dihukum mati dengan suntikan mati di Indiana pada 11 Juni 2001.

Menurut pemerintah AS, motif peledakan tersebut adalah untuk membalaskan dendam atas kelompok Ranting Daud di Waco, Texas, yang menurut McVeigh telah dibunuh oleh agen-agen pemerintah federal. Peristiwa pengeboman itu merupakan salah satu manifestasi dari warga AS yang tidak puas dengan aparat pemerintah dan menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah semata –mata demi kepentingan warga yang tertindas dan sebagai wujud rasa nasionalisme yang tinggi yang mengarah kepada sikap patriotisme selanjutnya mempengaruhi tingkat keamanan dan ketahanan nasional suatu negara.

Pengeboman yang terjadi di Oklahoma yang mengakibatkan kematian dan tragedi diakibatkan oleh logika tindakan patriotis yang menyedihkan McVeigh mengalami trauma karena kegagalannya menjadi seorang yang berbaret hijau, teralienasi dari hubungan kasih sayang dengan orang lain dan sebagai gantinya mencintai senjata, rutinitas militer dan cara memuja orang murtad/pengkhianat pratiotis, kemudian ia mengidentifikasi seperti halnya suatu ‘kanker’ baik di dalam maupun diluar dan mencarinya sebagai seorang patriot yang mencoba memberantasnya.

Sikap yang dimiliki oleh McVeigh ini dipicu oleh ideologi rasis dan fasis. Menurutnya pengeboman itu merupakan taktik yang sah dalam perang pribadinya melawan pemerintah Federal. Dengan mengidentifikasi inside dan outside, bangsa AS dapat ditransformasikan dari alibi fasis dengan kejahatan sebagai sarana untuk mengingat rahasia keyakinan patriotisme dan seringkali rasa patriotisme ini menimbulkan kejahatan. Ketika suatu negara melakukan teror terhadap warganegaranya, maka akan sangat mungkin terjadi apabila warganegaranya itu melakukan teror terhadap pemerintah yang dipicu oleh rasa patriotisme.

Inside / outside patriotisme memberi pengaruh sangat besar pada upaya menjaga stabilitas keamanan Amerika, khususnya pasca peristiwa peledakan di Oklahoma. Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada jatuhnya ratusan korban jiwa, namun juga telah membawa perubahan pada cara pandang Amerika terhadap geopolitiknya. Peristiwa peledakan Oklahoma yang pada awalnya belum diketahui secara pasti siapa pelakunya, telah membuka mata Amerika bahwasanya musuh ataupun ancaman tidak hanya datang dari luar wilayah geografi Amerika. Karena tidak menutup kemungkinan jika pelaku peledakan tersebut adalah warga negara Amerika sendiri. Warga negara Amerika yang telah menjelma sebagai teroris bagi negaranya sendiri sebagai konsekuensi dari keyakinan ataupun ideology yang diyakininya.

Kenyataan yang kemudian terjadi di lapangan menunjukan bahwa memang warga negara Amerika Serikat sendirilah yang melakukan serangan di Oklahoma, dialah Timothy McVeigh seorang veteran Perang Teluk. Apa yang dilakukan oleh McVeigh merupakan bentuk dari inside patriotism. Bahwa tindakannya dia anggap sebagai bentuk dari heroisme, meskipun itu bertolak belakang dengan pemerintahnya sendiri. Dia menganggap bahwa ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah adalah bentuk dari tindakan terorisme yang sebenarnya.Bahkan Pierce sebagai penulis novel The Turner Diaries mengatakan bahwa Presiden Cilinton dan Janet Reno, Jaksa Agung adalah sebenar-benarnya teroris.

Sebelum serangan di Oklahoma, Amerika masih beranggapan bahwa ancaman hanya berasal dari negara lain. Pasca Perang Teluk, Amerika yang semakin aktif dalam melakukan agresi terhadap berbagai negara dengan berbagai macam alasan, akan tetapi semuanya telah berubah, Amerika Serikat perlu mengubah paradigma kebijakan keamananya yang selama ini hanya berkonsentrasi pada ancaman dari luar, menjadi adanya sebuah penyeimbangan antara keamanan dalam negeri dan keamanan luar negeri.

Matthew Sparke menyatakan bahwa pola hubungan antara inside dan outside sangat jelas saling berkaitan. Namun, hegemonik geopolitik itu selama ini terbagi atas outside yang berasal dari inside budaya populer bangsa Amerika, yaitu dua peristiwa yang secara umum dipandang sebagai sesuatu yang tidak ada kaitannya. Padahal diantara keduanya memiliki kaitan yang erat, sebagai penjelasnya adalah bahwa setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah federal AS akan mendapatkan tanggapan yang berbeda dari pihak luar atau dalam hal ini outside. Setidaknya bahwa tindakan dan aksi ancaman yang datang dari luar sebetulnya disebabkan dari kebijakan-kebijakan yang luar negeri yang datang dari AS (dari sisi inside AS) sendiri.

Lebih dari itu peristiwa Oklahoma menunjukan bahwa kebijakan domestik yang tidak populerpun akan melahirkan musuh dari dalam. McVeigh yang tidak puas terhadap kebijakan domestik pemerintah federal ingin menunjukan bahwa dirinya adalah patriot, kecintaannya pada tanah airnya menggerakannya untuk melakukan aksi protes terhadap pemerintah dengan melakukan peledakan, yang baginya itu dianggap sebagai bentuk heroisme dirinya terhadap tanah airnya akibat ketidakadilan yang kemudian dianggap sebagai terorisme yang dilakukan oleh pemerintah terhadap warga negaranya sendiri.

Dalam peristiwa tersebut teori hearthland dipakai, dimana yang menjadi sasaran dari aktivitas pengeboman adalah jantung kota Oklahoma City. Kalau dahulu para pemimpin dunia fasis seperti Hitler mengejar penguasaan terhadap wilayah jantung Eropa untuk menguasai dunia, maka pada saat ini untuk menguasai dunia yang dicoba dikuasai adalah wilayah-wilayah jantung suatu negara, sebagaimana yang dilakukan oleh para teroris. Taktik ini dipakai oleh para teroris karena mereka sadar bahwa menggunakan lokasi dan tempat yang sama sebagai sasaran teoris akan sangat berbahaya. Mereka lebih cenderung menyukai tempat yang berbeda dengan asumsi penting bahwa tempat yang diserang adalah merupakan wilayah jantung atau pusat, baik itu wilayah jantung kota maupun wilayah jantung sebuah negara. Suwandono, Pembantu Dekan I Fisipol UMY mengatakan bahwa Amerika Serikat sebagai daerah nonperang pernah mengalami peristiwa pengeboman dahsyat, namun situs pengeboman memiliki kecenderungan beralih dari kota Oklahoma ke Washington, tetapi daerah yang diserang cenderung sama yaitu sebagai daerah jantung atau pusat perdagangan dunia, baik Oklahoma maupun Washington.

Cara pandang baru ini tentunya harus mendapatkan perhatian khsusus karena, wilayah jantung dunia yang dahulunya dianggap hanya berada di wilayah sekitar Eropa saat ini telah menyebar ke seluruh pusat-pusat kota suatu negara. Cara pandang ini adalah pengaruh dari inside patriotism dimana kebijakan suatu pemerintahan yang tidak populer akan memunculkan bibit aksi teroris dari dalam negeri suatu negara. Warga negara yang merasa hak-haknya tidak dipenuhi atau bahkan dicurangi oleh pemerintah yang berkuasa di masa sekarang dan masa depan dapat menjadi ancaman serius bagi suatu pemerintahan negara.

Studi kasus Oklahoma memberi gambaran yang begitu jelas bagi kita bahwa Amerika harus mengubah cara pandangnya terhadap ancaman keamanan wilayah geopolitiknya. Hal ini terkait dengan persoalan globalisasi, bahwa tindakan terorisme sudah tidak mengenal batas-batas geografi suatu negara. Amerika yang bukan daerah perang saja bisa menjadi sasaran tindakan perang atau aksi teroris. Semakin kuatnya hubungan inside-outside dalam artian hubungan domestik dengan internasional, berpengaruh pada mobilitas tindak kejahatan, artinya tidak hanya penyebaran teknologi saja. Jika globalisasi mengakibatkan deteritorialisasi (melemahnya batas-batas teritorial) pada negara maka isu pertahanan domestik harus dipertimbangkan secara lebih serius. Karena kondisi ini akan mengakibatkan tumbuh suburnya inside patriotism sebagai akibat kuatnya hubungan inside-outside. Maka kemudian tidak heran jika Christie mengatakan bahwa diskursus pertahanan dalam negeri (homeland defense) telah banyak dipertanyakan oleh komunitas pertahanan masyarakat Amerika Serikat untuk menjadi konsep baru yang sangat dibutuhkan dalam dunia global.

1 komentar:

espito mengatakan...

yach, fenomena inside-outside nationalism ini nampaknya juga mulai menguat di negara2 Uni Eropa. di saat batas2 teritori mereka luruh sembari diikuti peleburan kedaulatan/kewenangan beberapa institusi politik domestik ke dalam institusi2 UE, yg terjadi adalah menguatnya sentimen nasionalisme (yg bahkan cenderung defensif ato bahkan mungkin mirip chaunvinistik) di kalangan masyarakat di ngr2 UE itu sendiri, terutama wilayah eropa barat. sbg misal, di inggris muncul sentimen/kecenderungan utk menolak masuk dan beredarnya produk2 otomotif & elektronik dari jerman secara bebas krn akan berpeluang membuat produk2 serupa bikinan dlm negeri menjadi kalah saing (yg ini berarti akan membuat kesan bangsa UK inferior di hadapan bangsa jerman).

ini mrp situasi yg paradoksal & kontradiktif tentunya di tengah uforia globalisasi yg diyakini sbgian kalangan akan meleburkan umat manusia ke dlm "satu dunia" (spt cita2 Kosmopolitanisme, misalnya)..